http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/04/0902.htm

Korelasi Populasi Penduduk dan HIV/AIDS 
Oleh US TIARSA S. 
  KITA boleh tidak percaya. Hasil penelitian Pusat Informasi Konsultasi 
Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) Jawa Barat, menunjukkan angka hubungan 
seks pranikah (HSP), diprediksi naik. Survei terakhir tahun 2002 menunjukkan 
21,8% remaja Bandung melakukan HSP, Sukabumi 26,5%, dan Bogor menempati urutan 
tertinggi yakni 30%. Sedangkan LSM Sahara Indonesia yang hasil penelitiannya 
juga dikutip PIK-KRR/BKKBN Jabar, menyebutkan angka 44,8% remaja yang pernah 
melakukan HSP. 

Terjadi korelasi yang signifikan antara HSP dan kenaikan angka kehamilan di 
luar nikah (HLN) serta aborsi. Sumber Budi Utomo, 2001 yang dikutip dan 
dipublikasikan pada kalangan terbatas oleh BKKBN Jawa Barat, menyebutkan aborsi 
di Indonesia mencapai angka dua juta per tahun. HSP juga bisa berdampak pada 
pertambahan angka penderita HIV/AIDS. Memang ada penyebab lain, yakni narkoba 
suntik, tetapi HSP juga punya kontribusi terhadap meningkatnya penderita 
HIV/AIDS.

Rata-rata pengidap HIV dan penderita AIDS justru remaja usia produktif, antara 
20-30 tahun. Jumlahnya terus meningkat. Di Jawa Barat, pengidap HIV/AIDS itu 
sampai tahun 2006 tercatat 1.861 orang, terdiri atas pengidap HIV 1.32 dan 
penderita AIDS 539 orang. Kabupaten yang memiliki kasus HIV/AIDS terbanyak di 
Jabar ialah Kabupaten Cirebon ada 127 orang. Akan tetapi, kasus di Cirebon itu 
berbeda dengan di kabupaten lain. Di Cirebon penderita AIDS-nya 0, jadi angka 
127 orang itu pengidap HIV. Hal itu terjadi pula di Kabupaten Tasikmalaya, dari 
jumlah 112, penderita AIDS-nya juga 0.

Kota Bandung menempati urutan pertama terbanyak kasus HIV/AIDS dibandingkan 
dengan kota lain di Jawa Barat. Sampai tahun 2006 di Kota Bandung terdapat 798 
kasus HIV/AIDS (376 AIDS dan 422 HIV). Urutan kedua ditempati Kota Bekasi 223 
kasus (82 AIDS dan 141 HIV). Memang secara persentase, angka tersebut 
dibandingkan jumlah penduduk, tidak terlalu besar, namun perkembangan yang 
sangat pesat dari dua tiga kasus menjadi 798 kasus, termasuk luar biasa. Bila 
tidak ditanggulangi, kemungkinan besar, HIV/AIDS akan tersebar lebih luas.

Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa HSP, HLN, dan seks bebas yang berujung 
pada berjangkitnya HIV/AIDS, harus terjadi di masyarakat yang menjunjung tinggi 
moral agama? Itu tidak berarti moral bangsa kita sudah benar-benar hancur. 
Dekadensi moral itu memang terjadi dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. 
Namun, akar masalahnya terletak pada populasi penduduk. Persentase kelahiran, 
kematian ibu melahirkan, dan pengidap HIV/AIDS pada dasarnya belum terlalu 
tinggi bahkan angka kelahiran mengalami penurunan. Namun, karena jumlah 
penduduk Indonesia, khususnya Jawa Barat sangat besar, angka nominalnya tampak 
sangat besar pula.

Memang banyak faktor yang mendorong penyebaran berbagai penyakit sosial. 
Kontribusi media massa, khususnya televisi dan internet sungguh sangat besar. 
Pornografi, pendidikan seks yang salah kaprah, sikap budaya metropolis, 
penonjolan kemewahan, kekerasan, dan kebebasan tanpa batas, menjadi 
rempah-rempah mujarab bagi terbentuknya masyarakat hedonistis. Akan tetapi, 
arus global yang dahsyat sekalipun, tidak terlalu berpengaruh bila menerpa 
masyarakat yang memiliki ketahanan budaya, berpendidikan, dan sejahtera.

Kelebihan muatan

Penduduk Indonesia tahun 2015, menurut perhitungan berdasarkan pertumbuhan 
angka kelahiran, akan mencapai jumlah 244 juta jiwa. Angka itu masih mengacu 
pada angka kelahiran tahun 2000 yakni 1,49%, padahal angka kelahiran rata-rata 
tahun 2003 kembali ke angka 2,6%/ Bila persentase tahun 2003 itu yang 
digunakan, jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 mencapai angka fantastik, 261 
juta jiwa. Terjadi pertambahan penduduk 17 juta jiwa hanya dalam waktu 2-3 
tahun.

Jumlah penduduk sebesar itu mendekati titik awal kritis menuju ke eksplosif 
atau ledakan penduduk. Akibat paling parah akan dialami di Pulau Jawa, Madura, 
dan Bali. Daya dukung lahan tidak akan mampu lagi menopang kelebihan muatan 
(overload).Sanitasi buruk, tingkat pencemaran semakin tak terkendali, sumber 
air, sumber daya mineral, sumber daya energi, dan sumber daya alami lainnya 
akan terkuras habis.

Pertanda ke arah itu tampak semakin nyata. Hutan gundul, hampir semua sungai 
yang mengalir di Pulau Jawa mengalami pencemaran jauh di atas ambang batas. Air 
tanah terus-menerus mengalami penurunan di atas satu meter per tahun. Udara di 
semua tempat yang tadinya sejuk, kini semakin panas. Kerusakan lingkungan 
selalu berjalan bersamaan dengan pertumbuhan penduduk. Makin tinggi angka 
pertumbuhan penduduk, makin tinggi pula kerusakan lingkungan.

Semua target peningkatan kesejahteraan, pendidikan, dan ekonomi akan menjadi 
sia-sia apabila kita membiarkan pertumbuhan penduduk tanpa kendali. Angka 
kemiskinan dan pengangguran berlari lebih cepat daripada pencapaian tingkat 
kesejahteraan minimal penduduk Pulau Jawa. UNDP mengumumkan angka Indeks 
Pembangunan Sumber Daya Manusia yang bisa membuat kita terkesiap. Ternyata 
negara yang amat kita cintai ini berada pada urutan 117 dari 177 negara di 
seluruh dunia.

Ternyata pula, keikutsertaan kaum laki-laki Indonesia dalam KB sangat kecil 
(1,3%). Tampaknya persoalan KB di Indonesia masih dianggap persoalan kaum 
perempuan. Padahal, ada seloroh, laki-lakilah yang punya anak banyak, bukan 
perempuan. Seorang laki-laki beristri dua, punya anak tujuh dari istri pertama 
dan lima dari istri kedua. Artinya ia punya anak 12. Sedangkan istrinya 
masing-masing hanya punya anak tujuh dan lima. Itu memang seloroh, tetapi 
secara matematis laki-lakilah yang beranak banyak.

Angka kemiskinan terus meningkat. Hasil penelitian tahun 2004, dari jumlah 
penduduk Indonesia, 30% tergolong penduduk miskin. Angka itu cenderung terus 
meningkat sebanding dengan meningkatnya jumlah penduduk. Semua kota besar 
mengalami masalah berat yang sama pula. Masalah air bersih, sampah, 
pengangguran, kriminal, prostitusi, narkoba, kemacetan lalu lintas, semakin 
mengimpit kota. Belum lagi masalah rutin seperti korupsi, maraknya unjuk rasa, 
perlawanan atau penolakan terhadap kebijakan pemerintah, munculnya 
kelompok-kelompok masyarakat nonproduktif seperti preman, calo, pengemis, anak 
jalanan, dan segudang masalah lain yang sulit terselesaikan.

Impitan masalah yang tidak bisa dibiarkan itu bersumber dari populasi penduduk. 
Kita lengah dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Kita seolah-olah 
terbuai dengan keberhasilan KB sampai tahun 2000. Perhatian kita lebih terfokus 
pada perbaikan ekonomi dan arus politik praktis. Manajemen kependudukan semakin 
terabaikan. Transmigrasi sebagai salah satu subsektor manajemen kependudukan 
menyisakan berbagai masalah. Antara lain, penolakan dari daerah penerima, arus 
eksodus yang belum benar-benar terselesaikan karena masalah itu termasuk amat 
pelik. Jumlah transmigran (keluaran) jauh lebih rendah daripada arus migrasi 
(asupan). Contoh amat jelas, kepadatan penduduk Jawa Barat khususnya Bandung. 
Kota yang diproyeksikan hanya untuk 800.000 penduduk, kini dihuni hampir lima 
juta jiwa pada siang hari dan tiga juta pada malam hari.

