http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16963&Itemid=75

      Rabu, 28 Maret 2007  

      Bisakah Kita Berdisiplin?

      Oleh: Socrates*)

      INILAH suasana dalam sebuah acara peresmian. Dalam undangan, tertera 
acara dimulai pukul 09.00 WIB. Tetapi, sudah hampir satu jam berlalu, acara 
belum juga dimulai. Beberapa undangan yang datang tepat waktu, mulai gelisah. 
Saat sang pejabat tiba, tak nampak sedikitpun rasa bersalah di mimik wajahnya. 
Malah cengengesan. Kenapa kita sulit sekali berdisiplin? 


      Banyak contoh di sekitar kita, betapa kita tidak disiplin terhadap aturan 
yang kita buat sendiri. Mulai dari terlambat bangun dan bekerja, membuang 
sampah sembarangan, menerobos antrean dan tidak menaati aturan berlalu lintas. 
Karena kita tidak terbiasa disiplin itulah, muncul istilah jam karet. 


      Akibatnya, pada suatu acara, dianggap biasa molor setengah jam hingga 
satu jam dari acara yang sudah diagendakan. Kebiasaan tidak disiplin, menjalar 
bagai kuman yang menjangkiti semua orang. Celakanya, para pemimpin pun tidak 
memberikan contoh yang baik. 


      Malah, ada pejabat yang punya kebiasaan jelek. Datang paling lambat, dan 
pulang tergesa-gesa sebelum acara berakhir. Begitu ia bangkit dari 
duduknya-biasanya dengan alasan sibuk atau ada acara lain-tamu-tamu lain pun 
ikut pergi, karena merasa ketidakhadiran pejabat tersebut, acara yang masih 
tersisa sudah tak ada artinya lagi. Tinggal kepiawaian master of ceremony-lah 
agar acara tidak bubar begitu saja. 


        Padahal, dari seorang pemimpin diharapkan akan menjadi suri tauladan 
soal kedisiplinan. Sebab, disiplin bisa seperti wabah, yang bisa ditularkan 
kepada siapa saja. Sebaliknya, kemalasan juga menular kepada yang lain. 
Mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama 
bagi seorang pe mimpin. Semua pe-mimpin besar memahami bahwa nomor satu adalah 
tanggungjawab dan disiplin pribadi.  Filsuf Yunani Aristoteles menyebutkan, 
kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu  keunggulan 
bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan. 


      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin adalah kepatuhan kepada 
aturan atau tata tertib. Disiplin diyakini akan membuat kita lebih tertib, 
lebih taat aturan dan lebih maju. Namun, ada juga yang mengartikan disiplin 
sebagai tindakan kekerasan. Misalnya, munculnya istilah disiplin militer. 
Padahal, apa jadinya kalau tentara tidak disiplin?


      Kata disiplin berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti 
"menggenggam" atau "memegang erat". Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang 
yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan 
yang membawanya ke-pada kesuksesan atau kegagalan. 


      John Maxwell mendefinisikan "disiplin" sebagai suatu pilihan dalam hidup 
untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita 
inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu, 
disiplin akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang 
kita inginkan de-ngan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!


      Bisakah, kita warga Batam yang notabene bisa belajar banyak tetangga kita 
di Singapura yang hanya sepelemparan batu dari Batam? Jawabnya, bisa. Sebab, 
belajar dan meniru hal-hal yang baik untuk mencapai kemajuan, tidak perlu malu. 
      Sehari-hari, kita sering melihat sikap mental menerabas dan lama-lama 
menjadi kebiasaan yang terus terulang. Kita mengabaikan fungsi hutan lindung 
dan baru sadar ketika dikepung banjir. Kita membiarkan jalan berlubang yang 
merenggut puluhan nyawa sia-sia. Kita menyaksikan prilaku oknum politisi dan 
pejabat, yang konon katanya memegang amanah rakyat, ternyata hanya mementingkan 
diri dan kelompoknya sendiri. 


      Pakar antropologi Kuncaraningrat menyebutkan, mental menerabas bangsa 
kita adalah nafsu untuk mencapai tujuan secepatnya, dan tidak rela melakukan 
sesuatu selangkah demi selangkah. Sifat mental tersebut sejalan dengan 
sifat-sifat negatif lainnya, seperti sering melanggar disiplin, suka 
mengabaikan tugas, serta mere-mehkan mutu pekerjaan.
      Sifat menerabas itu, tercermin dari kebiasaan mendapatkan sesuatu dengan 
jalan pintas, tanpa perduli dengan aturan, etika dan hukum. Sikap oportunis 
para elit politik, mau menang sendiri, menghalalkan segala cara kini dianggap 
sebagai sesuatu yang lumrah. Akibatnya, praktik kolusi, korupsi, nepotisme, 
suap menyuap dianggap biasa da-lam melicinkan tujuan yang diinginkan. 


      Celakanya, malah ada yang berpendapat, yang haram saja susah 
mendapatkannya, apalagi yang halal. Batas etis dan tidak etis, legal dan 
illegal bahkan manusiawi dan tidak manusiawi menjadi semakin kabur. Penegakan 
hukum kerap hanya sebatas retorika. Padahal, masyarakat semakin kritis dan 
pandai. Mereka sangat paham adanya diskriminasi dan hukum yang tebang pilih.  
Hukum masih hanya berpihak pada elit kekuasaan. 


      Sifat mental menerabas, kata Kuncaraningrat, berpangkal dari 
ketidaksabaran dan lemahnya pengendalian diri, sehingga memun-culkan tindakan 
indisipliner (tidak disiplin) sehingga melanggar nor-ma-norma hukum serta 
norma-norma sosial yang berlaku. Padahal, banyak kisah betapa disiplin mampu 
memberi dampak yang revo-lusioner. Bangsa-bangsa di dunia menjadi besar berkat 
disiplin. 


      Tidak jarang, disiplin ditumbuhkan melalui hukuman. Kisah pang-lima Sun 
Tzu, panglima Tiongkok yang juga ahli strategi perang yang mendisiplinkan 150 
selir Kaisar bisa jadi contoh.  Sun Tzu memulai dengan pelajaran baris 
berbaris. Kepada Kaisar ia meminta kewe-nangan penuh dan Kaisar setuju. 


      Sun Tzu memilih tiga selir yang paling dikasihi Kaisar sebagai pelatih 
baris berbaris dan dididiknya secara khusus. Kendati sudah diberi instruksi 
dengan jelas, yang terjadi adalah kekacauan.  Ratusan selir itu tertawa 
cekikikan. Sang panglima lalu memberi instruksi lagi dan bertanya, apakah ada 
perintahnya yang kurang jelas. Lagi-lagi kacau. Namun, tiga selir yang sudah 
dilatih itu berkata, baris berbaris urusan gampang. 


      Esoknya, kekacauan tejadi lagi. Sun Tzu mengumpulan ketiga selir utama 
setelah membubarkan barisan.  Inilah teori siasat Sun Tzu. Seseorang melanggar 
perintah pimpinan karena ia tidak tahu tujuan perintah tersebut. Jika tujuan 
jelas, namun masih terjadi pelanggaran mungkin instruksinya tidak jelas. Jika 
tujuan dan instruksinya jelas, namun pelanggaran masih berlangsung juga, maka 
pimpinannya yang tidak becus. Pimpinan itulah yang harus diberi sanksi.


      Kepala tiga selir komandan yang gagal itu dipancung di depan Kaisar dan 
ratusan selir lainnya. Dan Sun Tzu berhasil. Kaisar kini tak pusing lagi dengan 
soal kedisiplinan para selirnya. Ia memang kehilangan tiga selir kesayangannya, 
tapi kini ia memiliki 147 selir yang jauh lebih dikasihinya.


      Disiplin bukan hanya tepat waktu. Selain memiliki dimensi sosial dan 
kultural ia juga memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada disiplin mati tanpa 
toleransi dan berorientasi pada hasil, ada pula disiplin yang kontekstual 
mengacu pada budaya suatu komunitas yang mengenal toleransi, dilakukan secara 
bertahap. Sebuah pohon bermula dari biji yang kecil. Perjalanan sejauh seribu 
mil berawal dari sebuah langkah kecil,  kata Lao tse.


      Disiplin kontekstual dimulai dari lingkungan yang paling inti dan meluas 
sehingga menjadi nilai dan gerakan budaya.  Mulai dari yang kecil, dari diri 
sendiri dan lakukan sekarang, pesan Aa Gym. Disiplin adalah sebuah proses 
prilaku. Patuh terhadap perintah bentuk disiplin jangka pendek. Disiplin 
terhadap diri sendiri dan, meng-hormati hak orang lain dan punya tanggungjawab 
sosial adalah hake-kat dari disiplin. 


      Disiplin harus diawali dalam keluarga di rumah. Namun, penegakan disiplin 
tidak melulu dengan hukuman. Hukuman akan menimbulkan persepsi penderitaan. Dan 
tidak sedikit orang tua yang membiarkan anaknya "bahagia" tanpa disiplin. Anak 
yang dibesarkan dengan alasan kasih sayang, tapi serba boleh akan menghasilkan 
anak yang liar. Yang dibesarkan dengan alasan kasih sayang tapi serba tidak 
boleh, menghasilkan anak yang frustrasi berkepanjangan. 


      Sementara, anak yang dibesarkan dengan kekerasan tapi serba boleh akan 
menghasilkan anak yang binal. Sedangkan anak yang dibesarkan dengan kekerasan 
tapi serba tidak boleh akan minder dalam pergaulannya. Kuncinya adalah, perlu 
dialog antara anak dan orang tua, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang 
baik dan buruk.   


      Bagaimanapun, disiplin sebuah bangsa dimulai dari kelompok so-sial yang 
paling kecil, yakni keluarga.  Namun, sangat sering kita de-ngar, disiplin 
dianggap sepele sehingga muncul istilah jam karet. Pa-dahal, disiplin bisa kita 
tegakkan kalau menghargai hal-hal yang di-anggap sepele. 


      Misalnya, disiplin tepat waktu dan tidak terlambat datang ke sebuah 
acara. Jika hal ini dianggap serius, mungkin kritikan seorang aktivis LSM 
terhadap pejabat yang suka terlambat, akan ditanggapi secara positif. Bukan 
sebaliknya, dengan emosi sehingga akhirnya terjadi insiden perkelahian di 
sebuah acara pemerintah. 


      Sebab, jika pemimpin tidak disiplin, anak buahnya pasti ikut-ikutan tidak 
disiplin. Toh, terlambat lima menit dianggap biasa dan akhirnya jadi kebiasaan. 
Dengan berdisiplin, pemimpin atau pejabat akan mendapat respek dari masyarakat 
yang sudah tak sabar menung-gunya. Sebaliknya, bagi siapa saja yang mengadakan 
acara, segera saja dimulai acara seperti tertera pada undangan. Kalau pun 
pejabat penting itu terlambat, biar saja ia dipermalukan oleh 
ketidakdisi-plinannya. Hitung-hitung memberi pelajaran agar bisa lebih disiplin 
di masa depan. ***

      *)Socrates
      wartawan tinggal di Batam.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke