http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/11/0902.htm
Dr. Abu Hanifah "Dokter Rimboe" Oleh H. ROSIHAN ANWAR DOKTOR Abu Hanifah bagi saya orang yang spesial. Sebab beliaulah maka saya jadi wartawan 64 tahun yang silam, dan urung jadi jaksa pengadilan negeri. Ketika bicara tentang topik "Dimensi Pendidikan Kedokteran" di seminar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 22 Mei 2007, saya menyebutkan Dr. Abu Hanifah (1906-1980) sebagai dokter memiliki banyak bakat. Abang Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia, mendapat didikan di Stovie dan di Geneeskundige Hoge School (GHS) Batavia. Setelah jadi Indisch Arts, Abu ditempatkan di Taluk, daerah Riau sebagai dokter gubernermen. Di zaman kolonial, lazim dokter yang baru tamat bekerja di daerah pedalaman. Dr. Sumarno (kelak Gubernur Jakarta) dan Dr. Suwondo (kelak Wagub Jakarta) berdinas di daerah terpencil Kalimantan. Dr. Abu Hanifah tidak kecuali. Bekerja di masyarkat belum maju, bergaul dengan rakyat yang membutuhkan perawatan telah memberikan kepadanya pemahaman mengenai dimensi pendidikan kedokteran seperti kepemimpinan, humanisme, kejuangan. Sebagaimana dituliskannya dalam buku tentang pengalamannya di Taluk, dia adalah "Dokter Rimboe". Kata "rimboe" (ejaan lama) berarti: hutan belantara. Sesudah itu Abu menjadi scheepaarts, dokter di kapal perusahaan Belanda yang berlayar pada rute Batavia-Singapore-Medan pulang pergi. Di zaman Jepang dia bekerja di rumah sakit umum (CBZ) Jakarta. Ketika di zaman Jepang saya lulus ujian diterima kursus kilat untuk dididik menjadi jaksa pengadilan negeri, tahu-tahu dua hari sebelum masuk asrama, Dr. Abu Hanifah menanyakan kepada saya apakah mau jadi wartawan, sebab di harian Asia Raja menurut pemimpin umumnya Sukardjo Wiryopranoto terbuka lowongan. Saya tak pernah bercita-cita untuk jadi wartawan. Namun saya terima saran Abu dan sejak bulan Maret 1943 saya mulai bekerja sebagai wartawan, karena faktor kebetulan belaka. Saya in-de-kost di rumah Armijn Pane, sastrawan Pujangga Baru, di Jalan Cemara, tidak jauh dari rumah Abu Hanifah. Maka hampir tiap malam saya bertandang ke rumahnya. Lalu Abu, Usmar Ismail dan saya berdiskusi tentang rupa-rupa hal, antara lain politik. Abu bercerita tentang masa dia mahasiswa kedokteran, tinggal seasrama dengan Muhamad Yamin, Amir Syarifuddin. Tentang Sumpah Pemuda tahun 1928, pergerakan nasional, dsb. Di situlah saya yang sebelumnya buta politik atau a-politis memperoleh pendidikan politik, mulai faham apa artinya nasionalis yang berjuang untuk Indonesia merdeka. Penggemar "Maya" Kami tidak melulu berdikusi tentang soal politik. Selain bekerja sebagai reporter Asia Raja saya mulai menulis puisi. Usmar menulis sajak, cerpen, sandiwara radio. Abu Hanifah dengan nama samaran El Hakim menulis lakon sandiwara. Pada pertengahan tahun 1944 kami dirikan grup sandiwara penggemar (amatir) yang diberi nama Maya. Kami pertunjukkan di Gedung Kesenian di Pasar Baru lakon pertama. "Taufan di Atas Asia" karangan El Hakim, disutradrai oleh Usmar Ismail, dan saya pemeran utama. Sejak itu secara teratur tiap bulan "Maya" mempertunjukkan lakon sandiwara "Insan Kamil" oleh El Hakim, "Api" dan "Liburan Seniman", juga "Mutiara dari Nusalaut" oleh Usmar Ismail, saduran lakon pujanggga Norwegia Henrik Ibsen "Little Eyolf", lakon pujangga Prancis Voltaire "Si Bakhil" dan lain-lain. Abu Hanifah menulis buku Rintisan Filsafat di mana dia menguraikan tentang filsuf-filsuf klasik Barat. Menjelang akhir zaman Jepang, Abu dipindahkan ke Sukabumi menjadi direktur rumah sakit. Setelah proklamasi kemerdekaan dia tampil sebagai pemimpin Badan Perjuangan Jawa Barat. Dia pergi berkonsultasi ke Yogya, disertai oleh dua ajudan yakni Ramadhan K.H. (kelak sejarawan/pengarang biografi) dan Asikin (kelak S.H.). Ketika bulan Maret 1949 diadakan Asian Relations Conference atas prakarsa Nehru di New Delhi, Dr. Abu Hanifah ketua delegasi Indonesia. Dia anggota dewan pimpinan partai Masyumi. Pada pembentukan Republik Indonesia Serikat tahun 1950 Abu menjabat Menteri P dan K dalam kabinet Hatta. Kemudian menjabat Dubes RI di Italia, Brazil, pada perwakilan RI di PBB. Pokoknya, Abu Hanifah punya berbagai kemampuan. Dia orang versatile, bakatnya aneka ragam. Pada tahun 1972 Abu Hanifah menulis sebuah buku dalam bahasa Inggris berjudul: Tales of a Revolution - A leader of the Indonesian Revolution Looks Back. Di situ bisa dibaca biografi Abu. Tapi yang menarik pula adalah pendapat Abu sebagaimana disampaikannya kepada Cindy Adams, perempuan Amerika yang menulis biografi Soekarno. Masalahnya ialah Cindy tidak mengetahui bahwa "Soekarno itu seorang penutur cerita (story teller) dengan kekuatan khayalan besar". Soekarno tak jujur dalam bukunya mengenai konstribusi pemimpin-pemimpin lain. Dia tak sebutkan apa yang mereka telah perbuat untuk suksesnya revolusi dan menjadikan Soekarno presiden. Soekarno berbuat lebih jelek lagi. Dia mencemoohkan Sutan Sjahrir PM pertama republik, demikian tulis Dr. Abu Hanifah.*** Penulis, wartawan senior Indonesia. [Non-text portions of this message have been removed]
