--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> RI dan Resolusi DK PBB
> Sikap RI yang mendukung Resolusi DK PBB No 1747 tentang persoalan 
> nuklir Iran menuai protes keras dari berbagai kalangan di Indonesia. 
> Di DPR lebih dari seratus orang telah menandatangani interpelasi 
> mempertanyakan keputusan tersebut. Mereka memprotes keputusan itu 
> yang dianggap sebagai tidak solidaritas dengan dunia Islam dan lebih 
> memihak dunia Barat. 



Protes ini hanya satu saja dari sekian banyak bukti2 lain bahwa
masyarakat Islam Indonesia tidak mengerti dunia Islam.

Padahal RI mendukung resolusi PBB itu justru dalam mendukung dunia
Islam mengikuti Arab Saudia.

Semua dunia Islam juga mendukung resolusi PBB ini, apakah kita enggak
boleh solider dengan dunia Islam yang mendukung resolusi ini????

Lalu dunia Islam mana yang mereka maksudkan mendukung nuklir Iran??? 
Justru yang ketakutan kepada Nuklir Iran itu adalah negara2 Islam
sendiri atau dunia Islam itu sendiri.  Iran itu sebenarnya ingin
menggunakan nuklir itu untuk mengambil alih dunia Islam dari Sunny
menjadi Syiah.  Dan Amerika secara terselubung berada dibelakang
nuklir Iran itu sendiri dan pura2 menentangnya agar hubungan dengan
Arab Saudia tidak menjadi terganggu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





















