http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=176836
Menyoal Tingginya Biaya Pendidikan Oleh Candra Bagus Sulistyo Kamis, 5 Juli 2007 Musim penerimaan siswa baru (PSB) sudah di depan mata. Sebagian besar orang tua siswa baru harus memeras otak untuk dapat menjatuhkan pilihan sekolah yang terbaik bagi perkembangan masa depan si anak. Orang tua tentunya tidak mau berspekulasi atas pilihan sekolah yang ada. Sekolah favorit dan unggulan menjadi pilihan utama mereka. Tetapi amat disayangkan, rata-rata sekolah favorit atau sekolah unggulan mempunyai tarif yang teramat tinggi. Untuk tahun ajaran baru, dapat dipastikan pihak sekolah favorit atau unggulan akan menarik iuran uang pembangunan yang jumlahnya sampai jutaan rupiah. Dalihnya adalah untuk pembangunan gedung sekolah dan menambah perlengkapan atau pembelian alat peraga sekolah. Anehnya, sekolah unggulan yang notabene merupakan sekolah negeri pun ikut menaikkan tarif dengan alasan eksistensi dan kompetisi. Bisa kita bayangkan jika bangku SD memasang tarif sumbangan hingga tiga jutaan, bangku SMP lima jutaan dan bangku SMU mencapai sepuluh jutaan. Lalu mau dikemanakan mereka yang tergolong kelas ekonomi kecil. Seolah sekolah hanya diperuntukkan bagi kelas ekonomi menengah ke atas saja. Bagaimana dengan mereka yang tergolong buruh, petani dan nelayan yang kurang lebih mempunyai gaji standar UMR? Apakah mereka harus tereliminasi dari dunia pendidikan. Mahalnya biaya sekolah lebih dikarenakan adanya celah peluang bisnis yang dimanfaatkan pemilik atau pengelola sekolah. Hal tersebut sebagai dampak atas persepsi masyaraka t tentang sekolah yang 'salah'. Masyarakat menganggap bahwa sekolah-sekolah unggulan mampu menciptakan lulusan dengan nilai terbaik, sehingga akhirnya dapat memfasilitasi si anak untuk mendapat pekerjaan yang layak. Karena sekolah unggulan merasa dibutuhkan oleh masyarakat, maka insting bisnis mulai tumbuh dengan jiwa kapatalisme, pihak sekolah unggulan lantas menaikkan nilai jual bangku siswa yang akan memasuki kelas baru. Terkadang pihak sekolah menyediakan kelas spesial dengan tarif eksekutif. Tarif eksekutif di beberapa sekolah unggulan menjadi alat pembenar sekolah untuk menopang operasional dan pengembangan sekolah. Padahal secara teoritis letak fungsi keberhasilan sekolah bukan pada seberapa besar jumlah lulusan yang mempunyai nilai baik, tetapi terletak pada sejauh mana sekolah telah berhasil atas proses penyadaran pengetahuan seseorang untuk berpikir secara logik dan empiris. Jika sekolah unggulan hanya besifat menampung bagi mereka yang mempunyai kelebihan IQ dan tingkat ekonomi saja, maka sebenarnya fungsi sekolah unggulan hanya merupakan tolls (alat) untuk indoktrinasi saja. Menurut hemat penulis peran sekolah yang realistis saat ini diperankan oleh sekolah-sekolah yang mengembangkan model pendidikan alternatif yang membawa tema untuk mengedepankan bakat dan minat siswa. Hal itu yang menunjukkan keberhasilan fungsi sekolah karena telah berhasil mengajak anak untuk mampu berpikir secara logik dan empiris pada dunia yang sesungguhnya. Tanpa keterpaksaan, tanpa kurikulum yang sifatnya formal dan mampu membangkitkan kekuatan yang ada dalam diri manusia untuk kemudian dikembangkan secara profesional. Mahalnya biaya pendidikan seolah mengesampingkan dana biaya operasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Haruskah sebuah pendidikan menjadi barang yang mahal bagi masyarakat. Akankah masyarakat Indonesia tidak mempunyai hak yang sama dalam bidang pendidikan hanya karena status ekonomi yang berbeda. Pasal 31 UUD 1945 ayat (2) menegaskan, "tiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya." Jelas bahwa pemerintah mempunyai tanggungjawab penuh atas biaya pendidikan bagi masyarakat ekonomi lemah untuk bisa menikmati sekolah gratis dari SD sampai SMP. Sistem pendidikan di negeri ini masih saja menerapkan metode lama yang masih berorientasi pada hasil akhir. Hal tersebut terlihat dari kasus ujian akhir sebagai standar mutu pendidikan sebuah sekolah. Padahal, jika ditelaah secara seksama hasil penentuan mutu pendidikan tidak bisa dilihat secara parsial, tetapi wajib melakukan approach secara integral agar hasil yang didapat tidak prematur. Esensi pendidikan (Poulo Freire,1999) adalah mengubah belenggu ketidaktahuan seseorang menjadi sebuah jalan penerang bagi umat manusia melalui proses belajar. Peran serta masyarakat untuk perbaikan mutu sistem pendidikan di negeri ini mutlak diperlukan. Karena dengan kepedulian masyarakat sebagai stakeholder yang mampu memberikan kontrol tak langsung pada pihak sekolah agar tidak keluar pada koridor pendidikan. Untuk itu ada beberapa upaya yang perlu dilakukan masyarakat. Pertama, orang tua siswa harus kritis pada kebijakan sekolah yang tidak berorientasi pendidikan. Kepekaan orang tua dirasa penting untuk mengukur seberapa besar ilmu yang didapat di bangku sekolah si anak. Jangan-jangan anak hanya sebagai bejana kosong yang hanya menampung masukan dari sekolah tanpa tahu pembanding yang benar. Kedua, sebaiknya orang tua mencari sekolah yang berorientasi pada pengembangkan IQ, EQ dan SQ. Dan jika dirasa perlu orang tua bisa menyekolahkan anaknya melalui pendidikan alternatif yang lebih menjanjikan anak didik berkualitas dalam arti sesungguhnya. Di samping dari sisi biaya tergolong murah, pendidikan alternatif dirasa bisa menghasilkan output sebagai seorang wirausaha yang unggul. Sehingga akan banyak menciptakan lapangan tenaga kerja baru dan tidak tergantung pada pemerintah atau pihak swasta lain. Pendidikan alternatif juga bisa memunculkan bakat anak yang terkadang tidak terasah di dunia pendidikan sekolah formal yang hanya mengejar kualitas institusinya dengan embel-embel sekolah standar nasional (SSN) atau sekolah standar internasional (SSI). Ketiga, sebaiknya orang tua juga memberikan pendidikan pada anak melalui metode home scholling bagi anak agar tidak percaya seratus persen akan indoktrinasi sekolah yang terkadang tidak sesuai dengan alur pendidikan yang benar. Dengan home scholling anak bisa berimprovisasi di sekolah untuk melakukan interaktif dengan guru atas semua permasalah yang ada.*** Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Program Magister Manajemen, Universitas Muhammadiyah, Malang [Non-text portions of this message have been removed]
