> In [EMAIL PROTECTED], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Tetapi, masih ada diskusi, apakah lumpur itu bencana atau kelalaian 
> korporasi? Alih-alih diskusi itu final dengan satu kesimpulan, malah 
> kontroversi terus meledak, hampir setahun. Tidak ada kesimpulan 
> tunggal yang ditetapkan. Yang ada, spekulasi demi spekulasi. 
> Pemerintah sibuk menekan Lapindo, masyarakat yang menjadi korban 
> apalagi, dan pihak Lapindo terlihat kelimpungan dengan model darurat 
> penanganan bencana yang tidak pernah terbayangkan.
> 


Kejadian bencana Lapindo sama sekali bukan karena kelalaian corporasi
melainkan salah satu bentuk KORUPSI.

Seharusnya, pengeboran minyak dilakukan oleh perusahaan asing yang
berpengalaman, tetapi karena keserakahan segelintir pejabat, maka
pengeboran itu diserahkan kepada perusahaan dalam negeri yang
berkolusi dengan pejabat.

Perusahaan dalam negeri ini merasa tidak perlu kerjaan2 yang spele
diserahkan kepada kontraktor asing karena biayanya jadi lebih mahal. 
Mereka menganggap kerjaan2 yang teknisnya komplex saja nantinya akan
dikontrak-kan ke perusahaan2 luar negeri.  Dengan demikian selisih
keuntungannya akan menjadi jauh lebih besar yang kemudian bisa di-bagi2.

Pada dasarnya semua tanah diseluruh Indonesia termasuk tanah Volcano
sehingga setiap pengeboran selalu mengandung ancaman akan menimbulkan
bencana seperti di Lapindo.  Itulah sebabnya, biaya pengeboran minyak
di Indonesia selalu memakan biaya lebih tinggi daripada di Arab.  Hal
inilah yang tidak dipahami Sukarno dulu yang menganggap perusahaan
Barat selalu ingin mengakali dirinya sehingga akhirnya menolak semua
perusahaan2 Barat ini yang dituduhnya sebagai Neo kolonialisme dan
menolak memberikan konsesi eksplorasi kepada mereka.  Cara kalkulasi
pejabat di Indonesia selalu menghasilkan perbedaan2 yang besar karena
komparasinya lah yang salah.

Menangani kasus Lapindo bukanlah hal yang sulit, semua pejabat di
Pertamina seharusnya tahu, namun juga kita tahu, biaya penanganannya
sangatlah mahal sekali sehingga lebih baik didiamkan dengan
mengorbankan kepentingan masyarakat sekitarnya katimbang pemerintah
yang harus menanggung biayanya.  Semua pengeboran minyak asing hampir
selalu menghadapi kasus seperti ini dalam pengeboran dilepas pantai,
dan hal ini bisa juga terjadi ditengah laut, namun tetap akan diatasi
mereka karena akan membuat polusi laut yang akan membunuh ikan2. 
Memang sangat memprihatinkan kalo terjadi didarat malah bukan diatasi
tetapi malah didiamkan untuk dialirkan kelaut.

Lubang lumpur Lapindo bisa mudah diatasi dengan menanamkan pipa khusus
yang besar kuat dilubang semburan lumpur ini sehingga semua semburan
lumpur itu keluar melalui ujung pipa ini.  Setelah pipa ini ditanam
dan dibeton dengan semen khusus yang semuanya bisa dikerjakan oleh
komputer yang hanya dimiliki perusahaan2 khusus, barulah ujung pipa
tempat semburan lumpur ini ditutup per-lahan2 untuk kemudian disemen
dibawah tanah.  Setiap Pipa2 itu ada kran-nya sehingga dengan menutup
kran-nya satu persatu hingga kebawah tanah, maka pipa2 diatasnya bisa
dicabut lagi.  Semua cara kerjanya seperti ini pasti dengan jelas
diketahui oleh Pertamina.  Kesulitannya cuma satu yaitu biaya.  Harga
pipa2 nya saja sudah menghabiskan jutaan dollar, belum lagi ongkos
penyemenannya, total biayanya bisa milyardan.

Atas dasar perhitungan2 inilah pemerintah memutuskan untuk lebih baik
mengungsikan penduduk katimbang mengatasinya.  Seharusnya pemerintah
mengorbankan apapun demi mengatasinya, karena kesalahan pertamanya
memang terletak di pemerintah sendiri.  Seharusnya sejak kejadian ini
semua kontrak2 kerja yang dilakukan Lapindo dihentikan dan dibatalkan,
tetapi nyatanya tidak, diam2 Lapindo mendapatkan order2 baru dimana
bencana2 baru sudah menunggu dimasa mendatang.  Lapindo sekarang
melakukan pencegahan dengan cara membuat saluran kelaut dulu sebelum
memulai pengebaran sehingga tidak mengganggu atau diketahui masyarakat
kalo kejadian ini terulang, tetapi akibatnya bencana bagi ikan2 laut
nantinya bisa disalahkan kepada Allah saja bukan kepada Lapindo.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






> Pemangku dan Penyantun
> 
> Ada sejumlah pihak yang terlibat dalam bencana Sidoarjo ini,
stakeholders dan shareholders. Stakeholders-nya tentu pihak Lapindo
Brantas, pemerintah (pusat dan daerah), serta masyarakat. Sementara
itu, shareholders-nya adalah pemegang saham, pemilik perusahaan, dan
mitra bisnis lain. Untuk keseluruhan akibat lumpur itu, hanya
shareholders yang dapat beban. Regulasi disiapkan pemerintah, uang
ditanggung korporasi. 
> 
> Apakah memang itu yang sesuai dengan hukum di republik ini? Saya
tentu tidak punya kewenangan menjawabnya. Yang ingin dieja oleh
tulisan ini hanya seputar bagaimana cara penyelesaian "terbaik",
terlepas dari teknis administrasi dan peraturan? Mau tidak mau,
spekulasi -yang sebagian besar mengisi pemberitaan soal lumpur ini-
juga menjadi bagian tulisan ini. 
> 
> Katakanlah Lapindo membeli semua tanah milik penduduk, lantas lumpur
menyembur sampai 20 tahun ke depan, apakah setelah itu Lapindo berhak
menjual tanah-tanah tersebut secara komersial? Taruhlah 20 tahun
setelah lumpur berhenti menyembur atau 40 tahun lagi lumpur itu
kering, lalu riset-riset akurat menyatakan daerah itu layak dibangun
kembali, apakah ada hak dari pemilik yang telanjur meminta ganti rugi
untuk kembali? 
> 
> Untuk bencana sebesar lumpur Sidoarjo, tentu dibutuhkan pemikiran
dan rencana yang lebih besar dan luas. Ada yang menyebut bahwa di
bawah Sidoarjo sudah menganga lubang besar sehingga siap
menenggelamkan Surabaya sampai Madura, seperti yang diprediksi tukang
tenung Mama Laurent. Mengerikan. Bayangkan, sebuah kota tenggelam,
bukan ke dalam lautan, melainkan ke dasar bumi. Hilangnya benua
Atlantis telah melahirkan beragam mitos dan misteri, bagaimana dengan
terjungkangnya belahan timur Pulau Jawa itu? 
> 
> Jadi, sungguh menggelisahkan ketika beragam pernyataan dalam agenda
setting media selalu bertutur tentang masa kini. Tidak ada lagi
bayangan atas masa depan. Di ujung lorong Sidoarjo tertumbuk kegelapan
yang hitam. Frustrasi mengintai, tanda-tanda anarki menyeringai. Ganas. 
> 
> Sejumlah pihak sudah mengeluarkan pernyataan soal masalah tersebut.
Ada keraguan untuk menyebut apakah itu masalah atau kesalahan. Ibarat
sebuah pot bunga pada suatu ruangan yang disentuh, lalu pecah
berantakan, kesalahan pihak yang menyentuh itu sudah dijatuhkan, yakni
mengganti segala kerugian, berapa pun jumlahnya. Bisa jadi, hingga tak
berhingga. Angka demi angka muncul, menaik, merangkak, mendaki, sampai
menyentuh triliunan rupiah. Dana itu hanya datang dari satu pihak,
korporasi. 
> 
> Mentalitas Keterjajahan
> 
> Barangkali, itulah angka bayaran ganti rugi terbesar yang pernah
tercatat di Indonesia. Bahkan, pihak Belanda dan Jepang yang pernah
menjajah dan membawa kekayaan alam Indonesia ke negaranya tidak
dikenai dana ganti rugi sebesar itu. Kalaupun ada pihak-pihak generasi
tua yang mencoba menyuarakan itu, tuduhan lain juga datang kepada
mereka atas nama perdamaian hari ini.
> 
> Penderitaan di masa lalu hanya diukur sebagai biaya menyusun buku
sejarah yang nyinyir.
> 
> Inilah bangsa yang telanjur hidup dengan mentalitas keterjajahan.
Ketakutan kepada pihak eksternal mengubahnya menjadi sosok yang garang
kepada pihak internal. Sejak Indonesia merdeka, tidak satu perang pun
dimenangkan terhadap musuh-musuh dari luar. Yang ada hanya serangkaian
kekerasan dan pembunuhan atas musuh dari dalam. Aneksasi atas
Timor-Timor juga berakhir dengan sikap penyerahan total yang intinya
memang menghilangkan kerikil di sepatu Jakarta. 
> 
> Apakah mentalitas itu juga terus dipelihara atas masalah Sidoarjo?
Masalah yang muncul dari semburan lumpur telah menyiprati soal-soal
lain, seperti ekonomi, lingkungan, sosial, budaya, bahkan politik.
Orang-orang yang marah dan hendak datang ke Jakarta dihadang dengan
sejumlah janji.
> 
> Bahkan, terdapat ketakutan yang besar apabila kemarahan itu
ditujukan membangkitkan sebuah revolusi sosial. Tidak heran kalau
Presiden Yudhoyono memerintahkan Badan Intelijen Negara untuk memantau
terus pergerakan masyarakat Sidoarjo. 
> 
> Tentu, ada kekhawatiran yang meluap. Ada skema-skema liar energi
negatif Sidoarjo mengepung dan menenggelamkan Jakarta. Ada
bergalon-galon lumpur yang dibawa ke Jakarta dan diserakkan di jalanan
sebagai bentuk teatrikal. 
> 
> Andai lumpur Sidoarjo kering, lagi-lagi, siapa yang akan menangis
dan siapa yang akan tertawa? Selayaknya kita memberikan perhatian pada
persoalan ini dengan mendiskusikan secara jernih atau malah
mempolemikkan dengan nada suara yang keras dan melengking. Mumpung
masalah itu ada di depan mata, dalam ruang dan waktu yang terus
bergerak, akan banyak jeda yang bisa digunakan. Lumpur Sidoarjo, apa
makna kehadiranmu?
> 
> 
> Indra J. Piliang, analis politik dan perubahan sosial CSIS, Jakarta
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke