http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=8873
Selasa, 03 Juli 2007, Penduduk Miskin Tahun Ini 37,17 Juta Data Terbaru BPS, Setahun Turun 2,13 Juta JAKARTA - Dalam setahun, jumlah penduduk miskin di Indonesia turun sekitar 2,13 juta jiwa. Ini data terbaru yang diungkap BPS (Badan Pusat Statistik) kemarin. Jika dirinci lebih lanjut, jumlah penduduk miskin hingga Maret 2007 mencapai 37,17 juta orang (sekitar 16,58 persen dari total penduduk). Pada bulan yang sama tahun lalu, jumlahnya 39,30 juta orang (17,75 persen). Penurunan itu sudah diprediksi beberapa ekonom yang tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit (TIB). Iman Sugema, ekonom dari TIB, saat itu mengatakan, jumlah penduduk miskin mustahil berkurang. Sebab, daya beli rakyat kecil terus merosot. Tapi, dia menduga, tahun ini jumlah penduduk miskin versi BPS akan turun karena intervensi pemerintah. Intervensi yang dimaksud, seperti diungkap Iman, adalah pemanggilan sejumlah petinggi BPS oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelum data BPS soal angka kemiskinan itu dirilis ke publik (baca JP 2/7). Benarkah? Menanggapi kecurigaan itu, BPS punya jawaban sendiri. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Arizal Ahnaf kemarin mengatakan, penduduk yang dikategorikan miskin adalah yang berada di bawah garis kemiskinan menurut penetapan BPS. Garis kemiskinan pada Maret 2007 naik 9,67 persen, yakni dari Rp 151.997 per kapita per bulan pada Maret tahun lalu menjadi Rp 166.697. Karena itu, penduduk miskin adalah yang konsumsi per bulannya kurang dari Rp 166.697 per bulan. "Kita mengukur konsumsi karena lebih mudah menghitungnya," kata Arizal di kantornya kemarin. Penduduk miskin di desa berkurang 1,20 juta, sedangkan di kota berkurang 930 ribu orang. "Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan pedesaan tak banyak berubah. Sebagian besar atau 63,52 persen berada di pedesaan," ujar Arizal. Menanggapi data BPS tersebut, anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo mengatakan, jumlah penduduk miskin yang dirilis BPS merupakan angka yang mustahil. "Bagaimana mungkin angka kemiskinan 2007 turun di tengah mahalnya harga sembako seperti minyak goreng," kata Dradjad kemarin. Dengan garis kemiskinan yang meningkat 9,67 persen, tidak masuk akal jika justru lebih banyak masyarakat yang terentas dari garis itu. Dengan naiknya garis kemiskinan, jumlah yang terseret ke kategori miskin mestinya lebih banyak. Rakyat miskin memang mungkin terentas dari garis kemiskinan jika kenaikan pendapatannya bisa melebihi peningkatan garis kemiskinan 9,67 persen. "Tapi tidak logis kalau pendapatan rakyat miskin jauh di atas pertumbuhan PDB (produk domestik bruto)," kata Dradjad. Sedangkan pertumbuhan PDB selama kuartal terakhir saja hanya 6 persen. Menurut Dradjad, data kemiskinan versi BPS itu jelas bertentangan dengan realitas masyarakat. "Politisasi statistik sekarang benar-benar jauh lebih parah daripada masa Orde Baru," kata Dradjad yang juga ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tersebut.(sof [Non-text portions of this message have been removed]
