KOMPAS
Rabu, 28 Maret 2007 

 
"Model of", "Model for", dan Warisan Geertz 


Pengantar Redaksi 

Diskusi bertema "Clifford Geertz dan Warisannya bagi Indonesia" yang diadakan 
Redaksi Opini Kompas, Lingkar Muda Indonesia (LMI), dan Bentara Budaya Jakarta 
(BBJ) telah dilangsungkan 30 November 2006 lalu dengan pembicara Dr Ignas 
Kleden, Dr Francisia SSE Seda, dan Dr PM Laksono yang dipandu Sri Palupi. 
Laporan hasil diskusi disajikan di bawah ini dan di Halaman 7. 

Hari Kamis, 29 Maret 2007 besok, Redaksi Opini Komp[as dan LMI kembali 
mengadakan diskusi bertema "Jakarta dan Kelelahan Daya Dukungnya: Tata Ruang 
Dikalahkan Tata Uang", yang akan menampilkan pembicara Prof Dr Gumilar R 
Somantri, Suryono Herlambang, Jo Santoso, dan Marco Kusumawijaya, dengan 
moderator Donny Gahral Adian. Diskusi akan berlangsung di gedung BBJ, Jalan 
Palmerah Selatan, pukul 14.00-18.00. Para penulis Kompas dan peminat masalah 
tata kota/ruang dipersilakan hadir. 

Pembangunan demikian banyak mall di Jakarta jelas berguna untuk memudahkan 
belanja dan rekreasi kaum muda (model for), akan tetapi apakah pembangunan mall 
itu mencerminkan (model of) kekuatan ekonomi rakyat Indonesia? Pembukaan 
jalan-jalan baru dan bus way di Jakarta jelas memudahkan orang bepergian dalam 
kota (model for) tetapi apakah itu mencerminkan (model of) konsep orang kota 
tentang waktu? 

Dua pertanyaan kritis di atas diajukan seorang pembicara dengan menerapkan 
konsep makna dan simbol 'model tentang' (model of) dan 'model untuk" (model 
for) yang dinarasikan oleh Clifford Geertz, antropolog yang banyak melakukan 
penelitian di Indonesia pada dekade 1950- 1960an. Geertz telah tiada, namun 
warisan pemikirannya tetap relevan bagi Indonesia hingga dewasa ini. 

Dikatakan, unsur untuk membentuk kebudayaan adalah makna dan simbol yang 
menjelmakan pengetahuan tersebut sehingga dapat dikomunikasikan. Sedang fungsi 
kebudayaan adalah membantu sekelompok orang untuk menentukan sikapnya terhadap 
dunia berdasarkan sistem makna dan pengetahuan yang ada padanya. 

Hubungan di antara konsepsi dan simbol yang menyampaikannya bersifat ganda, di 
mana suatu simbol dapat berfungsi sebagai "model tentang" (model of) 
--penyesuaian suatu sistem simbolik dengan sistem non-simbolik (fisik, sosial) 
yang sudah ada sebelumnya-- dan/atau sebagai "model untuk" (model for) 
--penyesuaian sistem non-simbolik yang masih harus diadakan (fisik, sosial) 
dengan suatu sistem sim- bolik yang sudah ada. 

Suatu simmbol kebudayaan selalu merupakan perpaduan antara model of dan model 
for. Contoh paling jelas adalah peta dan tata ruang Jakarta dan sekitarnya yang 
di persoalkan di atas. 

Kontribusi terbesar Geertz 

Kontribusi pemikiran terbesar Geertz terhadap ilmu-ilmu sosial di Indonesia dan 
dunia, khususnya antropologi dan sosiologi, adalah keberaniannya melawan suatu 
tradisi besar di dalam ilmu sosial, yaitu tradisi positivisme yang sarat dengan 
pendekatan kuantitatif. Ini tertuang dalam bukunya The Interpretation of 
Cultures. 

Seandainya Geertz dan pendekatan Antropologi Interpretif tak ada, mungkin kita 
akan tetap membaca buku-buku teks antropologi dan sosiologi yang memperlakukan 
budaya sebagai suatu gejala unversal dengan narasi besar tanpa melihat 
bagaimana secara kontekstual dan secara historis kultur-kultur lokal itu 
'dibangun'. 

Sumbangan Geertz lain yang juga amat penting adalah bahwa untuk mengembangkan 
teori itu bukan untuk melakukan kodifikasi keteraturan-keteraturan sosial yang 
bersifat abstrak, melainkan untuk memungkinkan terjadinya thick description, 
yang selain merupakan teknik pengumpulan data lapangan melainkan juga suatu 
proses metodologis dalam penelitian lapangan etnografis. Ia berusaha terus 
memahami pemaknaan sim bolik informannya. Baginya, teori tidaklah bertujuan 
untuk menggeneralisasikan berbagai studi kasus hasil penelitian lapangan. 

Di sinilah letak sangat kontroversialnya pendapat Geertz, karena bagi para 
ilmuwan yang berpandangan lain, karena di dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya 
kalau suatu penelitian lapangan itu tidak bisa digeneralisasi maka sulit untuk 
membangun teori di atas hasil penelitian lapangan tersebut. 

Lalu apakah Geertz berhasil atau tidak untuk memberikan alternatif baru di 
dalam teori dan metode ilmu-ilmu sosial? Itu masih tanda tanya besar Kendati 
demikian kontribusi Geertz untuk pendekatan berbeda tetap diakui oleh kalangan 
akademisi. Karenanya yang lebih tepat bukan istilah "warisan" Geertz , 
melainkan bagaimana relevansi dan signifikansi pemikiran Geertz bagi 
perkembangan ilmu sosial pada umumnya dan apakah ia dapat bertahan di masa 
depan. 

(IRWAN JULIANTO) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke