REPUBLIKA
Kamis, 30 Agustus 2007

Sekolah Islam 

Oleh : Azyumardi Azra 

Sekolah Islam, selain madrasah, hampir bisa dipastikan merupakan salah satu 
lembaga pendidikan Islam yang mengalami kemajuan fenomenal dalam tiga dasawarsa 
terakhir. Dan, kemajuan itu tidak hanya mengubah lanskap kelembagaan Islam di 
negeri ini, bahkan memengaruhi dinamika Islam di Indonesia secara keseluruhan.

Saya mengamati, meneliti, dan mengkaji perkembangan dan dinamika 
sekolah-sekolah Islam sejak 1980-an dan pernah mempresentasikan makalah tentang 
lembaga pendidikan ini dalam konferensi EUROSEAS di Hamburg di akhir 1990-an. 
Tentu saja, sejak milenium baru 2000 terjadi banyak perubahan pada sekolah 
Islam dan lembaga pendidikan Islam lainnya; kata kunci yang menandai perubahan 
itu adalah meningkatnya kualitas dan daya tarik sekolah-sekolah tersebut.

Penting segera dikatakan, fenomena sekolah Islam --sekali lagi selain 
madrasah-- bukan sekadar gejala 1980-an atau 1990-an. Sekolah Islam telah 
muncul jauh sebelumnya; persisnya pada awal abad ke-20 ketika gelombang 
modernisme Islam menemukan momentumnya di negeri ini. Pengkaji sejarah 
pendidikan Islam di Indonesia pastilah tidak lupa misalnya pada Sekolah 
Adabiyah di Padang yang didirikan Haji Abdullah Ahmad, salah seorang modernis 
awal di kawasan ini. Selanjutnya semacam sekolah-sekolah Islam yang pada 
dasarnya mengadopsi model pendidikan Belanda dikembangkan Muhammadiyah. 
Kurikulum sekolah-sekolah ini mengadopsi kurikulum pemerintah Hindia Belanda. 
Bedanya, sekolah-sekolah Islam ini memperkenalkan pendidikan agama, yang dalam 
istilah Muhammadiyah disebut sebagai met de Qur'an, dengan Alquran.

Tetapi, harus diakui sekolah Islam tidak berhasil meningkatkan kualitas dan 
daya tariknya sampai akhir kekuasaan Belanda dan Jepang, dan bahkan sampai masa 
tiga dasawarsa setelah kemerdekaan negeri ini. Faktor utamanya sudah jelas; 
pertama, tidak ada dukungan finansial memadai, yang memungkinkan terjadinya 
upaya peningkatan kualitas; kedua, belum tersedianya sumber daya yang mampu 
mengelola dan mengembangkan sekolah-sekolah Islam tersebut. Keadaan yang hampir 
sama --hanya sedikit lebih baik dialami juga oleh sekolah-sekolah negeri.

Akibatnya, banyak orang tua yang kaya atau pejabat enggan mengirim anak-anak 
mereka ke sekolah Islam, dan bahkan ke sekolah negeri. Hanya kalangan bawah 
saja yang mengirim anaknya ke sekolah Islam atau sekolah negeri. Sekolah yang 
menjadi favorit mereka adalah sekolah Katolik yang memang menjanjikan mutu dan 
disiplin, yang masih menerapkan disiplin model Belanda. Sampai akhir dasawarsa 
1970-an, bagi orang kaya dan pejabat, mengirim anak-anak ke sekolah seperti ini 
sangat bergengsi; dan karena itu ia juga menjadi salah satu simbol status.

Keadaannya mulai berubah sejak 1970-an. Perintis perubahan itu, tidak lain 
adalah sekolah Islam al-Azhar yang terletak di lingkungan Masjid Agung 
al-Azhar, Kebayoran Baru, yang merupakan kawasan elite di Jakarta. Terkait erat 
dengan visi kemodernan dan keindonesiaan ulama besar, Prof Dr Buya Hamka, 
sekolah al-Azhar menjadi model bagi sekolah-sekolah Islam yang berkecambah 
tidak hanya di Jakarta, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia sejak 1980-an. 
Al-Azhar sendiri membuka cabang di berbagai kota; lalu ada al-Izhar, Madania 
(Parung), as-Salam (Solo), SMU Insan Cendekia (Serpong dan Gorontalo), SMU 
Athiroh (Makassar), Internat al-Kautsar (Sukabumi), dan banyak lagi untuk 
didaftar satu persatu.

Sekolah-sekolah ini dikelola secara profesional, dengan sumber daya manusia 
yang baik; dan tidak kurang pentingnya, dengan dukungan finansial yang amat 
baik. Karena itu, tidak heran kalau sekolah-sekolah ini berhasil meningkatkan 
kualitas pendidikannya. Tidak heran pula kalau sekolah-sekolah ini menjadi 
favorit dan sekaligus menjadi sekolah 'elite'. Perlahan tapi pasti pula, kian 
banyak kalangan menengah ke atas mengirimkan anak-anak mereka ke 
sekolah-sekolah seperti ini. Dan, tidak terelakkan lagi, sekolah-sekolah 
menjadi simbol status baru khususnya bagi keluarga kelas menengah Muslim yang 
sedang dan terus bangkit sejak 1980-an.

Pada spektrum lain, sekolah negeri juga terus berkembang dan meningkatkan 
kualitasnya. Perlahan tapi pasti, muncul sekolah negeri yang menjanjikan mutu 
pendidikan yang baik. Hasilnya, tidak heran, kalau muncul SMA-SMA favorit di 
berbagai kota. Dan, mengikuti jejak sekolah swasta, sekolah-sekolah negeri ini 
juga memungut dana untuk melengkapi fasilitas yang tidak selalu tersedia dalam 
anggaran resmi dari negara.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana mereplikasi contoh-contoh keberhasilan ini 
demi peningkatan kualitas pendidikan bangsa secara keseluruhan. Karena itu, 
perlu pemikiran tentang filantropisme pendidikan, agar biaya yang relatif mahal 
pada sekolah-sekolah berkualitas dan favorit ini untuk dipikul bersama-sama 
guna memberikan kesempatan kepada anak-anak cerdas tapi miskin untuk juga bisa 
menggapai keunggulan. Dengan begitu pendidikan yang berkualitas juga dapat 
dinikmati anak-anak yang kurang beruntung ini, yang seyogianya juga dapat 
diberikan peluang. 

Kirim email ke