Indonesia dianggap telah melenceng dari politik bebas aktif.
> 
> Keputusan pemerintah RI yang memancing protes dari banyak pihak itu,
rupanya, kurang disosialisasikan dengan baik. Itu yang menyebabkan
terjadinya pendapat kurang pas dengan fakta dan realitas. Keberhasilan
para diplomat RI di New York tidak mendapatkan apresiasi yang memadai.
Sesungguhnya apa yang melatarbelakangi kemarahan sebagian kalangan
terhadap sikap RI tersebut?
> 
> Dalam sebulan ini, RI dua kali mengambil sikap penting dalam voting
di DK PBB. Pertama, Januari lalu yang menyatakan abstain terhadap
resolusi tentang pelanggaran HAM di Burma. 
> 
> Kedua, resolusi DK PBB tentang isu nuklir Iran. Jika resolusi
pertama tentang Burma bisa dikatakan hanya adem ayem, atau bisa
dikatakan tidak ada reaksi sama sekali, untuk resolusi Iran, banyak
yang protes keras. Ada apa sebenarnya?
> 
> Sangat mengherankan kita menggunakan standar ganda. Jika soal Iran
banyak yang protes dan Indonesia dianggap melanggar kebijaksanaan luar
negeri, mengapa dalam isu yang lebih mendasar, pelanggaran HAM dan
penindasan politik di Burma, hampir tidak ada protes sama sekali? 
> 
> Apakah rezim Burma tidak layak dihukum dengan tindakan brutalnya
terhadap rakyat sendiri, termasuk 5 juta Muslim Rohingya di Arakan?
Apakah nasib jutaan warga muslim maupun non-Muslim yang sengsara di
Burma tidak layak mendapatkan simpati kita?
> 
> Kebetulan, tanggal 21 sampai 26 Maret lalu saya selaku ketua AIPMC
(ASEAN Inter Paliamentary on Myanmar Caucus) Indonesia mengunjungi
kota Mae Sot di perbatasan Thai dan Burma. 
> 
> Saya menyaksikan ratusan ribu pengungsi yang hidup sengsara di kamp
pengungsian. Jutaan lain menjadi migran di Thailand. Mereka yang hidup
dengan jatah beras 1 kg sebulan dan tidak bisa melakukan kegiatan apa
pun adalah pengungsi Muslim, Buddha, Kristen, maupun yang beragama
lain. Ada yang sudah berada di kamp pengungsi sejak 20 tahun lalu.
> 
> Keberutalan rezim Burma sudah tercatat dengan baik. Serdadunya
membunuh secara membabi buta, bahkan mereka memerkosa dan bertindak
brutal lain terhadap rakyat sendiri. Bukan itu saja, rezim militer
Burma merekrut anak-anak untuk dijadikan serdadu. Bayangkan, anak umur
sembilan atau sepuluh tahun dilatih untuk menjadi pembunuh. 
> 
> Saya berjumpa sendiri serdadu anak-anak yang melarikan diri dan
mereka menyatakan melihat dengan mata kepala sendiri perkosaan yang
dilakukan tentara Burma terhadap bangsa sendiri. 
> 
> Anehnya, ketika Indonesia, menyatakan bersikap abstain dalam siding
DK PBB, para tokoh agama, dan pemuka politik kita satu pun tidak ada
yang keberatan. Bahkan, di DPR hanya anggota kaukus AIPMC saja yang
menyuarakan penolakan. 
> 
> ***
> 
> Jadi, kalau selama ini kita menuduh Amerika mempunyai standar ganda,
apakah bangsa kita juga tidak demikian. Melihat kebiadaban di rumah
tetangga sendiri tidak ada empati dan rasa prihatin, dengan apa yang
terjadi di nun jauh di Iran, mereka meributkan.
> 
> Padahal, jika mau dikaji lebih jauh, resolusi yang didukung RI cukup
berimbang dan adil. Bahkan, negara-negara Arab ikut mendukung,
termasuk Qatar yang menjadi anggota DK PBB. Mengapa mereka senang?
Sebab, atas tekanan RI, dalam resolusi tadi berhasil dimasukkan
klausul yang menyerukan dibentuknya wilayah Timur Tengah yang bebas
senjata pemusnah masal berikut alat pengirimnya. 
> 
> Konon, Amerika sempat meminta klausul tersebut dihapuskan dan memang
sempat hilang sehari sebelum disahkan. Hanya, berkat kerja keras para
diplomat RI di PBB, klausul itu masuk lagi. Jelas itu merupakan
kemenangan diplomatik yang sangat gemilang.
> 
> Memang, seharusnya kita tidak berhenti hanya dengan menerima
Resolusi DK PBB no 1747, tetapi lebih jauh menindaklanjuti dengan
mengajukan resolusi Timur Tengah yang Bebas Senjata Pemusnah Masal.
Dengan adanya resolusi ini, akan bisa dilucuti senjata nuklir yang
dimiliki Israel atau negara-negara lain di Timur Tengah. Itu merupakan
kredit poin yang sangat penting bagi postur Indonesia di fora
internasional. 
> 
> Seharusnya kita memberikan apresiasi kepada para diplomat RI yang
telah bekerja keras dan berhasil memasukkan klausul yang sangat
penting tersebut. Keputusan Indonesia pun sesungguhnya sudah diambil
dengan pertimbangan matang. Masalah pokok di sini ialah di mana
meletakkan kepentingan nasional dalam mengambil keputuisan penting
itu. Apakah kita sejalan dengan mendukung Iran dalam isu nuklir?
Ataukah memang dengan mendukung resolusi itu merupakan upaya terbaik?
> 
> Prinsip dasar dalam soal nuklir bagi RI ialah mendukung pengembangan
nuklir untuk tujuan damai, tetapi menolak pengembangan nuklir untuk
tujuan militer. Indonesia akan mendukung penuh posisi Iran yang ingin
menguasai teknologi nuklir untuk tujuan damai. Namun, nyatanya, Iran
tidak transparan terhadap IAEA, yakni Badan Pengawas Atom
Internasional yang memonitor perkembangan nuklir. 
> 
> Iran adalah salah satu negara yang meneken perjanjian NPT (Non
Proliferation Tretaty) atau negara yang berjanji tidak akan
menyebarkan senjata nuklir.
> 
> Fakta bahwa Iran tidak nurut dengan inspeksi yang dilakukan IAEA
memaksa RI tidak punya alternatif lain kecuali mendukung Resolusi
1747. Selain itu, sesungguhnya wakil wakil Iran di PBB lebih senang
berunding dengan Amerika dan Barat daripada mengikutkan wakil wakil
Indonesia. Dengan kata lain, mereka umumnya tidak memberikan apresiasi
terhadap dukungan RI. Mereka lebih bangga berunding dengan Uni Eropa
dan Amerika Serikat, dibanding bertemu dengan wakil-wakil Indonesia. 
> 
> Banyak yang tidak tahu bahwa para perunding nuklir Iran umumnya
arogan dan tidak mau banyak menyapa wakil-wakil Negara Islam termasuk
Indonesia. Tentu kondisi psikologis para diplomat ini sangat tidak
menguntungkan. 
> 
> Jadi ketika dubes Iran di Jakarta sibuk melobi tokoh Islam dan
politik atas nama solidaritas umat, wakil-wakil perunding Iran yang
dipimpin Dr Ali Lariyani menganggap sepi peranan Indonesia, baik di
New York maupun Jenewa. 
> 
> Atas dasar itu, kita pantas bertanya, siapa sesungguhnya yang tidak
bersimpati dan mempunyai solidaritas atas dunia Islam?
> 
> Karena itu, saya menyarankan semua pihak sebelum melancarkan protes
sebaiknya menatap dengan teliti soal Resolusi DK PBB no 1747. Dalam
politik luar negeri, kepentingan nasional harus menjadi pertimbangan
yang lebih diprioritaskan dibandingkan dengan membela kepentingan
nasional negara lain.
> 
> 
> Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR RI
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke