Dikeroyok  PNS, Parpol sampai presiden-wapres mampukah Adang-Dani 
Menang ?
Oleh Didin Fahrudin


Prosesi kampanye Pilkada telah selesai, Insya Allah hari ini tanggal 
8 Agustus 2007 jika Allah menghendaki , warga DKI akan menentukan 
pilihan akan siapa pemimpinnya. Memilih pemimpin lama yang didukung 
puluhan partai ORBA  atau yang baru yang didukung hanya satu partai.

Bagi saya, PILKADA DKI merupakan pilkada paling strategis untuk 
perubahan bagi seluruh wilayah di Indonesia. Jakarta merupakan 
barometer nasional, ia akan dicontoh oleh semua wilayah termasuk 
bagaimana para aparatur pemerintahannya , gubernur, wakil, sekda, dan 
birokrat lainnya memimpin dan mengelola DKI Jakarta, jika mereka 
korup dalam melakukannya  maka ini akan di contoh dan jika bisa 
menampilkan perilaku yang bersih  juga akan dicontoh. Jadi pilkada 
DKI mempunyai bukan saja efek kewilayahan tetapi bersifat nasional.

Namun sayang, PILKADA yang paling strategis ini banyak dinodai  dan 
didominasi oleh kepentingan, kezaliman, keegoan dan  status quo yang 
mengarah pada perilaku yang penting menang dengan tak memperdulikan 
cara-cara yang santun dan bermartabat.

Prinsip yang penting menang dan tidak adanya  idealisme para elit 
politik  untuk sedikit memberikan perubahan terhadap Jakarta inilah 
yang kemudian melahirkan pengeroyokan terhadap satu partai yaitu 
Partai Keadilan Sejahtera. Padahal beberapa partai diantara mereka 
dengan perolehan suara pada pemilu 2004 yang diraihnya bisa 
mencalonkan sosok lebih dari empat pasangan cagub/cawagub. Sayang 
memang, rakyat jakarta karena ulah parpol yang bermental 'tahu' ini 
telah membatasi warga DKI untuk mendapat sosok pemimpin yang paling 
cocok buat mereka.

Menurut cacatan saya hanya PKS lah yang jauh-jauh hari mencalonkan 
orang baru sebagai cagub/cawagub, PKS yang berharap besar akan adanya 
perubahan mendasar di kehidupan bernegera dan bermasyarakat yang 
selama ini sangat banyak dikotori oleh ketidak teraturan, kolusi, 
korupsi dan nepotisme, masalah masalah sosial seperti kemacetan, 
banjir dan juga masalah pendidikan yang tidak selesai-selesai.

Padahal kalau PKS berprinsip yang penting menang, Ialah Fauzi Wibowo 
( Foke ) yang  mencari dukungan pertama kali ke PKS  sebelum kepada 
parpol-parpol itu, jadi jika berprinsip yang penting menang  tentunya 
PKS sudah mencalonkan Foke, bukan orang yang masih segar seperti 
Adang Daradjatun dan Dani Anwar.

Masalahnya  kemudian adalah ternyata prinsip yang dipegang oleh PKS 
tersebut tidak diikuti oleh parpol-parpol lainnya, prinsip yang 
penting menang yang dipegang parpol-parpol tersebut kemudian 
membuahkan pengeroyokan terhadap PKS dari  berbagai segi dan lini.

Bentuk-bentuk pengeroyokan tersebut antara lain :
a) Bersekutunya 20 parpol 
   Parpol-parpol besar tanpa malu-malu bersekongkol hanya untuk 
meraih kursi DKI 1 dan DKI 2.
b) Pengeroyokan oleh Media
PKS ternyata bukan saja dikeroyok oleh 20 parpol tetapi oleh media-
media masa yang ada di Indonesia. Media cetak nasinal hampir 
seluruhnya berpihak pada pasangan Foke-Priyanto. ( Laporan Aliansi 
Jurnalis Indonesia )
c) Pengeroyokan oleh Iklan
Bagi para pembaca media elektronik dan televisi tentunya sangat jelas 
dominasi iklan Foke-Priyanto dalam pembentukan opini, dibandingkan 
iklan-iklan Adang- Dani yang seuprit.
d) Pengeroyokan lewat PNS dan Birokrat
Sudah bukan rahasia lagi PNS dan birokrat DKI yang seharusnya berlaku 
netral namun memihak bahkan menurut laporan media dan panwasda 
diantara mereka tertangkap basah mengikuti kampanye dan jadi tim 
sukses Foke.
e) Pengeroyokan oleh aparatur RT,RW dan Kelurahan
Menurut pengakuan beberapa kader PKS , keberpihakan para RT, RW dan 
aparatur kelurahan sangatlah jelas. Bahkan dibeberapa tempat kader-
kader PKS dilarang untuk mensosialisasikan visi dan misi 
cagub/cawagub yang dicalonkannya.
f) Pengeroyokan oleh lembaga survey
Hasil survei yang baru-baru ini diumumkan  oleh  Lembaga Survei 
Indonesia ( LSI ) milik Saiful Mujani yang mengatakan Foke menang 
besar atas Adang-Dani . Dan menyatakan bahwa kampanye tidak 
berpengaruh terhadap perekrutan masa/pilihan . Hasil survei ini 
tentunya sangat bertentangan dengan kenyataan dilapangan dimana 
kampanye-kampaye Adang-Dani selalu dipadati massa yang datang bukan 
saja dari PKS tetapi juga dari organisasi-organisasi kepemudaan 
parpol-parpol pendukung Foke dan ormas-ormas . Hasil survei ini 
adalah bentuk pembentukan opini untuk memenangkan salahsatu pasangan 
yang bisa membayar LSI  , seperti yang mereka biasa lakukan dalam 
PILKADA di daerah-daerah lain. Ambil saja contoh bagaimana LSI 
melakukan ''proyek'' pemenangan Rt Atut-Masdulki di Banten, dengan 
melakukan survei-survei yang hasil yang diumumkannya adalah untuk 
membetuk opini dan sebagai bagian pemenangan pasangan yang 
membayarnya. Sayang, memang media kita masih suka menelan mentah-
mentah hasil survei mereka yang sudah terbukti tidak independen.
g) Pengeroyokan oleh Presiden dan Wapres.
Kehadiran wapres beberapa waktu lalu bersama Foke dan memberikan 
dukungan kepadanya adalah bentuk keberpihakan yang semestinya tidak 
terjadi , dimana wapres harusnya bisa menempatkan posisinya di atas 
semua golongan. Kemudian berita yang 'menghebohkan'' beberapa hari 
ini adalah surat sang presiden yang menyuruh POLRI untuk netral. 
Bukan suruhan untuk polri yang dipermasalahkan , tetapi kenapa 
perintah untuk netral tidak ditujukan juga kepada TNI dan PNS yang 
dua-duanya sangat mungkin dan beberapa diantaranya terbukti tidak 
netral. Jelas perintah ini adalah bentuk keberpihakan dan 
kekhawatiran kemenangan Adang yang notabene seorang mantan polisi.

Bentuk-bentuk pengeroyokan tidak hanya itu, saya mencatat bentuk-
bentuk kampanye hitam yang dilakukan Foke seperti penerbitan ratusan 
ribu eksampelar tabloid Jakarta untuk semua yang isinya hanya hujatan 
terhadap PKS dan Adang-Dani. Kemudian cara-cara kasar yang menyuruh 
orang berbuat kecurangan, kemudian ia dipukuli agar mengaku orang 
suruhan Adang-Dani, pencopotan alat-alat peraga kampanye. Dan 
selebaran-selebaran yang menyatakan Jakarta akan ditalibankan. Dan 
masih banyak lagi.

Sekarang saatnya warga jakarta menentukan pilihan sesuai dengan hati 
nuraninya. Pilhan hari ini menentukan kehidupan kita puluhan tahun ke 
depan. Jangan biarkan kepemimpinan dipegang mereka-mereka yang rakus 
kekuasaan. Belajarlah dari PILKADA-PILKADA lainyya Kodya Medan 
misalnya sekarang warga medan menyesal karena ternyata pemimpin yang 
baru saja di dipilih terseret-seret kasus korupsi, juga dari PILKADA 
Banten yang mengisyaratkan Rt Atut juga akan menyusul seniornya Joko 
Munandar yang berurusan dengan KPK. Warga-warga tersebut pantasnya 
menyesal kenapa dulu mereka tidak memilih calon dari PKS saja.

Mari belajar dari pengalaman,..... gunakan hati nurani......

Selamat memilih,




Kirim email ke