http://www.indomedia.com/bpost/032007/29/opini/opini4.htm
Mengapa Rakyat Cepat Marah KAPAN kita tidak marah? Pertanyaan bernada kesal ini dilontarkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika menanggapi kecaman masyarakat atas keterlibatan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin dalam upaya penarikan uang Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto melalui rekening Depkumham. Uang sekitar Rp100 miliar berhasil ditarik dari sebuah bank di Inggris ke Indonesia, yang sebelumnya ditahan oleh bank di sana karena dikhawatirkan merupakan uang bermasalah. Wapres bertanya: "Mengapa orang selalu marah, uang lari ke luar negeri marah, masuk ke dalam negeri juga marah." Rakyat kita sekarang memang sangat peka. Setiap hari di seantero penjuru Tanah Air ada saja orang berdemo, marah dan kesal. Tapi kemarahan itu bukannya tanpa sebab. Misalnya, PP 37/2006 yang memberikan uang rapel kepada pimpinan dan anggota DPRD, tidak saja membuat rakyat marah kepada pemerintah karena keputusannya dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Tetapi, lebih marah kepada anggota DPRD yang berdemo ke Jakarta hanya untuk menuntut uang rapel, sementara rakyat tidak mampu beli beras. Contoh lain, kasus lumpur Lapindo tidak saja membuat marah warga yang kehilangan tempat tinggal karena rumahnya terbenam lumpur, tetapi masyarakat yang lain juga gemas oleh penyelesaian yang tidak segera tuntas. Rakyat juga marah karena korupsi tidak kunjung berhenti, para penegak hukum makan suap. Warga melawan karena tanahnya diserobot, atau lapak tempatnya berdagang digusur. Memaki-maki DPR, karena tidak memperjuangkan aspirasi rakyat malah minta dibelikan laptop seharga Rp12,1 miliar. Menyumpahi partai politik, karena ternyata hanya bisa menebar janji. Marah kepada pemerintah karena tidak bisa mengatur urusan transportasi sehingga sering terjadi kecelakaan di darat, laut maupun udara. Marah sekarang memang bukan sesuatu yang aneh. Bukan karena rakyatnya menjadi pemarah, tetapi situasi di negeri ini memang memungkinkan orang menjadi gampang marah. Tidak ada keselarasan hidup, tidak ada harmonisasi karena masing-masing ingin menang sendiri. Contoh, Menteri Sekretaris Negara Yusril Izha Mahendra dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjadi saksi atas kasus yang melibatkan mantan anak buahnya semasa menjabat Menteri Hukum dan Perundang-undangan, tidak mau terima dan ganti melaporkan Ketua KPK melakukan dugaan penyelewengan. Orang belum habis pikir terhadap tindakan sang menteri, tiba-tiba Presiden Yudhoyono memanggil keduanya dan menyelesaikannya secara adat. Cara seperti itu mencerminkan adanya kepemimpinan yang kurang tegas. Masalah hukum harus diselesaikan secara hukum, biarkan menteri dan ketua KPK diproses secara hukum bukan diselesaikan sendiri. Ada lagi contoh lemahnya kepemimpinan, yakni ketika presiden membentuk Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R). Lembaga ini tidak bisa berjalan karena diprotes oleh wapres dan presiden tidak meneruskannya. Pembawaan yang santun, dingin dan tenang seharusnya tidak mengurangi wibawa dan ketegasan presiden, bukan sebaliknya. Kesan yang muncul, wapres sepertinya lebih kuasa dari presiden. Masih ada lagi contoh kekesalan rakyat atas tindakan pimpinan nasional. Misalnya, pernyataan wapres yang terkesan melindungi Menkumham Hamid Awaludin yang memasukkan kembali uang Tommy melalui Departemen Hukum dan HAM seperti kita kutip di awal tulisan ini. Walaupun uang itu tidak bermasalah, orang tetap bertanya-tanya. Apalagi menurut informasi, ada hal yang dilanggar Menkumham. "Jangan sampai ada kesan pernyataan wapres itu merupakan intervensi terhadap upaya penegakan hukum dan melindungi seseorang," kata Ketua Komisi III DPR Trimediya Panjaitan (Kompas 26/3/2007). Masih menurut Kompas, Koordinator Badan Pekerja Indonesia Corupption Watch (ICW) Teten Masduki menyesalkan Presiden Yudhoyono yang bertemu pengusaha Anthony Salim. Karena, Anthony tengah diselidiki polisi terkait dugaan penggelapan aset Badan Penyehatan Perbankan Nasional 1998-2000. "Bagaimana ingin membasmi korupsi jika orang yang diperiksa pun diterima presiden," ujar Teten. Kesimpulannya, rakyat tidak bisa hanya disalahkan sebagai cepat marah. Kehidupan susah, dihadapkan pada situasi yang nyaris tak tertolong, masih ditambah sepak terjang para pemimpin yang bikin kesal. Kalau sudah begitu, bagaimana rakyat tidak cepat marah? [Non-text portions of this message have been removed]
