Refleksi: Koalisi untuk rakyat ataukah koalisi untuk menang Pemilu yang akan 
datang? Kemudian setelah menang Pemilu rakyat dilupakan, ibarat habis manis 
sepah dibuang? Pengalaman adalah guru terbaik!

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/06/29/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
TAJUK RENCANA I

Koalisi untuk Rakyat
ampak pertemuan petinggi dua partai politik (parpol) besar di Indonesia, Partai 
Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), di Medan pekan lalu, 
masih terasa hingga kini. Berbagai pandangan, baik yang pro maupun kontra, 
terus bermunculan di media massa. Hal itu bisa dimaklumi karena koalisi, 
aliansi, kerja sama, silaturahmi, atau apa pun namanya, yang dilakukan dua 
parpol besar, pasti membawa dampak pada dunia politik Indonesia. 
Belum lagi publik mengetahui dengan lebih jelas tindak lanjut pertemuan Partai 
Golkar-PDI-P, politisi dari parpol lain yang menghuni Senayan, segera mengambil 
langkah reaktif. Tanpa berpikir panjang, mereka pun menjalin koalisi sejenis. 
Para politisi dari parpol menengah dan kecil, seperti Partai Amanat Nasional 
(PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 
Partai Bintang Reformasi (PBR), dan Partai Damai Sejahtera (PDS), menggelar 
pertemuan di sebuah hotel mewah di kawasan Senayan. 

Diinformasikan, pertemuan delapan fraksi di DPR yang berasal dari partai 
menengah dan kecil itu hanya untuk menyatukan pandangan mereka terhadap paket 
rancangan undang-undang (RUU) bidang politik yang akan dibahas dalam waktu 
dekat. Tetapi kabar lain menyebutkan pertemuan itu merupakan bentuk 
"perlawanan" terhadap kedua partai besar yang mengklaim diri sebagai partai 
nasionalis. Klaim itu ditafsirkan seolah parpol lain, di luar Golkar dan PDI-P, 
tidak nasionalis. Sungguh menggelikan klaim-klaim seperti itu! 

Kita berpandangan parpol memiliki hak untuk saling bekerja sama dalam upaya 
membangun bangsa ini. Embrio untuk membangun koalisi yang kini mulai 
bermunculan, tentu sah-sah saja. 

Tetapi kita mengingatkan agar setiap langkah politik yang ditempuh tidak 
reaktif dan betul-betul telah dikaji de ngan matang. Satu hal penting yang 
harus diingat oleh para politisi, terutama para petinggi parpol adalah tugas 
untuk mencerdaskan anak bangsa dalam bidang politik. Politik yang cerdas itu 
harus didedikasikan untuk membangun bangsa dan menyejahterakan seluruh rakyat, 
bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. 

Sejauh ini kita menangkap kesan bahwa kerja sama yang dijalin parpol hanya 
bersifat sesaat dan untuk kepentingan sempit. Buktinya, dalam kaitan dengan 
paket RUU bidang politik, Golkar dan PDI-P berkeinginan untuk memperkecil luas 
daerah pemilihan (dapil) pada Pemilu 2009. Artinya, ada keinginan menambah 
jumlah dapil. Kuota kursi di setiap dapil juga diusulkan dikurangi menjadi 
maksimal 9 kursi, dibanding sebelumnya maksimal 12 kursi pada Pemilu 2004. 
Pengurangan kuota kursi setiap dapil tentu saja menimbulkan kekhawatiran 
partai-partai kecil dan menengah, yang pada Pemilu 2004 banyak diuntungkan 
dengan mendapat kursi dari sisa suara. 

Keinginan lain dari dua parpol besar itu adalah perbaikan mekanisme 
penghitungan suara. Usulan itu muncul karena metode penghitungan sisa suara 
yang dilakukan pada Pemilu 2004 terkesan menguntungkan partai-partai kecil dan 
menengah. 

Keinginan tersebut tentu mendapat reaksi keras dari parpol, di luar Golkar dan 
PDI-P. Partai-partai kecil dan menengah tentu saja tak mau kehilangan kursi di 
lembaga legislatif karena ada perubahan aturan main dalam Pemilu 2009. Lahirlah 
koalisi parpol lain untuk menandingi koa lisi kedua parpol besar itu. 

Sayangnya, koalisi parpol itu lebih didasarkan pada niat untuk mempertahankan, 
bahkan memperluas kekuasaan yang sudah dalam genggaman. Seharusnya, koalisi itu 
dibangun untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan sempit orang-orang parpol! 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 29/6/07 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke