http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=8580
Sabtu, 05 Mei 2007, SBY Masih Ragu Tunda Umumkan Reshuffle Kabinet BOGOR - Dua hari berada di rumah Cikeas, Bogor, ternyata tak cukup bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bisa memutuskan menteri-menteri yang akan diganti. Karena masih ragu menteri baru sesuai harapan, presiden menunda mengumumkan reshuffle yang semula dijanjikan awal Mei pekan ini. "Berilah saya kesempatan untuk melaksanakan tugas penting ini. Saya ingin separo perjalanan pemerintahan yang saya pimpin dapat lebih baik daripada periode sebelumnya," kata Presiden SBY usai salat Jumat di Masjid Al-Istiqomah, Cikeas, kemarin. Menurut SBY, sampai saat ini proses reshuffle masih berjalan. Lamanya proses tersebut agar penataan kabinet bisa mencapai sasaran yang diharapkan. "Saya terus berkomunikasi dengan wakil presiden dan juga para Menko (menteri koordinator) secara proporsional. Saya meminta pertimbangan, tapi keputusan tetap pada saya," kata SBY. Presiden kembali menegaskan bahwa pergantian menteri yang akan dilakukan bersifat terbatas dan bukan perombakan. Karena itu, menteri yang akan diganti atau dipindah posisi juga tidak banyak. Mengenai nama-nama menteri yang di-reshuffle dan calon-calon pengganti yang beredar di media massa, menurut SBY, hanyalah analisis. Sebab, kata SBY, tidak ada satu nama yang keluar dari kantongnya. "Saya meminta kepada siapa pun tokoh yang nama-namanya disebut, sekali lagi saya katakan, itu hanya analisis, telaahan, dan perkiraan," kata SBY. SBY merasa trauma, saat pengumuman kabinet Oktober 2004, ada tokoh yang marah karena namanya sudah disebut-sebut di media massa tetapi tidak menjadi menteri. "Karena itu, saya meminta spekulasi tetap pada titik wajar," katanya. SBY juga meminta semua pihak menghormati hak prerogratif presiden. "Jangan sampai ada paradoks. Di satu sisi mereka katakan ini prerogatif presiden, tapi ada langkah-langkah lain yang justru tidak seperti itu," kata SBY. Berbeda dengan reshuffle pertama, kali ini SBY mempertimbangkan faktor kesehatan para menteri. Subuh kemarin SBY menerima tim dokter kepresidenan yang menyerahkan laporan status kesehatan para menteri. "Saya baca ada yang mengatakan sekian menteri sakit, tidak bisa bekerja, dan harus diganti. Saya akan merujuk pada hasil pemeriksaan kesehatan. Itu yang reliable. Itu yang layak dipercaya," ujarnya. Menurut SBY, sepanjang hasil pemeriksaan kesehatan mengatakan bahwa menteri A atau B masih dapat bekerja sebagai menteri, tidak boleh dianggap tidak mampu lagi secara fisik untuk bekerja. Rupanya, SBY juga tidak mau secara demonstratif memanggil menteri-menteri yang akan diganti ke Cikeas. Hingga tadi malam, belum ada satu pun menteri, selain Menko, yang masuk ke Cikeas. SBY memilih menghubungi para menteri tersebut melalui telepon atau melalui para Menko. "Saya sudah mulai berkomunikasi dengan menteri-menteri tertentu yang dengan hormat nanti saya berhentikan," jelasnya. Mereka yang diganti, kata SBY, belum tentu karena yang bersangkutan tidak cakap atau melakukan kesalahan. "Tapi, sekali lagi, demi efektivitas dari kabinet yang masih harus melanjutkan tugas 2,5 tahun ke depan," terangnya. Beberapa menteri, menurut SBY, juga dihubungi bukan karena akan dicopot. Tapi, mereka hanya diberi tahu hasil evaluasi kinerjanya. "Saya sampaikan hasil evaluasi saya, terutama kinerja yang harus ditingkatkan secara sungguh-sungguh. Saya menilai, ada satu dua menteri yang perlu meningkatkan kinerja," jelasnya. Tadi malam presiden juga melakukan pertemuan dengan 26 gubernur di Cikeas. Dalam pertemuan mulai pukul 20.00 hingga pukul 22.30 tersebut, para gubernur menyatakan dukungannya kepada pemerintah pusat. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengatakan, semua gubernur sebagai salah satu pembantu presiden telah menyatakan loyalitasnya kepada pemerintah. "Semua gubernur siap mem-back up sampai 2,5 tahun ke depan," katanya kepada wartawan usai bertemu dengan SBY. Menurut Sutiyoso, semua penilaian yang diberikan kepada SBY-Kalla berarti juga memberikan penilaian terhadap kinerja gubernur. "Apa-apa yang baik dan tidak baik di SBY-JK (Kalla, Red) berarti juga baik dan tidak baik pula bagi kami," tegasnya. Mewakili gubernur-gubernur lain, Sutiyoso membantah bahwa para kepala daerah lebih loyal kepada partai politik ketimbang kepada pemerintah pusat. Sebelumnya, SBY kepada Muladi (Gubernur Lemhanas) pernah mengeluhkan bahwa kepala daerah lebih loyal terhadap parpol. "Tidak benar itu. Selama ini proporsional," kata Sutiyoso, yang akan berakhir masa baktinya tahun ini. Bahkan, dia menyebutkan, jika menteri diibaratkan sebagai tangan kanan presiden, kepala daerah adalah tangan kirinya. "Jadi, kami adalah pembantunya juga," terangnya. Wapres Yakin Meski enggan menyebutkan nama-nama menteri yang akan dicopot berikut penggantinya, Wapres Jusuf Kalla yakin nama-nama menteri yang akan masuk kabinet lebih baik daripada menteri sebelumnya. "Kalau tidak lebih baik, tentu tujuan (reshuffle) tidak tercapai. Lebih baik tentu dalam arti kemampuan dan kredibilitasnya. Itu acuannya. (Reshuffle) ini bukan masalah politis, ini murni masalah kinerja," tegas Kalla. Dengan nada bercanda, Wapres mengaku heran atas banyaknya orang yang ingin menjadi menteri. "Sudah gajinya rendah, dikritik habis-habisan oleh DPR dan oleh Anda (media), didemo rakyat, kok masih banyak yang ingin jadi menteri," ujarnya disambung tawa. Sebagai ketua umum Partai Golkar, Jusuf Kalla juga membantah partai politik telah melakukan intervensi dan melangkahi hak prerogatif presiden. "Jangankan partai, wartawan saja sudah menyebut nama (calon-calon menteri). (Media) kan lebih terbuka, ada yang pasang foto, tanggal lahir. Partai kan hanya sebut nama, bukan apa-apanya to," papar Kalla. Kritik Pengamat Sejumlah kalangan menyebut SBY ragu-ragu menentukan calon pembantu-pembantu barunya. Ketidakjelasan yang diperlihatkan Presiden SBY terkait waktu pengumuman reshuffle disesalkan sejumlah kalangan. Apalagi, presiden secara terbuka ternyata meminta waktu tambahan untuk mematangkan komposisi kabinetnya. Sekjen DPP PDIP Pramono Anung, misalnya, menilai pengumuman reshuffle yang terus diundur merupakan bukti pribadi presiden masih dilingkupi keraguan. "Ini ironis. Karena reshuffle mengandung makna dan harapan yang sangat prinsipiil, yaitu perbaikan kinerja kabinet," katanya ketika dihubungi kemarin. Dalam pandangan Pram -panggilan akrab Pramono Anung- presiden seharusnya berani mengumumkan keputusannya terkait reshuffle tanpa terus-menerus melihat perkembangan dan tekanan yang ada. "Reshuffle ini kan untuk kepentingan rakyat. Jadi, segera ambil keputusan itu tanpa ragu-ragu," tegasnya. Pengamat politik Fachry Ali juga mengaku sangat menyesalkan ketidakpastian waktu pengumuman reshuffle. Bahkan, dia beranggapan presiden sebenarnya sudah kehilangan momentum untuk merombak kabinetnya. "Sudah telat, masih juga ragu-ragu," katanya. Tarik ulur politik yang kini berkembang seharusnya tidak membuat presiden menjadi bimbang atau ragu-ragu untuk mengambil sikap. "Justru ketidakjelasan presiden membuat agenda resahuffle ini menjadi polemik politik yang semakin tidak jelas arahnya," tegasnya. Lebih lanjut, dia menyampaikan, presiden seharusnya tetap yakin terhadap setiap keputusan politik yang diambil. "Kalau presiden stabil dan percaya diri, tidak mungkin akan ada celah sedikit pun bagi parpol untuk memberikan tekanan," tandasnya. (tom/noe/ein/nue/pri [Non-text portions of this message have been removed]
