=================================
Seri : "Membangun Keluarga Indonesia"
=================================
[EQ]
CHRISYE SEBUAH MEMOAR MUSIKAL
[Naga Legendaris INDONESIA]
Oleh : Alberthiene Endah
Bermimpilah,
sebab harapan akan memberi hidup
Berkaryalah,
sebab seni akan memberi makna
[Naga belajar . . . sampai menutup mata]
16. Jatuh Sakit
Kalimat Pi, saya mau berhenti kuliah adalah kalimat yang sangat berat saya
ucapkan. Bukan lantaran takut, tapi juga ada rasa tak tega. Saya bisa
bayangkan, bagaimana paras Papi jika mendengar kalimat itu meluncur dan bibir
saya. Terlebih bila kelanjutan kalimat diteruskan:
dan saya, ingin jadi
pemusik saja. Bisa kiamat.
Di zaman itu, tahun 1972, jadi pemusik bukan profesi yang membanggakan
orangtua. Mereka yang menggeluti seni panggung dipandang sebagai orang-orang
mentok yang sudah tak tahu mau ngapain lagi. Pendeknya, nggak bermasa depan
cerah.
Ini fenomena yang sungguh berbeda dengan zaman sekarang, ketika kejayaan
industri musik telah menelurkan satu paradigma baru dalam karier bermusik, tak
ada yang memalukan dari musik jika itu sesuatu yang bagus, menghibur, dan
mengagumkan. Tak ada yang salah dari musik. Bahkan ketika seorang pemusik lebih
menekuni kariernya dan tak sekolah tinggi-tinggi, orang juga tidak melihat
cacat di dirinya.
Tapi, di zaman saya, meninggalkan bangku kuliah demi musik adalah aib. Saya
tidak sedang mengatakan musik jauh lebih bagus ketimbang kuliah. Atau kuliah
adalah barang tak perlu jika dibandingkan musik. Dalam konteks pemikiran saya
saat itu, saya meneropong sesuatu yang jauh lebih dalam. Yakni, pilihan mana
yang bisa menghidupkan saya, lahir dan batin. Menjadi karyawan berkat ilmu di
bangku kuliah yang tidak cocok dengan minat saya, barangkali akan menghidupkan
saya secara lahir. Tapi batin, tidak. Tapi bermusik, jelas akan menghidupkan
secara batin. Lahir? Saya yakin bisa memperjuangkan itu! Walau sebegitu
yakinnya, toh mengucapkan kalimat jujur pada Papi seperti menggulirkan setetes
air di atas pasir. Lenyap sebelum bergerak. Nyali saya ciut.
Berhari-hari setelah kabar mengenai kesempatan mentas di New York muncul,
saya hanya jadi penonton, nelangsa di antara riuh-rendahnya grup Gipsy yang
merencanakan ini itu di sana. Saya tahu, buat grup kami, ini luar biasa. Sangat
luar biasa!
Manggung di sebuah resto di New York dengan kontrak hampir satu tahun! Saya
tidak sedang membicarakan kehidupan musik era milenium, saat mentas manca
negara sudah bukan cerita baru. Harap dimengerti, ini terjadi di tahun 1972!
Rupanya Pontjo memiliki jalur khusus yang membuat kami bisa mendapat kontrak
gemilang ini.
Lu pasti ikut kan, Chris! Gauri menanyakan pada saya.
Sahabat saya terdekat ini memang orang yang paling mengerti diri saya. Dia
tahu persoalan beda pendapat saya dengan Papi. Saya tak langsung menjawab. Gue
harap lu bisa lihat potensinya kalau lu berangkat. Ini titik tolak, Chris!
Gauri membujuk.
Saya masih sulit menjawab. Dalam pikiran saya, kalau selama ini saya main
kucing-kucingan agar Papi tak terlalu memperhatikan kiprah musik saya, mungkin
masih bisa. Tapi, ke New York setahun? Ini masalah besar. Dan saya tahu persis,
Papi tak bakal diam.
Di rumah saya mendadak jadi pendiam. Rasa gamang dan sedih bergumul jadi
satu. Saya melihat Papi sama sekali tidak mencium perasaan saya karena dia
bersikap wajar dan tetap rutin mengingatkan saya pergi kuliah. Situasi ini yang
bikin saya makin susah mengajukan permohonan.
Dalam hati kecil saya, ada rasa sesal, kenapa sejak dulu nggak terus terang
sama Papi, bahwa arah hidup saya sudah cenderung berlari pada musik. Kalau
nggak ada angin nggak ada hujan saya ngomong mau manggung di New York, itu sama
saja mengirim gempa bumi ke Papi.
Mami dan Joris rupanya bisa menangkap kegelisahan saya. Joris agaknya
diam-diam menceritakan problem saya pada Mami.
Kamu serius mau ikut ke sana? tanya Joris. Saya mengangguk.
Kamu harus bilang blak-blakan sama Papi. Yang jelas, yang gamblang. Supaya
kamu nggak tersiksa. Papi juga nggak merasa dikhianati, ujar Joris. Benar juga.
Mami otomatis jadi tempat curhat saya. Intinya, sangat mengerti gejolak hati
saya. Dia paham betul bagaimana cintanya saya pada musik. Dan walau dia
mengatakan hal senada dengan Joris, tapi hati saya tetap bimbang. Rasa simpati
yang besar pada segala perjuangan Papi membuat saya merasa sangat berdosa bila
melukai perasaannya.
Pergolakan batin ini tak urung memengaruhi fisik saya. Sudah banyak mikir,
saya jarang makan pula. Saya sakit. Tubuh saya demam tinggi. Mami nggak tahu
kalau saya sakit, sampai dia memekik kaget saat masuk ke kamar dan saya
menggigil dengan suhu tubuh yang sangat tinggi!
Itu adalah saat-saat yang begitu menyengsarakan psikis saya. Berhari-hari
tidur dalam selimut tebal, benak saya mati-matian menumpas segala keinginan
untuk ke New York. Ketimbang perang dengan Papi, lebih baik saya perang dengan
diri sendiri. Saya pikir, Jakarta barangkali masih menawarkan jalan lain untuk
bermusik.
Dan Joris saya tahu, anak-anak keluarga Nasution dan pasukan band baru sudah
makin mantap bersiap berangkat ke New York. Personel yang berangkat waktu itu,
Adjie Bandi (biola dan saksofon), Lulu (saksofon), dan Rully Johan (keyboard),
Keenan (drum), dan Gauri (gitar). Pontjo sendiri tidak ikut main karena dia
sudah begitu sibuk mengurusi bisnis dan saat itu dia ada satu urusan ke Tokyo.
Dia rencananya hanya akan mengantar sampai New York dan menjenguk sesekali.
Mereka berlatih berbagai lagu top 40 dengan sangat keras. Ya, bagaimana nggak
keras, Gipsy akan tampil di depan masyarakat musik sekelas Amerika! Tapi, Gipsy
juga berlatih lagu-lagu Indonesia, sesuai permintaan pihak restoran di sana.
Kabarnya penontonnya juga ingin menonton atraksi khas Indonesia, termasuk
musiknya.
Selama persiapan berlangsung, saya hanya bisa gigit jari. Awal tahun 1973
mereka berangkat. Kondisi saya yang cukup parah disadari mereka sebagai sinyal
bahwa saya memang tidak bisa berangkat. Meskipun mereka sangat menyayangkan hal
ini.
Gimana sih lu, Chris! Kita dapet job begini hebat, lu malah sakit. Ah, nggak
bakat jadi orang hebat lu! Mereka berguyon. Gauri paling sedih. Dia berharap
sekali saya ikut. Dia sendiri ikut karena sekalian ingin melihat-lihat
kesempatan untuk mengambil sekolah art dan desain. Dia memang punya bakat seni
grafis. (Kelak Gauni terus setia berjalan dengan saya sebagai perancang grafis
album dan konser saya).
Gauri juga mengatakan, Pontjo sebetulnya mengharapkan saya jadi pimpinan band
selama di New York.
Lu boleh sakit sekarang, tapi kalau udah sembuh, tiket lu masih ada! Gauri
masih berusaha membuka lagi celah hasrat saya.
Hari pertama kepergian mereka, saya tidak lagi mendengar bunyi musik latihan
di rumah sebelah. Mereka sedang bersorak menangkap peluang di sana. Sepi
sekali. Saya seperti ditinggal begitu jauh. Dan rasa kehilangan terhadap gairah
dan aura musikal benar-benar menyiksa saya. Dalam kondisi sakit, pikiran saya
kerap seperti dihampiri suara lengkingan gitar, betotan bas, tabuhan drum.
Semua seperti menyeringai di kepala. Semua bayangan itu tak mau pergi. Saya
masih ingat waktu itu saya menangis diam-diam di kamar.
[bersambung]
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]