RIAU POS
Buruh Makan Kera
16 Juni 2007 Pukul 09:41
Ditemukannya 264 pekerja asal Kalbar yang terlantar di tengah hutan
sungguh mengejutkan -Kendati banyak kejadian aneh lainnya di Riau yang
mengejutkan.
Kita tak menyangka kalau ada perusahaan yang menelentarkan karyawannya
sampai memakan kera (monyet). Luar biasa kejamnya.
Tapi itulah realitas kehidupan di Riau ini. Artinya perlakukan perusahaan
pada buruh atau karyawan terlalu berlebihan. Buruh dipaksa bekerja keras dengan
sejumlah target, namun di sisi lain buruh ''dicekik lehernya'' -tidak diberi
makan.
Tak terbayangkan jika makanan pokok pun tak tersedia saat buruh itu
berada di tengah hutan. Jangankan kera, manusia pun saling memakan. Demikian
jelas salah seorang buruh yang bekerja di tengah hutan itu.
Kejadian ini baru satu dari puluhan atau mungkin pula ratusan buruh di
Riau. Sebab, masih banyak buruh lainnya yang bernasib malang, tetapi mereka
tidak berani mengemukakannya.
Di sinilah perlunya pengawasan Pemerintah -Dinas Tenaga Kerja Provinsi
dan Kabupaten- mengawasi perusahaan yang beroperasi di Riau.
Jika kasus ini terjadi di perusahaan besar di pedalaman Kampar, tidak
menutup kemungkinan terjadi di kabupaten lainnya, tempat perusahaan ini
beroperasi. Sebab, penamanan akasia itu bukan hanya di Kabupaten Kampar, tetapi
sejumlah daerah lain dikembangkan tanaman ini.
Artinya, pihak pemerintah segera mendata para buruh lepas yang bekerja di
tengah tanaman hutan Riau. Mungkin saja nasib mereka sama dengan pekerja asal
Pontianak itu?
Kita patut malu dengan anggota dewan asal Pontianak. Di negeri yang kaya
ini, ternyata buruhnya tidak dibayar dan terpaksa makan monyet pula.
Dinas Tenaga Kerja harus turun ke lapangan, mengecek mereka. Yakni
mengecek perusahaan-perusahaan yang menggarap penanaman dan pembersihan lahan
akasia di Riau ini.
Kita bukan sentimen, tetapi kasus ini sangat mencoreng muka Riau di
hadapan provinsi lain. Selain itu, kasus ini perlu diusut agar menjadi shock
trapy bagi perusahaan lainnya yang memperlakukan karyawan sangat kejam.
Tidak ada jalan lain, kecuali mengecek ke lapangan dan memberi sanki pada
perusahaan yang merekrut karyawan tersebut. Karena sangat besar kemungkinan
perusahaan lain yang bersikap seperti ini.
Di sisi lain, kasus ini juga mengindikasikan bahwa nasib buruh di
Pontianak, Kalbar, sangat buruk. Mereka datang ke Riau dengan harapan hampa,
karena di daerah mereka sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Atau, mungkin saja, mereka yang bekerja di tengah hutan ini, adalah
profesional. Kabarnya, pekerja asal Sambas ini sangat tangguh dan gigih dalam
bekerja.
Tapi apapun alasannya, perlakuan perusahaan pada mereka sangat
keterlaluan. Membiarkan mereka terlantar di tengah hutan tanpa makanan adalah
sama dengan membunuh mereka secara berangsur-angsur.
Adakah undang-undang yang melindungi buruh tersebut? Tentu saja ada. Tapi
soalnya buruh lepas ini dianggap pekerja kelas bawah, mereka sangat rentan
perlakuan buruk.
Mereka tidak diasuransikan. Tidak ada jaminan kalau mati akan mendapat
pesangon atau uang sejenisnya. Jumlah mereka tidak hanya puluhan tapi ratusan,
bahkan mungkin pula ribuan.
Pertanyaannya, siapa yang akan melindungi mereka? Pemerintah? Tidak juga.
Inilah potret buruh di nusantara, khususnya buruh kehutanan di Riau.
Sementara pengusaha hutan mendapat keuntungan yang berlimpah dari
keringat mereka. Luar biasa tragisnya buruh di sektor kehutanan ini. Ada yang
meraup keuntungan dan ada yang makan kera karena tak digaji.***
[Non-text portions of this message have been removed]