http://www.suarapembaruan.com/News/2007/08/27/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

THE GLOBAL NEXUS

Globalisasi, Nasionalisme, Khilafahisme
 

Christianto Wibisono 

Agenda 62 tahun Proklamasi disibukkan dengan tamu PM Jepang, Shinzo Abe, 
rekaman telepon Pollycarpus-Indra Setiawan, isu calon independen, Hizbut Tahrir 
Indonesia (HTI) menyelenggarakan Konferensi Khilafah Internasional, serta 
polemik soal uang ganti rugi di kejaksaan. Azyumardi Azra dan Muhamad Ismail 
Yusanto terlibat dalam polemik di Kompas (18/8) dan (25/8) tentang wacana 
khilafah. 

Yusanto selaku Juru Bicara HTI mengutip Will Durant dan Paul Kennedy untuk 
mengadu argumen. Suatu kemajuan dalam demokratisasi dan liberalisasi pemikiran 
umat Islam dalam debat rasional. 

Dunia sedang berada pada kancah benturan antarperadaban dan konflik internal 
peradaban. Siapkah kelompok nasionalis sekuler Indonesia bila calon independen 
muncul dengan platform khilafah? 

Hari Sabtu Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menggelar Seminar: "Menghadapi 
Globalisasi: Organisasi Tionghoa Indonesia Mau ke Mana?" Moderator sidang pagi 
ialah Lisa Subowo, Pemimpin Redaksi Majalah Suara Baru. Saya bersama Dr Siauw 
Tiong Djien, Dr Mely G Tan, dan Sekjen INTI yang merangkap Ketua Matakin Budi S 
Tanuwibowo menjadi nara sumber. Selesai makan siang, Gus Dur datang memberi 
sambutan dan diberi kenang-kenangan patung Kwan Kong oleh Ketua INTI Rachman 
Hakim. Sidang siang hari menampilkan Frans Hendra Winarta, Faisal Basri, 
Sudhamek, Stanley Adiprasetyo, dan Benny Setiono Ketua INTI Jakarta dengan 
moderator Dr Sukardi Rinakit. 

Secara internal masalah yang dibicarakan dalam seminar ialah kaitan kemesraan 
Jakarta-Beijing dengan isu loyalitas warga keturunan dan kecemasan akan 
terulangnya rasisme. 

* 


Yang perlu digarisbawahi ialah fakta empiris historis bahwa rasisme dan insiden 
rasial model Mei 1998 muncul secara berkala, walaupun faktor lingkungan 
eksternal politik luar negeri dan politik dalam negeri Indonesia berbeda secara 
ideologis dan sosiologis. Di tengah menggebunya poros Jakarta-Beijing malah 
bisa meletus insiden SARA di Bandung, 10 Mei 1963, yang mengakibatkan satu dari 
21 anggota Panitia Persiapan Kemerdeka-an Indonesia, Drs Yap Tjwan Bing dari 
PNI meninggalkan Indonesia dan bermukim di California. 

Pada tahun 1950-an Kabinet Sukiman dari Masyumi melakukan razia penangkapan 
orang Tionghoa atas tuduhan PKI. Hal itu mengakibatkan tokoh Partai Tionghoa 
Indonesia, Liem Koen Hian, hijrah ke luar negeri. Kalau orang ke luar negeri, 
apa mesti divonnis tidak patriot? Apalagi bila orang itu ke luar negeri untuk 
menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan politik? 

Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo harus mengembara di luar negeri selama 10 tahun 
antara 1957 - 1967. Jika tidak ia terancam mendekam dalam penjara rezim Orde 
Lama Bung Karno dan bisa mati mengenaskan seperti Sutan Syahrir, mantan Perdana 
Menteri pertama RI. 

Lenin harus mengungsi ke Swiss, Ayatollah Khomeini harus mengumpet di Paris 
untuk menghindari agen rahasia Savak yang dikerahkan Shah Iran untuk 
membantainya. Trotsky harus keliling dunia menghindari KGB yang dikirim Stalin 
dan akhirnya bisa membunuh lawan politik itu di Meksiko. Seandainya bayi Jesus 
tidak dilarikan ke Mesir oleh orangtuanya tentu sudah terbantai oleh serdadu 
Herodes yang membunuhi setiap bayi di Israel. Mesir adalah negeri pemberi suaka 
yang unik. Ketika AS ketakutan terhadap Khomeini yang menyandera diplomat AS, 
dan tidak bersedia menerima Shah Iran, Cairo menjadi tempat suaka politik bekas 
tiran Iran itu. Tapi di dalam negeri Mesir sendiri Presiden Anwar Sadat malah 
dibunuh oleh ekstremis. 

Jadi, nasionalisme dalam bentuk yang sangat ekstrem dan tidak memberi tempat 
bagi oposisi atau kekuatan alternatif senantiasa memang akan memakan korban, 
tokoh yang harus menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan politik. Tragedi 
Munir ialah contoh gamblang bagaimana politik masih bergelimang darah, peluru, 
racun dan kematian fisik di samping pembunuhan karakter atau fitnahan berbasis 
primordial rasis. 

* 


Nasionalisme yang terukur ialah yang tidak mengorbankan kemanusiaan yang adil 
dan beradab. Setiap individu manusia harus diperlakukan manusiawi, tidak 
ditindas atau dilanggar HAM-nya dengan alasan abstrak seperti ideologi, 
teokrasi sempit, tribalisme, dan naluri politik primordial primitif, yang hanya 
mengenal hidup atau mati bagi lawan politik. 

Manusia harus belajar berbeda pendapat dan bersaing merebut kekuasaan melalui 
cara terhormat, beradab, damai tertib tidak melalui peluru, bayonet, culik, 
bunuh, dan aksi kekerasan berdarah yang memakan korban jiwa, seperti insiden 
rasial di pelbagai negara termasuk di Indonesia. 

Ancaman terhadap nasionalisme Indonesia bukan hanya berasal dari liberalisme 
Barat atau otoriterisme Utara Beijing. Nasionalisme Indonesia juga menghadapi 
tarikan ideologi khilafahisme sebagai fenomena globalisasi. 

Bagaimana Indonesia bisa memadukan aspirasi warga keturunan asing (Tionghoa, 
Arab, India, kosmopolitan) dalam melting pot nasionalisme Indonesia. Misi dan 
visinya tentu bagaimana Jakarta mengoptimalkan leverage terhadap Beijing, 
Ryadh, New Delhi, atau Washington, demi kepentingan Nasional Indonesia, tanpa 
setiap saat meragukan loyalitas warga keturunan "global" yang bersangkutan. 

Jika Aburizal Bakrie dan Hashim Djojohadikusumo berinvestasi ke RRT atau Timur 
Tengah atau Asia Tengah, tidak ada orang berteriak meragukan patriotisme dan 
loyalitas. Tapi jika konglomerat keturunan Tionghoa berinvestasi ke RRT, 
dikaitkan dengan faktor leluhur dan politik etnisitas. 

Di zaman globalisasi multijalur ini, India sedang menarik semua keturunan 
India, terutama dari AS yang diberi paspor dan kewarganegaraan India lagi. 
Kelompok Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah juga memiliki solidaritas lintas-negara, 
lintas batas bangsa, dan bergerak pada dimensi ideologi globalis yang relatif 
paling kuat dan paling solid dibanding kekuatan globalis lain seperti MNC dan 
atau NGO/ LSM global. Paspornya bisa Uni Eropa atau AS, tapi ideologi 
khilafahnya bisa menjadikan sese- orang atau kelompok menjadi militan agresif 
destruktif. 

* 


Nasionalisme harus menghadapi tarikan kekuatan globalisasi berupa liberalisasi 
pasar, khilafah internasional, dan pembangunan otoritarian Rusia dan RRT, serta 
kegagalan institusional Negara Berkembang seperti diingatkan Faisal Basri. 
Panelis Sudhamek mengutip proyeksi Goldman Sachs, Price Waterhouse dan The 
Economist bahwa RI akan masuk dalam tujuh besar ekonomi dunia pada 2050 setelah 
naik dari ranking 14 pada tahun 2025. Sementara Paket Economic Partnership 
Agreement (EPA) yang dibawa PM Shinzo Abe memuat deretan panjang peluang 
ekonomi bisnis karena Jepang ingin mengejar ketinggalan dari komitmen RRT di 
Indonesia. 

Di Bali pada 3-7 September KPK bekerja sama dengan ADB dan OCED akan menggelar 
seminar tentang Assets Recovery dari praktik korupsi. Seluruh dunia sudah mulai 
risi dan ingin meningkatkan kerja sama membedah transaksi dan arus uang haram 
delik korupsi. Karena itu negara berkembang seperti Indonesia sangat 
berkepentingan untuk kerja sama internasional melacak dan mengembalikan dana 
hasil korupsi kembali ke negara yang dirugikan atau dijarah oleh praktik KKN. 

Saat ini, lebih terpuji bila energi publik dikonsentrasikan untuk mengeliminasi 
praktik korupsi global. Terutama di Dunia Ketiga dan Timur Tengah yang indeks 
pembangunan manusianya rendah. 


Penulis adalah Founder Chairman Global Nexus Institute 


Last modified: 27/8/07 

<<christia.gif>>

Kirim email ke