http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/28/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Indonesia Masih Abaikan Potensi Kelapa

 

[JAKARTA] Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa terluas di dunia namun 
kelapa belum menjadi komoditas unggulan. Padahal, potensi ekspor sangat besar 
dan dapat mensejahterakan banyak petani. Ekspor produk kelapa Indonesia pada 
2005 senilai US$ 529,8 juta, masih kalah jauh dari Filipina yang mencapai US$ 
964,4 juta dengan luas lahan lebih kecil. 

"Pemerintah masih mengabaikan buah kelapa yang potensi ekspornya sangat besar. 
Dari buah kelapa bisa dihasilkan berbagai macam komoditas penting. Pabrik 
pengolah seharusnya dibangun di sentra-sentra kelapa yang tersebar di banyak 
daerah," ujar Presiden Direktur PT Tulus Agro, Charly Angkriwan, kepada 
Pembaruan, di Jakarta, Selasa (27/3). 

Dikatakan, pohon kelapa tumbuh hampir di seluruh hamparan pulau-pulau di 
Indonesia. Data 2005 menunjukkan, total areal tanaman kelapa mencapai 3,88 juta 
hektare (ha) tersebar di Sumatera (34,5 persen), Jawa (23,2 persen), Sulawesi 
(19,6 persen), Bali, NTB, dan NTT (8,0 persen), Kalimantan (7,2 persen), Maluku 
dan Papua (7,5 persen). 

Menurutnya, kawasan Indonesia timur, terutama Sulawesi, merupakan wilayah 
dengan potensi kelapa yang sangat besar dan belum banyak dikelola. Otonomi 
daerah yang sedang digalakkan adalah peluang baik memanfaatkan sumber daya 
kelapa sebagai komoditas andalan daerah. 

"Jika dibandingkan dengan negara penghasil kelapa lainnya seperti India, 
Malaysia, dan Filipina, usaha pengelolaan kelapa secara profesional di 
Indonesia masih sedikit. Potensi kelapa di Filipina, India, dan Sri Lanka 
sebenarnya sudah semakin berkurang. Ini peluang bagi Indonesia," tutur dia. 

Areal perkelapaan Indonesia, lanjut Charly, masih terbesar di dunia yakni 3,88 
juta ha (31,2 persen) dari total areal dunia sekitar 12 juta ha. Urutan kedua, 
Filipina seluas 3,1 juta ha (25,8 persen), lalu India 1,9 juta ha (16 persen), 
Sri Lanka 442.000 ha (3,7 persen), Thailand 372.000 ha (3,1 persen), dan negara 
lainnya 2,4 juta ha (20,2 persen). 


Nilai Tambah 

Charly mengemukakan, dari pohon kelapa bisa dihasilkan berbagai produk yang 
dibutuhkan konsumen, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Buah kelapa 
yang terdiri dari air, daging, sabut, dan tempurung dapat diolah menjadi 
berbagai jenis produk bernilai tambah bagi masyarakat. 

Jenis produk yang bisa dihasilkan dari buah kelapa, antara lain dagingnya 
menjadi kopra putih, minyak kelapa, biodiesel, santan, dan kelapa segar. Sabut 
kelapa bisa menjadi serat untuk karpet, keset, geotekstil, jok kendaraan, 
mebel, pengganti palet kayu dan plastik, matras, sampai tali. 

"Sabut kelapa bisa menjadi media tanam dan dashboard. Air kelapa bisa dijadikan 
nata de coco, cuka, minuman kesehatan, sirup, sampai kecap. Tempurung kelapa 
sangat cocok untuk karbon aktif guna memfilter air, bisa dijadikan arang 
bermutu tinggi, dan kerajinan maupun cindera mata, juga absorben pengolahan 
limbah air dan pengolahan emas," tuturnya. 

Diharapkan, pemerintah memperhatikan petani kelapa dan menggerakkan potensi 
kelapa sebagai produk unggulan. Selain itu, perlu dilakukan kerja sama berbagai 
pihak, mulai dari petani kelapa, pemerintah, dan pengusaha ataupun investor 
untuk menciptakan nilai tambah kelapa yang sangat tinggi untuk konsumen di 
dalam negeri maupun diekspor. 

Charly menyarankan, dijalankan pengolahan kelapa terpadu, sehingga dapat 
meningkatkan produktivitas, mengundang banyak investor, dan menguntungkan 
petani. Hampir semua (98 persen) perkebunan kelapa dimiliki petani. 

Direktur Budidaya Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Mukti Sarjono, mengatakan, 
yang menjadi primadona ekspor sekarang baru kelapa sawit, karet, kakao dan 
kopi. Sementara kelapa belum menjadi primadona ekspor karena kebutuhan di dalam 
negeri saja sangat besar. 

Produk kelapa eskpornya masih didominasi untuk kopra saja. Namun, kata Mukti, 
Deptan tetap mengembangkan kelapa terpadu dan terus melakukan peremajaan 
perkebunan kelapa tua, termasuk juga produk-produk kelapa yang mempunyai nilai 
ekonomi tinggi antara lain, minyak kelapa murni, tempurung dan sabut kelapa. 
[S-26] 


Last modified: 27/3/07 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke