=================================
  Seri : "Membangun Keluarga Indonesia"  
  =================================
  [EQ]
   
   
   
  CHRISYE : SEBUAH MEMOAR MUSIKAL
  [Naga Legendaris INDONESIA]
  Oleh : Alberthiene Endah
   
   
  Bermimpilah,
  sebab harapan akan memberi hidup
   
  Berkaryalah,
  sebab seni akan memberi makna
   
  [Naga belajar . . . sampai menutup mata]
   
   
   
  21. Guruh Gipsy !
   
  Ternyata Keenan, Gauri, dan Guruh sudah jauh berjalan dengan konsep musik 
mereka! Saya dipanggil. Keenan mengatakan mereka sudah bereksperimen 
menciptakan sejumlah lagu. Sepanjang ia bercerita, saya hanya bisa menganga. 
Apa yang diceritakan Keenan adalah sebuah proyek yang sungguh tidak 
terbayangkan di zaman itu.
   
  Guruh berniat membuat satu album idealis yang menggabungkan musik Barat dan 
tradisional Indonesia. Mendengar ini saja saya sudah bisa membayangkan 
bagaimana rumitnya. Bahkan, kata mereka, unsur art rock ada pula di dalamnya.
   
  “Bagaimana bisa?” Semula saya agak ragu. Tentu saja saya tak meragukan 
kemampuan seorang Guruh. Ia dikenal seorang yang cerdas dan berwawasan dalam 
masalah seni. Perihal dukungan Nasution bersaudara terhadap gagasan memasukan 
musik tradisional pun tidak saya ragukan. Keenan dan saudara-saudaranya sudah 
akrab dengan seni tradisional Bali, lantaran di rumah mereka pernah mengontrak 
seorang penari dan pemusik Bali yang kawakan saat itu, Wayan Suparta Wijaya, 
mantan suami aktris Citra Dewi.
   
  Elemen musik Bali bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Terlebih, dalam 
sejumlah show, termasuk show di New York, kami juga menyertakan nuansa musik 
Bali.
   
  Tapi proyek rekaman khusus dengan musik tradisional? Menurut Keenan, Guruh 
berhasrat mengajak puluhan pemusik tradisional, dan sejumlah pemain musik gesek 
yang biasa memperkuat orkestra.
   
  “Gila! Mau rekaman di studio kayak apa?” sambut saya. Bergairah, tapi ragu.
  “Pokoknya kerjain aja!” Keenan bersemangat.
   
  Saya segera bertemu dengan Guruh.
  “Kamu bisa menyanyikan beberapa lagu secara solo ya, Chris...” Guruh yang 
berpembawaan sangat karismatis menawari.
  Saya tertegun. Selama bergabung di Gipsy, saya memang menyanyi, tapi lebih 
sebagai penyanyi pendukung.
  “Apa saya bisa?”
  “Coba nyanyi apa saja. . . .“ Guruh meminta.
   
  Saya bawakan satu lagu. Guruh mengatakan sesuatu yang sebetulnya tidak 
mengejutkan saya. “Vokal kamu khas sekali. Halus.”
  Kami langsung masuk dalam proses. Guruh dan Keenan segera memperdengarkan 
sejumlah lagu, yang membuat saya langsung berpindah pada dunia musik yang belum 
pernah saya kenali. Lagu-lagu yang sungguh unik dengan plot melodi yang 
terbilang numit. Saya seperti dihadapkan pada sebuah dunia baru dalam musik.
   
  Proses itu bergulir dengan cepat. Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya 
bahwa konsep yang saya pikir begitu muluk ternyata berlanjut menjadi proyek 
serius.
   
  Guruh rupanya terkesima dengan suara saya. Ia menelepon saya dan mengatakan 
sedang mengotak-atik lagu yang tepat buat saya. Bagi saya, ucapan Guruh ini 
adalah sebuah kehormatan. Selain saya, Keenan ikut menyanyi.
  Hari pertama latihan, Guruh sudah menyelesaikan sejumlah lagu. Kami latihan 
di rumahnya di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.
   
  “Kerahkan semua karakter vokalmu sendiri, Chris! Nggak usah jadi orang lain,” 
katanya.
  Ini membuat saya bergairah. Pertama, saat itu saya nyaris putus harapan 
karena jenuh membawakan lagu-lagu milik orang lain. Kedua, lagu-lagu Guruh 
terbilang edan dalam komposisi maupun tuntutan teknik vokal. Nomor seperti 
Smaradhana yang saya nyanyikan misalnya, memiliki kelokan nada yang semula 
terasa aneh, tapi sungguh artistik. Untuk memulainya sulit, tapi begitu lagu 
jalan... excited sekali! Di situ saya melihat Gunuh punya bakat brilian dalam 
menggubah melodi. Kelokannya sangat tidak tertebak!
   
  Sensasi saat berlatih menyanyikan lagu-lagu Guruh begitu luar biasa! Sulit 
diceritakan. Tapi saya merasakan sendiri ketika musik keluar dari saya mulai 
melantunkan suara, rasanya saya sedang diberi kehormatan besar menyanyikan lagu 
yang begitu luar biasa!
   
  Praktis, numah Guruh yang cukup besar itu menjadi tempat penginapan dadakan. 
Kami berlatih sampai larut malam, kadang pulang esok paginya sebentar, dan 
datang lagi setelah mandi.
   
  _______
   
  Guruh berniat membuat satu album idealis yang menggabungkan 
  musik barat dengan musik tradisional.
  Pentatonik ketemu diatonic. Edan!
  Dan proyek musik ini hasilnya memang edan dahsyatnya!
   
  _______
   
  Saya sangat terkesan dengan cara kerja Guruh.
  Dia seorang yang sangat perfeksionis dan sungguh-sungguh.
  Tak ada satu kegiatan pun yang dilakukan Guruh tanpa niat!
   
  _______
   
   [bersambung  ]


    
  SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

  Retno Kintoko Hp. 0818-942644
  Aminta Plaza Lt. 10
  Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
  Ph. 62 21-7511402-3 
   


 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke