Refleksi: Money, money is the rich mens“ world... Baru untuk petinggi daerah 
sudah begitu, bagaimana bisa orang Papua, Flores, Timor etc bisa jadi calon 
presiden Republik Indonesia? 

http://www.gatra.com/artikel.php?id=105779

Pilkada DKI

Uang Muka Calon Gubernur



Dosis kesibukan Slamet Kirbiantoro, 59 tahun, sudah menurun akhir-akhir ini. 
Usai bertarung dalam bursa calon Gubernur DKI Jakarta, ia mengaku babak belur. 
Selain namanya tidak lolos sebagai calon tetap, pensiunan jenderal itu kini 
mengaku harus menanggung banyak utang. Tanggungan kepada pihak ketiga ini, 
katanya, adalah biaya pengeluaran ketika dia mencalonkan diri sebagai peserta 
pemilihan kepada daerah (pilkada) DKI Jakarta.

Pada bursa pemilihan calon Gubernur Jakarta yang berlangsung selama setengah 
tahun terakhir, pensiunan jenderal bintang dua kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah, 
18 Maret 1948, itu mengaku "diperas" oleh sejumlah partai politik. Agar namanya 
masuk sebagai calon tetap, mantan Pangdam Jaya itu telah mengeluarkan dana 
sejumlah Rp 2,25 milyar. Dana ini diberikan kepada pengurus partai agar dirinya 
lebih diperhitungkan.

Sumber Gatra yang dekat dengannya mengungkapkan, dana tersebut disetor kepada 
pengurus dua partai besar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Masing-masing sebesar Rp 1 milyar dan Rp 
1,25 milyar. Kirby, demikian alumnus Akademi Militer tahun 1970 itu dipanggil, 
mengaku diberi janji manis calon tetap Gubernur atau Wakil Gubernur DKI.

Untuk itulah, mantan Komandan Satuan Intelijen Badan Intelijen ABRI (BIA) 
tersebut mengaku tak ragu melepas fulus. Setoran itu, katanya, diberikan 
langsung kepada pengurus teras partai politik bersangkutan. Penyerahannya tidak 
kepada bendahara atau ketua partai secara formal, melainkan diterima 
perorangan. Tidak pula disertai tanda terima atawa tanda bukti yang lain. Yang 
jelas, katanya, di antara penerimanya adalah pengurus partai yang sedang pada 
"posisi puncak". Dana yang digelontorkan Kirby itu disetor dalam sembilan giro 
bilyet dengan pecahan Rp 250 juta.

Rinciannya, lima giro diserahkan kepada pengurus partai berlambang banteng 
gemuk, sisanya diberikan kepada pengurus partai berlogo Ka'bah. Setoran itu 
mulai diberikan sejak enam bulan lalu. Intensitasnya semakin meningkat 
menjelang penentuan calon tetap, akhir Mei lalu.

Rupanya janji manis partai politik tak sama dengan janji prajurit. Meski sudah 
kadung memberi setoran, nama Kirby tak nongol sebagai calon jadi. PDIP dan PPP, 
yang merupakan bagian dari 16 partai yang tergabung dalam Koalisi Jakarta, 
malah mengusung pasangan Fauzi Bowo-Prijanto.

Merasa tertipu, Kirby bermaksud menagih kembali dana yang telanjur 
disetorkannya. Sayang, itu tak mudah. Rombongan tujuh orang yang diutusnya 
menagih ke kantor PDIP DKI Jakarta, Kamis tiga pekan silam, berujung bentrok 
dengan satgas tuan rumah. Seorang penagih, Ahmad Soleh, terluka di tangan kena 
sabetan belati. Peristiwa ini tengah ditangani Polres Metro Tebet, Jakarta 
Selatan.

Beberapa calon gubernur yang namanya sempat muncul dalam bursa penjaringan 
pilkada mengaku diporoti partai politik. Jumlah totalnya belasan milyar rupiah. 
Selain Slamet Kirbiantoro, tokoh lain yang mengaku diporoti adalah Mayjen 
(purnawirawan) Edi Waluyo sebesar Rp 4 milyar, Mayjen (purnawirawan) Djasri 
Marin Rp 2,5 milyar, dan Mayjen (purnawirawan) Asril Tandjung Rp 3,7 milyar.

Selain yang memilih blak-blakan, disinyalir banyak "korban" lain yang memilih 
diam. Beberapa nama jenderal dan sipil sempat beredar pada babak penjaringan 
bakal calon gubernur. Antara lain Agum Gumelar, Bibit Waluyo, Hendro Priyono, 
Sjafrie Sjamsoeddin, Farial Sofyan, dan Faisal Basri.

Aliran dana itu tentu saja membuat pundi-pundi partai makin gemuk. Di pihak 
lain, calon yang bersangkutan merasa diperas. Padahal, untuk meraih peluang 
yang lebih besar, sang calon sering masuk melalui beberapa pintu partai 
politik. Masing-masing punya harga sendiri.

Djasri Marin, misalnya, mengaku masuk melalui berbagai pintu. Pada awal 
penjaringan, ia mengaku didukung delapan partai Koalisi Jakarta. Dukungan ini 
tentu saja tak gratis. Terang saja, kantongnya jadi kebobolan. "Duit kami 
dirampok, tapi mereka mendukung yang lain," kata Djasri Marin, salah satu calon 
yang kandas melalui pintu PPP dan PDIP. Kepada Gatra ia mengaku telah 
mengeluarkan dana besar, tapi ternyata cuma gula-gula politik. "Saya malas 
ngomong itu lagi," katanya setengah frustrasi.

Ia melihat, uang yang telah dikeluarkan bukanlah investasi politik. Karena 
partai tidak memberi kesempatan kepadanya bertarung dalam kancah pilkada. "Ini 
kan tidak fair," ujarnya. Selama masa penjaringan saja, mantan Komandan Puspom 
TNI itu mengaku merogoh kocek sebesar Rp 3 milyar. "Untuk mendaftar saja, 
mereka memungut hingga Rp 50 juta," katanya.

Sesudah itu, harus menyumbang untuk setiap kegiatan partai, misalnya musyawarah 
kerja atau rapat kerja khusus, bahkan acara gerak jalan. Djasri mengaku, 
pengeluaran sebesar itu dikucurkan kepada PDIP dan PPP.

Partai-partai besar memang dituding paling banyak menerima dana setoran. Meski 
hal ini bukan lagi desas-desus, PDIP memilih menutup kasus ini. "Kami sudah 
menutup kasus ini karena penerimaan partai tidak pernah terbukti," kata salah 
satu Ketua DPP PDIP, Tjahjo Kumolo, kepada Gatra.

Padahal, di awal kasus ini merebak, partai tersebut langsung memeriksa lima 
pengurus daerah. Mereka adalah Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Agung Imam Sumanto, 
Wakil Ketua Bidang Pemilu Audi I.Z. Tambunan, Wakil Ketua Bidang Organisasi 
Supandi, Wakil Ketua Bidang Pemuda Mahasiswa Marsudi Prasetya Edi, dan 
Sekretaris Eriko Sotarduga.

Namun serentetan aksi partai ini terkesan hanya formalitas. Penutupnya tetap 
happy ending. Menurut Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP DKI Jakarta, Audi 
Tambunan, pihaknya merasa malu dengan tudingan para calon yang tak lolos itu. 
Ia menjelaskan, dalam bursa pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang 
lalu, pihaknya tidak menerapkan tarif mahar politik seperti ditudingkan selama 
ini. Namun ia mengakui adanya sejumlah setoran giro atau uang tunai yang 
diberikan beberapa calon kepada partai. "Itu dana sosialisasi," tuturnya.

Dana tersebut digunakan partai untuk melakukan kegiatan yang terkait dengan 
kepentingan pencalonan yang bersangkutan. Hal ini, katanya, secara kelembagaan 
dapat dibenarkan. "Kami tidak pernah meminta uang untuk alasan yang tidak 
jelas," ia menambahkan. Audi mencontohkan, untuk sebuah pertemuan yang 
diselenggarakan antara kandidat dan kader di tingkat cabang, seluruh biaya 
dibebankan kepada kandidat, mulai sewa tempat, makan, minum, hingga seragam.

Biaya untuk acara seperti ini bisa cukup tinggi, terutama apabila pertemuan 
atau acara lain diselenggarakan di hotel atau gedung. Itu semua, tambahnya, tak 
lebih dari biaya politik yang wajar harus dikeluarkan. "Tak mungkin mereka mau 
gratis," katanya. Atas segala tudingan yang diarahkan kepadanya, ia mengaku 
siap memberikan jawaban. Bahkan ia siap berhadapan di depan hukum. "Daripada 
mengirim orang yang membuat keributan," ujar Audi.

Mujib Rahman dan Bernadetta Febriana
[Nasional, Gatra Nomor 33 Beredar Kamis, 28 Juni 2007] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke