http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=180218


OPTIMISME BANGSA
Global Tak Pasti, Guncangan
Ekonomi Bisa Berlanjut
@ Fundamental Tak Solid 



Kamis, 23 Agustus 2007
JAKARTA (Suara Karya): Indonesia harus bersiap menghadapi goncangan ekonomi 
yang lebih hebat dan lebih lama sebagai dampak gejolak sektor keuangan global 
belakangan ini. Guncangan tersebut bisa tak terhindarkan karena fundamental 
ekonomi nasional belum benar-benar solid, meski kondisi perbankan relatif lebih 
mantap dibanding menjelang krisis ekonomi-keuangan pada 1997 silam. 

Demikian rangkuman Suara Karya atas pendapat ekonom Sri Adiningsih dan 
Revrisond Baswir, aktivis Institute for Development of Economics and Finance 
(Indef) Iman Sugema, dan Ketua Umum Kadin Indonesia Mochammad S Hidayat. 
Dihubungi terpisah dari Jakarta, kemarin, mereka dimintai pendapat seputar 
dampak gejolak sektor keuangan global terhadap ekonomi nasional. 

Mereka sependapat, dalam rangka membangun optimisme bangsa menyangkut prospek 
cerah ekonomi nasional, pemerintah harus mampu menyiapkan langkah antisipatif 
atas guncangan ekonomi nasional terkait gejolak keuangan global belakangan ini. 
Dalam konteks itu, mereka menyebutkan bahwa fundamental ekonomi nasional harus 
lebih diperkuat, baik di sisi makro maupun mikro. Ini makin beralasan karena 
kondisi ekonomi makro masih rentan akibat tidak didukung kinerja ekonomi mikro. 

"Langkah paling tepat bagi Indonesia adalah siap-siap saja menghadapi guncangan 
yang lebih lama dan lebih besar. Ini karena kita tidak pernah tahu gejolak 
(keuangan global) ini apakah segera berakhir atau tidak," kata Sri Adiningsih. 

Dia menuturkan, gejolak sektor finansial global akibat krisis subprime mortgage 
di AS telah begitu nyata memengaruhi pasar uang maupun pasar saham di Asia, 
termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, Indonesia sendiri, yang memiliki 
karakteristik small open economy, sangat berpeluang mengalami guncangan. 
"Krisis subprime mortgage di AS tak terkecuali memengaruhi Indonesia. Selain 
merupakan pasar yang sangat besar, AS juga merupakan mitra kerja sama ekonomi 
Indonesia yang amat penting," kata Adiningsih. 

Menurut dia, meski gejolak sektor finansial global akibat krisis subprime 
mortgage di AS mulai mereda, guncangan ekonomi nasional kemungkinan masih 
berlanjut. Ini, katanya, karena nilai tukar yen di pasar Asia mengalami 
apresiasi. "Penguatan yen akan mendorong dana yang sempat ke luar dari Jepang 
jadi mengalir masuk kembali dan memperkuat likuiditas negeri tersebut," ujar 
Adiningsih. 

Dia mengingatkan, kenyataan itu berdampak menekan ekonomi nasional. "Pemerintah 
Indonesia memiliki utang kepada Jepang dalam jumlah relatif besar. Karena itu, 
nilai yen yang terus menguat menjadi mencemaskan buat kita. Guncangan ekonomi 
kita, setelah terimbas krisis subprime mortgage di AS, kemungkinan berlanjut," 
katanya. 

Guncangan itu sendiri terutama bisa melanda pasar uang, yang pada gilirannya 
bisa menggoyahkan fundamental ekonomi nasional. "Pasar modal relatif relatif 
tidak akan berpengaruh besar terhadap fundamental ekonomi. Beda dengan pasar 
uang, karena komponen impor masih amat berperan dalam ekonomi nasional," kata 
Adiningsih. 

Revrisond menambahkan, penguatan fundamental ekonomi dan pemberdayaan ekonomi 
rakyat tidak pernah masuk agenda pemerintah. Selama ini, katanya, pemerintah 
lebih banyak mengeluarkan kebijakan yang terkesan baik, namun sulit dan nyaris 
tidak pernah diimplementasikan. 

Kecenderungan itu juga tercermin dalam RAPBN 2008. Menurut Revrisond, 
pemerintah sudah sampai pada tingkat melakukan pembangkangan sistematis 
terhadap konstitusi. Dia menyebutkan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 
persen dan target-target lain dalam RAPBN 2008 bagai penghambaan Indonesia 
terhadap kapitalis asing dengan mengorbankan kepentingan rakyat. "Semua 
terlihat seperti pancingan untuk meyakinkan investor asing. Untuk itu, 
pemerintah tidak segan-segan mengorbankan kepentingan rakyat," kata Revrisond. 

Pemerintah, menurut Revrisond, melupakan kepentingan rakyat sebagaimana 
diamanatkan UUD 1945. Dasar pengambilan kebijakan yang dipakai pemerintah 
selalu peningkatan investasi. Padahal semua kebijakan hanya mengorbankan 
kepentingan rakyat banyak. 

Menurut Revrisond, kebijakan ekonomi yang mengutamakan kepentingan 
neoliberalisme itu sangat terlihat dengan kasat mata lewat sikap yang terkesan 
membiarkan kenaikan harga aneka bahan kebutuhan pokok masyarakat. "Rakyat sudah 
menjerit, antre minyak tanah, harga minyak goreng naik, dan lain-lain. Tapi 
pemerintah diam saja. Ini awal malapetaka meningkatnya kemiskinan dan 
pengangguran," ujar Revrisond. 

Sementara Iman Sugema menjelaskan, selama ini pemerintah tidak bisa menunjukkan 
secara nyata keberhasilan kebijakan ekonomi yang diluncurkan. Pemerintah, 
katanya, bisa berbicara hebat tentang keberhasilan hanya di atas kertas. 
Sementara kondisi objektif di lapangan justru memprihatinkan. Ini tercermin 
dari berbagai paket kebijakan ekonomi yang sulit dilaksanakan. 

Iman menunjukkan bukti lain, yaitu daya saing nasional semakin melorot. Itu, 
katanya, indikasi bahwa pemerintah tidak bisa melaksanakan kebijakan di bidang 
ekonomi. "Kebijakan pemerintah terkait masalah investasi dan bisnis hanya jalan 
di tempat," katanya. 

Mochammad S Hidayat menambahkan, pengusaha sudah lama menunggu kepastian 
menyangkut iklim investasi yang kondusif dan melahirkan kompetisi usaha yang 
sehat dan produktif. "Investor swasta sudah amat lama menunggu kepastian 
pemerintah menjalankan kebijakan dan insentif, khususnya penghapusan 
hambatan-hambatan berupa ekonomi biaya tinggi yang selama ini membebani dunia 
usaha," kata Hidayat. 

"Seharusnya Presiden dan Wapres bisa mempromosikan potensi ekonomi Indonesia di 
luar negeri. Apalagi selain kekayaan sumber daya alam, kemudahan, dan fasilitas 
yang tersedia, pasar yang luas serta sumber daya manusia yang melimpah juga 
bisa menjadi keunggulan kita," kata Hidayat. (Indra/Aantara/Abdul 
Choir/Andrian) 

Kirim email ke