Dengan penduduk sebesar itu, pemerintah akan selalu dihadapkan pada masalah 
sosial dan ekonomi yang amat berat. Begitu pula peningkatan pendidikan akan 
selalu terkendala. Persaingan dalam memilih sekolah berakibat panjang. 
Anak-anak yang berasal dari kelurga kurang mampu tidak bisa melanjutkan 
pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Oleh karena itu, keinginan terciptanya 
"keluarga berkualitas" amat sulit tercapai. Bangsa ini akan tetap tertinggal 
dari bangsa lain karena jumlah keluarga yang tidak berkualitas masih sangat 
besar.

Memang, alam tidak akan membiarkan muatannya melampaui batas kemampuannya. 
Selalu terjadi pengurangan jumlah penduduk melalui bencana alam, angka kematian 
yang cenderung meningkat, mewabahnya berbagai penyakit sehingga menimbulkan 
korban yang cukup banyak. Akan tetapi, sebagai manusia tidak boleh membiarkan 
pengurangan jumlah penduduk dengan cara seperti itu. Sebagai manusia, kita 
wajib memelihara kesehatan, menurunkan angka kematian, menghindar dari musibah 
alam, dan sebagainya. Paradoksal seperti itu amat lumrah, yang penting upaya 
penurunan angka kelahiran harus dilakukan bersama-sama penurunan angka angka 
kematian.

Masalahnya, angka kematian material (ibu melahirkan) Indonesia tertinggi di 
Asia yakni 307 per 100.000 kelahiran. Target 225 per 1.000.000 kelahiran masih 
sulit kita capai. Berbagai program dan gerakan yang mengarah kepada penurunan 
angka kematian material masih belum mendapat respons positif masyarakat. 
Hasilnya juga belum tampak. Di Indonesia, pertumbuhan penduduk tinggi, angka 
kematian material juga tinggi padahal di negara lain, termasuk beberapa negara 
ASEAN, kurfa kedua angka tersebut menukik tajam.

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV tahun 2007 yang dipusatkan di 
Ambon, merupakan momentum penataan kembali kependudukan yang diawali dari 
keluarga. "Keluarga Kecil yang Berkualitas" semestinya menjadi visi 
kependudukan pemerintah dari pusat hingga kota/kabupaten dengan frame time 
delapan tahun ke depan (2015). Untuk mencapai visi tersebut, dalam kurun 
delapan tahun, pemerintah dan masyarakat harus melakukan berbagai gerakan yang 
mampu memberi motivasi kepada penduduk. Dari merekalah, yang secara konsisten 
meningkatkan kualitas keluarga.

Upaya masyarakat membentuk keluarga kecil berkualitas itu pasti membutuhkan 
dorongan dan fasilitas serta pelayanan pemerintah atau lembaga yang berkaitan 
dengan itu. Dalam kaitan itulah, revitalisasi kelembagaan menjadi penting. 
Komitmen pejabat baik gubernur maupun bupati/wali kota terhadap penanganan 
kependudukan termasuk KB juga penting. Akan tetapi, komitmen saja masih tidak 
cukup. Penanganan berikutnya setelah ada komitmen membutuhkan tenaga pelaksana 
yang terhimpun dalam sebuah badan atau lembaga bahkan dinas yang dibentuk di 
provinsi dan kota/kabupaten.

Dalam struktur Satuan Kerja Perangkat Daerah seyogianya ada Dinas Kependudukan 
dengan Subdin Keluarga Berencana, Transmigrasi, dan Demografi. Sedangkan 
ketenagakerjaan sebaiknya berada pada ruang lingkup perburuhan atau paling 
tidak, ada upaya revitalisasi lembaga yang pernah ada. *** 

Penulis, penerima Dharma Karya Kencana pada Harganas 2007 di Ambon


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke