http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?ses=&id=1184

04 Juli 2007 05:47:04



Bintang Kejora Dibentang di GOR



Diselipkan Lewat Tarian di Konferensi Masyarakat Adat 
JAYAPURA-Bendera Bintang Kejora muncul dalam acara Konferensi Besar Masyarakat 
Adat Papua yang berlangsung di GOR Cenderawasih, Jayapura, Selasa (3/7), 
kemarin. 
Modusnya, pembentangan bendera Bintaang Kejora itu sama dengan kemunculan 
bendera Republik Maluku Selatan (RMS), yakni saat tarian Cakalele di Ambon. 
Bedanya, bendera RMS yang muncul di hadapan Presiden SBY di Ambon disusupkan 
lewat tarian Cakalele. Sedangkan bendera Bintang Kejora ini dibentangkan dalam 
salah satu tarian resmi pada acara Masyarakat Adat Papua. 
Tari yang menggunakan bendera bintang kejora itu tampil di akhir acara. Penari 
dari Grup Sampari menggunakan kostum bercorak Bintang Kejora dan diperagakan 
remaja pria dan wanita. Tarian itu menggambarkan anak-anak Papua sedang bingung 
dan sedih mencari orang tuanya yang hilang karena dibunuh dan diculik. 
Pada detik-detik terakhir tarian, penari wanita membentangkan bendera Bintang 
Kejora sembari melambai-lambaikan dan mengitari penari lain yang bergelimpangan 
dengan air mata berlinang. 
Tiba-tiba ratusan peserta kongres yang memenuhi GOR itu secara beramai-ramai 
berteriak, merdeka... merdeka... merdeka.. !!! Menyaksikan bendera itu, 
sejumlah peserta histeris. Termasuk Tom Beanal, ketua Dewan Adat Papua. 
Dalam acara tersebut, hadir sejumlah tokoh masyarakat Papua. Mereka, antara 
lain, Wakil Ketua MRP (Majelis Rakyat Papua) Hana Hikoyobi, Ketua DPRD Kota 
Jaya Pura Thopillus Bonay, dan Sekda Prov Papua Tedjo Suprapto. Sedangkan 
ribuan peserta datang dari tujuh wilayah adat. 
Tedjo Suprapto tampak diam menyaksikan pembentangan bendera yang berlangsung 20 
menit tersebut. Wajahnya tanpa ekspresi, entah apa di benaknya.
Acara yang dimulai pukul 13.00 itu dijaga superketat satgas atau nama lain 
Penjaga Dusun Adat Papua (PDAP). 
Di pintu masuk ke halaman GOR berjejer PDAP. Mereka memeriksa siapa saja yang 
masuk, termasuk para peserta. Bahkan, wartawan pun diperiksa, baik tas maupun 
barang bawaan. Setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan, mereka baru 
diperbolehkan masuk. 
Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Tom Beanal dalam pidato politiknya mengatakan 
bahwa konferensi pada hakikatnya merupakan pesta demokrasi. Momen itu juga 
merupakan kesempatan bagi rakyat pelosok Papua datang berkumpul, saling 
bertukar informasi, dan menyatakan pendapat. ''Saat inilah kami pikir alangkah 
baik jika pemimpin datang duduk bersama rakyat. Apalagi, saat negara ini sedang 
dilanda situasi sulit, baik dari sisi budaya, ekonomi dan politik, maupun 
kemarahan alam,'' katanya. 
Dia juga meminta pemerintah membuka keran demokrasi di Papua. ''Saya ingin 
menekankan betapa pentingnya kita memberikan ruang bagi proses demokratisasi. 
Demokrasi yang hendak kita bangun adalah usaha memperkuat komunikasi, 
interaksi, dan kerja sama yang konstruktif di antara komponen masyarakat di 
bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik untuk mencapai kesejahteraan dan 
kemuliaan harkat hidup,'' tuturnya. 
Seperti diketahui, pembukaan konferensi yang sedianya akan dimulai pukul 09.00 
WIT itu baru dimulai sekitar pukul 10.28 WIT, diawali dengan ibadah yang 
dipimpin Pdt M.Th Mawene, S.Th dengan diiringi Kelompok Paduan Suara STT GKI 
Jayapura. 
Usai ibadah, acara yang disiarkan life melalui RRI Jayapura itu dilanjutkan 
penyampaian sambutan, diawali sambutan Gubernur Barnabas Suebu, SH yang 
disampaikan Sekda Drs Tedjo Suprapto, MM. 
Pada sambutannya, Gubernur kembali menekankan visi dan misinya tentang Papua 
Baru. "Intinya bagaimana membangun Papua yang lebih baik di mana pemerintahnya 
adalah pemerintah yang bersih dan berwibawa serta melayani rakyat dengan 
sebaik-baiknya" katanya.
Gubernur juga menekankan upaya dan strategi serta kebijakan dasar pembangunan 
di Papua yang berkelanjutan.
Setelah itu sambutan politik Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Tom Beanal, lalu 
membuka acara itu dengan memukul tifa dan mengatakan "atas berkat Tuhan yang 
menciptakan Tanah Papua dan yang menciptakan leluhur dan semua orang yang telah 
gugur demi Tanah Papua saya membuka pertemuan ini,".
Usai sambutan acara dilanjutkan pagelaran tarian dari 7 wilayah adat masing - 
masing dengan keunikannya sendiri. Pagelaran seni itu berlangsung semarak 
karena undangan begitu antusias menyaksikan.
Satu demi satu grup penari tampil dan cukup berhasil memukau semua yang hadir. 
Mereka kemudian lebih antusias lagi ketika pada penampilan penari terakhir dari 
Grup Sampari maju ke depan. Penari dengan kostum bercorak Bintang Kejora dan 
diperagakan oleh remaja pria dan wanita ini menggambarkan tentang anak - anak 
Papua yang sedang bingung dan sedih mencari orang tuanya yang hilang karena 
dibunuh dan diculik. 
Konfrensi Pers
Acara kemudian dilanjutkan dengan konfrensi pers oleh Ketua DAP Tom Beanal, 
Sekretaris Umum DAP Leo Imbiri, Ketua Panitia KBMAP Forkorus Yaboisembut, S.Pd 
dan Ketua DAP Biak Yan Yarangga.
Terkait dengan pembentangan bendera Bintang Kejora itu, Leo Imbiri menjelaskan, 
tarian itu adalah ungkapan real dari kehidupan masyarakat di Papua, seorang 
anak yang mencari orang tuanya dan orang tuanya yang dibunuh.
Untuk itu katanya, agar hal itu jangan dilihat dari kerangka politik, namun 
sebatas ungkapan budaya masyarakat adat Papua.
Ditambahkan Forkorus bahwasanya tarian itu adalah unsur budaya dan hal itu 
tidak perlu dipersoalkan, karena masyarakat Papua adalah masyarakat yang 
berbudaya dan hal itu sudah menjadi darah daging. 
"Kalau mereka mau jadikan bendera apa salahnya. Itu wajar. Manusia ini kan zone 
politikon, jadi manusia berpolitik itu biasa, tidak usah ada dusta untuk 
membodohi rakyat. Saya pikir kita jangan membodohi rakyat," katanya.
Ia juga mengatakan, tarian itu menggambarkan sejak tahun 1961 sampai sekarang 
telah terjadi banyak pelanggaran HAM, karena ada tiga masalah pokok yang 
terjadi yakni 1, penyangkalan hak berpolitik dari bangsa Papua Barat, 2, 
pembangunan yang melanggar hak - hak dasar masyarakat Papua dan lingkungan 
hidup, 3, akibat dari semua itu maka terjadi pelanggaran HAM dan hukum. "Itu 
tadi yang diperagakan oleh penari mereka bahwa kami telah dibunuh karena ini, 
kami telah disiksa, ya tulah kami sampai hari ini," ujarnya.
Lanjutnya, Bintang Kejora sudah menjadi kontroversi umum semua tahu itu, ini 
juga menjadi salah satu masalah yang harus diselesaikan yang mana mandat itu 
diberikan kepada PDP melalui Kongres rakyat Papua. "Kenapa bendera menjadi 
kontroversi sehingga rakyat dibunuh terus kami dari presdium sudah minta dialog 
kami minta ini diselesaikan supaya tidak ada lagi kata separatis. Saya pikir, 
begini, karena bendera dan itulah orang bilang kami separatis," katanya lagi.
Menurutnya sejarah seperatis itu sendiri adalah kosa kata yang ditinggalkan 
oleh penjajah yakni pemerintah administrative saat itu. Sebagai anak Papua 
kalau ia mengatakan sudaranya separatis secara tidak sadar dirinya sudah 
menjadi penjajah. "Jadi saya himbau anak-anak Papua yang menjadi gubernur, 
bupati, jangan katakan saudara saya separatis atau menakut -nakuti supaya tidak 
ikut konfrensi," ajaknya.
Leo Imbiri menambahkan, dalam konfrensi itu akan revitalisasi atau pengurus DAP 
yang baru periode 2007 - 2012 serta melakukan evaluasi terhadap DAP selama 5 
tahun terakhir dan merumuskan sejumalh program DAP 5 tahun kedepan. 
Sedangkan untuk persoalan masyarakat adat, sampai hari ini adalah jaminan hak 
hidup, terus menerus terjadi kecurigaan terhadap masyarakat adat bahwa Tanah 
ini masih menjadi penjara. "Belum ada kebebasan bagi masyarakat adat untuk 
mengungkapkan atau mengekspresikan dirinya dan mendapatkan hal - hal yang 
seharusnya ia dapat sebagai tuan diatas negeri ini. Itu persoalan utama , 
karena itu kami menilai belum ada pelayanan maksimal oleh pelaku pembangunan 
baik oleh pemerintah dunia usaha maupun lembaga lain terhadap masyrakat adat 
Papua," tuturnya.
Lalu ditambahkan Leo Imbiri lagi bahwasanya keliru kalau dikatakan DAP hanya 
mengurus hak - hak dasar dan pemerintah mengurus yang lain. Diingatkannya bahwa 
Papua adalah tanah bermasalah sampai saat ini DAP telah menunjukkan partisipasi 
efektif dalam mendorong seluruh proses pembangunan dalam menyampaikan aspirasi 
secara bermartabat pada semua pihak. Selama 5 tahun eksis, sudah banyak 
rekomendasi yang disampaikan pada Pemda. Meski ada beberapa rekomendasi yang 
dijawab pemerintah, namun dalam banyak hal menunjukkan jawaban pemerintah hanya 
terpaksa.
"Antara DAP dan pemerintah secara formal belum duduk bicara secara resmi kami 
belum pernah bicara dalam arti mengagendakan bersama memutuskan bersama itu 
belum sejak DAP berdiri," katanya. DAP akan mencoba mencari dan menemukan serta 
menata tatanan masyarakat adat yang rusak dan membangun system lalu mengajak 
pemerintah dan semua pihak untuk bekejasama dalam membangun Papua dengan 
mekanisme dan membuat MoU.(ta)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke