Refleksi: Hemat saya ijazah mereka bukan palsu, tetapi ijazah yang dibeli dari 
internet atau pasar loak, dari universitas fotokopi.  Bukankah NKRI  juga 
pernah mempunyai wakil presiden tamatan universitas fotokopi dengan titel 
doctor. Universitas in  ini malah memasang reklame dengan memakai wapres NKRI 
sebagai contoh aluminusnya. 

Jadi kalau sinyalir benar, lalu.....? Bukankah kalau mau dianggap hebat harus 
mempunyai gelar. Masyarakat NKRI mengharuskan gelar ditempel agar dianggap 
hebat, tanpa tempel gelar nilainya tahu sendiri. Megawati sekarang juga sudah 
tampil di media cetak dengan gelar Hj.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/07/nus01.html

Tiga Dosen IPDN Disinyalir Gunakan 
Ijazah S2 Palsu 

Oleh
Saufat Endrawan



Sumedang - Tiga dosen yang juga pejabat teras Institut Pemerintahan Dalam 
Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jabar, disinyalir bergelar dan 
berijazah S2 palsu.

Tudingan tiga pejabat IPDN berijazah palsu itu diungkapkan oleh dosen Institut 
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Inu Kencana Syafiie kepada sejumlah wartawan 
di rumah dinasnya di kompleks IPDN, Senin (6/8).
Dijelaskan Inu, selama ini disinyalir ada tiga pejabat IPDN yang menggunakan 
ijazah S2 palsu. 


"Tiga pejabat IPDN yang disinyalir menggunakan ijazah S2 palsu tersebut 
masing-masing Nunung Rohyani MM, Endang Tri Setiasih, MM dan Karseno, MM. 
Mereka memiliki ijazah S2, kendati tidak pernah kuliah S2," tegas Inu menuding, 
ketiga pejabat IPDN tersebut, kuliah di sebuah hotel berbintang tidak jauh dari 
kampus IPDN Jatinangor Sumedang. 
"Jika wartawan tidak percaya, silakan tanyakan kepada mereka. Dan sekalian 
tanya kepada mereka di mana mereka kuliah, apa judul tesisnya, dan berapa lama 
tesisnya selesai. Saya pastikan mereka akan bingung menjawabnya. Karena mereka 
kuliahnya hanya di Hotel Puri Katulistiwa, Jatinangor, yang letaknya 200 meter 
dari kampus IPDN, Jatinangor," tambahnya. 


Ditegaskan Inu, kebobrokan di tubuh IPDN tidak saja dilakukan oleh praja, tapi 
juga dilakukan beberapa oknum pejabat dan dosen-dosennya. 
"Kebobrokan ini bisa dibuktikan dengan berbagai kasus kriminal yang melibatkan 
praja dan kasus tindak kriminal yang dilakukan pejabat serta adanya tiga 
pejabat yang merangkap dosen berijazah S2 palsu," jelasnya.


Endang Tri Setiasih salah satu pejabat yang dituduh oleh Inu Kencana 
mengungkapkan keprihatinannya pada Inu. "Saya merasa kasihan kepada Pak Inu, 
mungkin karena sudah tidak ada lagi berita, maka ia mengungkapkan yang tidak 
benar, seperti ijazah palsu saya," tutur Endang ketika dikonfirmasi, Senin 
(6/8) malam.


Endang berjanji akan memperlihatkan judul tesisnya kepada wartawan yang 
disusunnya pada 2006 lalu yang intinya mengenai kinerja dan SDM. "Saya juga 
sangat prihatin kepada masyarakat dan wartawan yang terus-menerus dibohongi 
dengan cerita-cerita Pak Inu," tambahnya. 
Saat diminta pendapatnya tentang komentar Inu, Endang hanya berharap agar Inu 
Kencana tidak memberitakan yang negatif saja terkait IPDN. 

Diajak Perbaiki IPDN 


Sedangkan Plt Rektor IPDN, Johanis Kaloh, membantah telah menciptakan suasana 
yang tidak kondusif bagi dosen IPDN Inu Kencana, hingga yang bersangkutan 
berniat pindah dari rumah dinasnya di Kompleks Dosen IPDN. 

Menurut Johanis, lembaga IPDN bahkan sudah berkali-kali mengajak Inu kembali ke 
kampus dan bersama-sama memperbaiki IPDN. 
Johanis khawatir, seringnya Inu berbicara di luar mengenai kebobrokan IPDN akan 
semakin membuat orang marah. n


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke