tunglisan Moslim waras di Indon.
3 july 2007,selasa bijaksana

Fuzail, raja perampok yang sedang berusaha merampok sebuah rumah, 
tiba-tiba merasa bagaikan kena pesona dan kontan menggigil ketika 
mendengar suara lembut orang membaca Al Quran. Dia kemudian menjadi 
salah seorang "raja" di dunia kaum sufi. 

____
komentaranku
hehehe,jaman kini,malah kebalik,

di Indon mah,

orang membacak Al Quran,malahan JADI RAMPOK?

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

hehehe,kali inih,

daku cuman merilis hajah,

satu masupan yang menyejukken tentang Islam

yang punyak kewangrasan berprilakuh.

dan kudunyah didenger dan dilakuken jugak

oleh para kalian.

sbb.

Masdjid dan tempat ibadah lain 


Meskipun tulisan kang Sobary dibawah ditujukan untuk pengunjung 
Madjid, saya kira sangat relevan bagi penganut agama lain, bukan 
hanya untuk ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat, tapi juga 
bagaimana membuat orang lain tertarik pada agama tersebut.

dari siti
 
 
 
ASAL USUL Masjid

Mohamad Sobary 

Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya—maksudnya Gusti Kanjeng 
Nabi Muhammad SAW—dari Masjidil Haram (di Mekkah) ke Masjidil Aqsa 
(di Palestina). Momentum besar ini terjadi pada malam hari dan kita 
peringati sebagai bagian permulaan sejarah Islam. Kita pun 
menyebutnya dalam nyanyian Isra' dan Mi'raj yang kita nyanyikan 
dengan khusyuk dan penuh kehormatan, sebagai "malam suci, malam yang 
selalu diperingati". 
Ini nyanyian pada masa kanak-kanak dulu, tetapi hingga kini saya 
masih selalu bersenandung di dalam hati sambil meresapkan kembali 
keagungan malam itu ketika Rasulullah SAW memulai perjalanannya 
dengan shalat dua rakaat di Masjidil Haram dan setiba di Masjidil 
Aqsa shalat dua rakaat lagi, dengan kekhusyukan tingkat Nabi yang 
demikian total, bagaikan pertemuan dua kekasih yang saling 
merindukan. 
Masjid, rumah Allah, tempat kedamaian. Kita menyebutnya tempat yang 
penuh berkah, bagaikan sekeping surga di Bumi. Di sini kita betah 
duduk, berdoa, ber-munajad, bersyukur, dengan kedalaman jiwa yang 
tulus, dan penuh damai, sambil tak lupa memelihara kedamaian orang 
lain yang tinggal di sekitar masjid. 
Tiap saat kita sowan ke rumah Allah, kita menggunakan adab 
sebagaimana layaknya tamu terhormat. Jadi, tak perlu berteriak, apa 
lagi jejeritan. Anak-anak—namanya juga masih anak-anak—boleh saja 
berisik di sana. Tetapi, pantaskah orang dewasa berbuat begitu? 
Apalagi pada malam hari saat orang lain sedang nyenyak tidur. Tak 
pantas mereka diganggu. 
Patut diingat, mereka yang di rumah juga berhak merasa damai. Maka, 
janganlah kedamaian mereka kita koyak. Jangan beri orang lain 
kesempatan merasa antipati kepada kita. Bila mereka kita hormati, 
mereka pun akan membalas dengan kehormatan lebih besar. 
Takbiran, tahlilan, salawatan, membaca ayat-ayat Allah, juga azan, 
hendaknya dengan suara lembut. Dan, bila kita memang hendak 
berbicara dengan bahasa hati, pilihan suara kita harus suara lembut. 
Kelembutan itu membuat apa pun yang kita baca meresap di hati kita 
dan hati mereka yang mendengar. Jangan lupa, yang tak datang ke 
masjid pun ada pula yang sedang berzikir dengan khusyuk. Di luar 
masjid ada pula hamba-hamba yang mencoba lebih saleh dan karena itu 
mereka pun memerlukan suasana hati yang jauh dari kebisingan dan 
polusi suara. 
Pendeknya, mereka pantas dihormati. Lagi pula, syiar Islam tak perlu 
berteriak keras. Syiar dengan kelembutan justru menimbulkan rasa 
simpati dari pihak lain yang tak hadir di masjid. 
Abu Bakar tergetar jiwanya dan musuh besar Nabi itu tiba-tiba 
menyatakan "takluk" dan masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat 
Allah dibaca dengan kesyahduan yang dalam, bukan dengan berteriak. 
Dan, Fuzail, raja perampok yang sedang berusaha merampok sebuah 
rumah, tiba-tiba merasa bagaikan kena pesona dan kontan menggigil 
ketika mendengar suara lembut orang membaca Al Quran. Dia kemudian 
menjadi salah seorang "raja" di dunia kaum sufi. 
Adab yang kita jaga untuk diri sendiri bisa memiliki dampak sosial 
lebih besar di hati orang lain. Diam-diam adab ternyata juga mampu 
membentuk kekuatan sosial untuk membangun kebersamaan dengan cinta 
dan kehormatan. 
Lalu serempak dari masjid ke masjid semua kidung rohani 
bermetamorfosis menjadi solidaritas sosial yang bisa diterjemahkan 
menjadi kekuatan ekonomi riil dan hidup kita membaik. 
Betapa mulianya kita bila di semua bagian dalam masyarakat 
kecenderungan ini kita kelola dengan baik dan terfokus untuk 
mengubah tata hidup sosial, politik, dan kebudayaan kita. 
Namun, kita telah menyia-nyiakan potensi besar bangsa dan membiarkan 
keburukan demi keburukan berlangsung terus di depan hidung kita 
setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari yang panjang 
dalam hidup kita. Kita abaikan tata kelola masjid—governance—yang 
baik dan kita biarkan abad demi abad lewat dan meninggalkan kita 
dalam kemiskinan dan keterbelakangan. 
Kita tak bisa mengapitalisasikan kekuatan budaya kita untuk mengubah 
hidup dan mengatasi masalah bangsa. Momentum demi momentum kita 
lewatkan tanpa jejak apa pun dalam hidup kita. 
Lalu, setiap hari kita menyalahkan orang lain. DPR menuding 
pemerintah. Media sibuk memberitakan hanya apa yang bisa membikin 
publik cemas dan jarang melihat barang baik yang dijadikan berita 
baik. Pembaca yang membayar dibiarkan tak memperoleh setetes pun 
harapan masa depan. 
Sekarang ini apa yang disebut civil society itu luar biasa 
garangnya. Di mata mereka tak ada pihak yang patut dihormati. Semua 
pihak dicerca dalam demo-demo. Juga lewat media. 
Kita lupa, pengorganisasian kehidupan civil society kita pun tidak 
transparan dan masih cenderung elitis. Di Masjid Agung Baiturrahman, 
Banda Aceh, saya kaget melihat tampilnya "birokrasi" yang tak 
mencerminkan kemerdekaan Islam. 
Pada saf terdepan, ditulis untuk wali kota, kepala kejaksaan tinggi, 
ketua pengadilan tinggi, Rektor IAIN, Pangdam Iskandar Muda, Kepala 
Polda, Ketua DPRD, Wakil Gubernur, Gubernur, imam besar, imam 
pengganti, khatib, protokol, operator. Di saf kedua tempat qari, 
muazin pengganti, dan muazin, tempatnya persis di depan corong. 
Saya tak berani lama-lama di situ, siapa tahu ada operasi status 
sosial untuk menempatkan orang sesuai jabatannya. Di sana saya lupa 
bahwa saya ada di masjid.  

 


Kirim email ke