http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/19/0902.htm


Balik Memberi Melebihi dari yang Diterima
Oleh ALFATHRI ADLIN 
SEORANG suami tidak mau mengurus KTP yang sudah habis masa berlakunya. Sang 
istri mengingatkan bahwa sang suami akan menemukan banyak kesulitan 
administratif apabila tidak mempunyai KTP baru. Alasan keengganan sang suami 
adalah "Negara tidak pernah memberi apa pun kepada saya, jadi untuk apa saya 
mengurus KTP?" 

Sang istri beristigfar dan mengingatkan bahwa setelah mendengarkan pengajian 
tentang nasionalisme, sang istri merasa belum berbuat apa pun untuk negara. 
Namun, sang suami memang tidak mau berpikir panjang dan keras kepala. 
Terpaksalah sang istri yang tengah hamil tua, ditemani anaknya yang baru masuk 
SD, pergi ke kelurahan menguruskannya. Sayangnya, filosofi birokrasi di 
Indonesia adalah "Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah". 

Setelah sekian kali bolak-balik ke kelurahan yang jaraknya jauh, rupanya 
terjadi kesalahan penulisan nama. Sang istri diminta kembali ke kelurahan. 
Karena sudah kelelahan, sang istri menelefon kelurahan dan menangis meminta 
agar hal tersebut bisa dipermudah dan diurus oleh para petugas kelurahan saja, 
tanpa perlu dia bolak-balik lagi. Sang istri bahkan sampai terpaksa 
menceritakan betapa beratnya menikah dengan seorang lelaki yang sulit. 
Akhirnya, ada seorang petugas kelurahan yang tergerak dan mau membantu sang 
istri tersebut. Setelah KTP selesai, sang suami bukannya berterima kasih atas 
jerih payah sang istri. Dia malah meremehkan KTP tersebut dengan komentar picik 
yang tidak bermutu.

Memang sangat disayangkan bahwa sang suami sudah kadung apatis terhadap negara 
(bahkan, sebenarnya, terhadap banyak hal). Permasalahan ini bisa kita pahami 
penyebabnya. Sebagaimana banyak terungkap, seringkali sepak terjang para 
pelaksana pemerintahan negara, entah itu korupsi, kolusi, nepotisme, mudah 
membuat masyarakat marah dan putus asa terhadap masa depan Indonesia. Namun, 
seperti yang diperlihatkan Rasulullah saw, seorang mukmin sejati itu seharusnya 
memiliki kepribadian seperti lautan. Berbagai sampah, kotoran, bangkai, dan 
hal-hal buruk lainnya masuk ke dalam lautan. Namun apa yang lautan keluarkan 
sebagai balasannya? Mutiara, ikan untuk dimakan, minyak bumi, uap air pembentuk 
awan yang nantinya akan menurunkan hujan yang berguna bagi semua kehidupan, dan 
hal-hal berguna lainnya.

Seperti itu pulalah kepribadian Rasulullah saw. Beliau diingkari, dihina, 
dilempari batu sampai terluka, hingga Jibril pun menawarkan untuk menghukum 
para pengingkar tersebut dengan menimpakan gunung ke atas mereka. Namun tidak 
pernah sekalipun beliau memohon Allah SWT mengazab kaum pengingkar tersebut. 
Bahkan, ketika seorang perempuan yang selalu melemparkan kotoran ke arah beliau 
jatuh sakit, beliau malah menengoknya. 

Sebaliknya, sikap sang suami yang apatis tersebut lebih menyerupai pabrik 
sampah. Ketika berbagai "sampah" berupa sepak terjang memuakkan sebagian pelaku 
pemerintahan negara ke dalam dadanya, sang suami malah balik mengeluarkan 
sampah lagi. Masuk sampah, keluar sampah.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh para mukmin menyikapi keadaan seperti ini? 
Tentu saja gagasan tentang membuat revolusi atau menjadi seorang pengerah massa 
bukanlah suatu pemikiran yang harus serta-merta diwujudkan oleh semua orang. 
Apalagi, perbuatan bidah seperti bom bunuh diri yang malah dilabeli jihad fi 
sabilillah. Namun sayangnya, tak jarang manusia dikuasai oleh hawa nafsunya 
untuk melakukan sesuatu secara terburu-buru (yang dalam hadis ditegaskan 
sebagai perbuatan setan). Atau terobsesi melakukan sesuatu yang besar dan 
secara sadar ataupun tidak, ingin mendapat sorotan atas perbuatannya tersebut. 
Atau, lebih buruk lagi, malahan menjadi apatis seperti sang suami di atas. 

Seorang ulama pernah mengatakan bahwa untuk mengukur apakah suatu perbuatan itu 
lahir dari hawa nafsu, manusia bisa mengukur melalui dua hal, yaitu kemampuan 
dan kesempatan. Apabila ada kemauan, juga kemampuan, namun belum ada 
kesempatan, maka memaksakan diri mewujudkan kemauan tersebut berarti 
memperturutkan hawa nafsu. Begitu juga apabila kemauan dan kesempatan ada, 
namun tidak mempunyai kemampuan, maka memaksakan diri mewujudkan kemauan 
tersebut berarti memperturutkan hawa nafsu. Nah, terkait dengan kemauan untuk 
mengadakan perubahan, sebenarnya Allah SWT pun memberi kesempatan kepada setiap 
mukmin untuk bisa berbuat sesuatu yang sederhana dalam hidup kesehariannya. 
Namun dalam jangka panjang dan bertahap akan menunjukkan hasilnya.

Dalam teori chaos terdapat ungkapan terkenal, yaitu kepak sayap kupu-kupu di 
samping rumah kita telah mengakibatkan tornado di Amerika. Apa maksud ungkapan 
ini? Sebuah perbuatan yang mungkin kecil di mata kita, juga di mata orang lain, 
dalam suatu reaksi berantai terus-menerus ternyata telah turut andil 
menciptakan suatu dampak yang besar. Tak ubahnya seperti gelindingan bola salju 
yang awalnya hanya sebesar kelereng, namun lama-kelamaan membesar dan dapat 
melumat manusia. Begitu pulalah halnya perbuatan manusia.

Dalam kesempatan lain, ulama yang tadi pun pernah berkata bahwa apabila seorang 
pegawai mendapat gaji sebesar Rp 1.000.000,00, namun kualitas kerjanya hanya 
setara dengan Rp 500.000,00 pegawai tersebut telah melakukan korupsi sebesar Rp 
500.000,00. Namun, apabila pegawai tersebut bekerja optimal sehingga kualitas 
kerjanya setara dengan Rp 1.000.000,00, pegawai tersebut tidak mendapatkan apa 
pun selain upah atas jerih payah kerjanya semata. Sementara itu, apabila 
pegawai tersebut bekerja lebih optimal lagi sehingga kualitas kerjanya setara 
dengan Rp 1.500.000,00 kelebihan Rp 500.000,00 dari jerih payah kerjanya 
tersebut akan menjadi amal salehnya. 

Seorang ulama lainnya juga mengingatkan tentang berlakunya salah satu hukum 
Allah SWT, yaitu qishash. Namun, qishash bukan dalam pengertian nyawa dibalas 
dengan nyawa, tetapi lebih luas lagi, yaitu suatu perbuatan akan dibalas dengan 
perbuatan yang setimpal. Dia menekankan tentang ketertiban seorang mukmin 
sejati dalam menaati berbagai peraturan, termasuk peraturan negara yang telah 
ditetapkan untuk suatu kebaikan. 

Sebuah contoh kecil: peraturan lalu lintas. Apabila seseorang sering melanggar 
lampu merah dan berbagai peraturan lalu lintas lainnya, tidaklah pantas baginya 
merasa sakit hati ketika orang lain pun kemudian melanggar peraturan yang 
dibuatnya, entah di kantor ataupun di rumah. Bukankah dia pun sering melanggar 
peraturan yang telah dibuat orang lain?

Kesemua paparan di atas mungkin terkesan remeh dan tidak memperlihatkan sesuatu 
yang besar, terlebih apabila dipandang melalui berbagai hasrat untuk melakukan 
perubahan secara revolusioner. Akan tetapi, bukankah manusia memang harus 
menimbang kemampuan dan kesempatan? Lagi pula, bukan tidak mungkin berbagai 
perbuatan kecil tersebut suatu ketika pun akan berdampak besar. Alquran pun 
menegaskan hal seperti ini dengan mengingatkan bahwa barangsiapa membunuh satu 
jiwa, maka itu sama dengan membunuh semua jiwa. Begitu pula apabila seseorang 
menghidupkan satu jiwa, itu sama dengan menghidupkan semua jiwa (lihat QS 
Al-Maidah [5]: 32). Ternyata kebaikan yang hendak manusia lakukan tidaklah 
harus berupa sesuatu yang bersifat kolosal dan menyentuh semua manusia. Begitu 
pula halnya dengan keburukan.

Bayangkan orang tua yang mendidik dan mencontohkan kepada anak-anaknya untuk 
senantiasa menaati berbagai peraturan, baik aturan agama maupun negara serta 
kemasyarakatan, juga mendidik dan mencontohkan untuk senantiasa balik memberi 
melebihi dari yang diterimanya. Oleh karena itu, setiap kali anak-anaknya 
menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan mereka masing-masing, bukankah sang 
orang tua pun akan mendapatkan aliran kebaikannya? Dan bayangkan ketika ajaran 
kebaikan tersebut berlanjut pula hingga cucu-cucunya? 

Bayangkan pula apabila orang tua tersebut ternyata tengah mendidik seorang anak 
yang akan menjadi orang besar di kemudian hari, misalnya nabi (untuk masa 
lalu), atau ulama atau malah seorang pemimpin besar sebuah bangsa. Bayangkan 
ketika sebuah bangsa diubah dan dibawa menuju ke kemakmuran dan keadilan oleh 
seorang nabi atau pemimpin yang yang adil, bukankah segala kebaikan yang 
diajarkan oleh sang anak kepada sekian juta manusia yang dipimpinnya akan 
mengalir juga kepada orang tua yang telah mengajarkan semua kebaikan tersebut 
kepada sang anak? Tak salah apabila Rasulullah saw bersabda bahwa ketika anak 
Adam meninggal dunia, terputuslah semua perkara kecuali tiga hal: harta yang 
dibelanjakan di jalan Allah, ilmu yang diamalkan, dan doa anak yang saleh.

Sebaliknya, bayangkan seorang koruptor membawa uang hasil korupsi ke rumahnya. 
Kemudian uang tersebut dibelanjakan menjadi makanan yang masuk ke dalam tubuh 
anak-anaknya. Makanan tersebut kemudian berubah menjadi daging pembentuk tubuh 
anak-anaknya dan pada gilirannya nanti akan memcemari karakter anak-anaknya. 
Bayangkan pula, bagaimana jadinya ketika di masa depan salah seorang anaknya 
menjadi pembesar negara dan melakukan korupsi juga? Sebuah keburukan di 
tingkatan keluarga tersebut semakin teramplifikasi menjadi merugikan negara dan 
masyarakat banyak.

Allah SWT sendiri telah mencontohkan bahwa barangsiapa berinfak, Dia akan 
membalasnya 700 kali lipat (yaitu, seperti satu benih yang tumbuh menjadi 7 
batang dan tiap batang berbuah seratus, lihat QS Al-Baqarah [2]: 261). 

Demikianlah, Islam mengajari agar manusia senantiasa seperti lautan, yaitu 
membalas keburukan yang masuk dengan mengeluarkan berbagai kebaikan, dan juga 
balik memberi dengan melebihi daripada yang diterima seperti dalam bekerja. 
Sementara itu, korupsi adalah sebaliknya, mengambil lebih daripada yang 
seharusnya diterima.*** 

Penulis, editor pada penerbit Jalasutra


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke