http://www.indomedia.com/bpost/052007/21/opini/opini1.htm
Menjelang Soeharto Lengser (Catatan Kamis Bersejarah 9 Tahun Lalu) Kamis 21 Mei 1998 dinihari, Soeharto berbicara dengan Wiranto, di kediamannya Jalan Cendana. Sekitar tujuh jam kemudian, ia mengumumkan kepada rakyat Indonesia, mundur sebagai presiden. Andai Pak Harto tidak ke Mesir, mungkin sejarah akan lain! Probosutedjo --saudara Soeharto-- secara tersirat menyimpan kalimat itu dalam wawancaranya di Majalah Tokoh Indonesia, pascareformasi yang melengserkan sang kakak. Itulah sebabnya, ia mengaku sudah berupaya untuk 'mencegah' keberangkatan Soeharto selaku Presiden RI pada 9 Mei 1998 itu dengan istilah mengingatkan. Waktu itu, suasana politik Tanah Air mulai terasa hawa panasnya. Berbagai gerakan anti-Soeharto, kritik dan isu KKN yang menyangkut keluarga presiden, sudah mulai digulirkan oleh banyak kalangan. Padahal, menurut hitungan di atas kertas, semestinya yang terjadi adalah suasana kondusif sebab Soeharto belum dua bulan dilantik untuk ketujuh kalinya sebagai Presiden RI dengan dukungan mutlak di parlemen kita. "Mas, jangan pergi. Dirikanlah Dewan Reformasi. Lakukan perbaikan atau reform untuk menjaga supaya jangan sampai reformasi berubah menjadi revolusi, sebab apa yang kita bangun bisa rusak," pinta Probo waktu itu, dengan penuh kehati-hatian, tentu saja. Namun, apa jawaban yang diberikan Soeharto? Penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu menunjukkan sikap seorang negarawan sejati, di depan sang adik. Soeharto menyebutkan keberangkatannya ke Mesir bukan untuk pribadi, bukan pula sekadar mewakili Indonesia. Tetapi ada kepercayaan bergengsi yang lebih besar dari itu: mewakili ASEAN dan Gerakan Nonblok. Probo mengaku tak puas. Tetapi ia sadar, permintaan yang disampaikannya itu terlalu kekeluargaan. Maka, ia mengupayakan jalan yang lebih konstitusional. Caranya, menghubungi ketua DPR/MPR H Harmoko. "Maksud saya, bikinlah keputusan sidang yang bisa mencegah kepergian Pak Harto," ujar Probosutedjo. Harmoko memang mecegah kepergian Soeharto. Tetapi tidak melembaga seperti diinginkan Probosutedjo, melainkan hanya meminta secara lisan dengan embel-embel kata sangat tak resmi, pula. Harmoko bilang ke Presiden kala itu: "Ini atas usul Pak Probo, koq." Naluri Probosutedjo menunjukkan akurasinya. Begitu Soeharto meninggalkan Tanah Air, demonstrasi terjadi silih berganti. Tragedi Trisakti dengan gugurnya empat mahasiswa ditembus peluru, pun terjadi. Rusuh di mana-mana. Puncaknya 14 Mei, terjadi penjarahan di beberapa tempat. Jakarta kacau! Presiden Soeharto mempersingkat lawatannya. Pada 15 Mei, ia tiba di kediamannya Jalan Cendana pada senja hari. Keesokan harinya demonstrasi semakin besar. Bahkan 17 dan 18 Mei, ratusan ribu mahasiswa masuk Kompleks Gedung MPR. Pada 19 Mei, Pak Harto menyuruh Saadillah Mursjid memanggil Dr Nurcholis Madjid (kini alm), ke Cendana. Mereka bicara empat mata. Selaku presiden, Soeharto menggagas pertemuan dengan figur berpengaruh di negeri ini pada 20 Mei di Istana Merdeka. Termasuk Prof KH Ali Yafei, dan Gus Dur. Ketika pertemuan berlangsung, keluarga Cendana yang ada di istana --walau tidak masuk ruang pertemuan-- adalah Mbak Tutut dan Probosutedjo. Bahkan jenderal pun seperti Wiranto, Hartono, Prabowo, Subagyo, menunggu di luar. Pertemuan di Istana Merdeka memutuskan, tuntutan mahasiswa yakni supaya Pak Harto mundur, dituruti. Di situlah, menurut Probosutedjo, Pak Harto menjawab kalau memang disuruh mundur tidak masalah. Sebab, tidak menjadi presiden pun tidak pateen (pateen itu sakit puru, dagingnya pincang-pincang). Daripada ribut-ribut, oke, silakan. Kalau mau ambil ya ambillah, kata Pak Harto. Kemudian malam harinya ada pertemuan Keluarga Besar Cendana. Dalam kesempatan itu, Soeharto menyampaikan sikaf politiknya di depan anak dan menantu, bahwa ia akan mengundurkan diri keesokan hari. Pertemuan keluarga itu pun berakhir dengan suasana sangat menyayat hati. Dengan derai air mata, pula. Satu per satu anak menantu Soeharto berlalu dari hadapan sang ayah. Membawa duka masing-masing. Dan, Presiden Soeharto belum beranjak dari tempatnya. Kemudian ia meminta ajudannya memanggil Yusril Ihza Mahendra yang ketika itu memang menjadi 'konseptor' pidato kenegaraannya, Mensesneg Saadilah Mursyid dan Pangab Jenderal Wiranto. Ketika itu malam sangat larut, berlalu dari pukul 23.00 WIB. Dari ketiga pejabat yang dipanggilnya itu, konon, Wiranto-lah yang paling gelisah begitu mendengar keputusan sang presiden ingin mengundurkan diri. Bahkan, waktunya sudah dipilih, Kamis 21 Mei pukul 09.00 esok pagi. Untuk menyikapi keputusan lengser itu, Wiranto sampai bolak balik tiga kali Jalan Cendana - Kantor Menhankam. Sang Jenderal perlu sharing dengan sejumlah jenderal lain sebelum kembali menemui Presiden untuk memberikan tanggapan. Jakarta semakin larut. Bahkan hari meninggalkan Rabu, dan memasuki Kamis 21 Mei dinihari. Begitu Wiranto pulang, giliran Wapres BJ Habibie yang kemudian dipanggil ke Cendana. Kamis 21 Mei 1998, keesokan harinya, pidato The Smiling Genderal pun menyatakan mundur untuk digantikan BJ Habibie. Upcara itu disaksikan seluruh Rakyat Indonesia melalui siaran langsung televisi. Majalah Time edisi Senin 25 Mei, menuliskan drama pengunduran itu dengan kalimat bersahaja: ketika Suharto menyatakan diri mundur, ayam jantan kesayangannya yang selama ini menghiasi taman Istana Merdeka pun, berkokok! umi sriwahyuni [Non-text portions of this message have been removed]
