Refleksi: Kalau dipandang sebelah mata karena buta, tentu dapat dimengerti, tetapi kalau dilihat dengan mata dan pikiran sehat sebagai negeri berpenguasa tukang copet bin catut yang menyulitkan kehidupan rakyat, lantas apa yang mau dibuat?
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=302075 Senin, 03 Sept 2007, Negara Besar yang Dipandang Sebelah Mata Oleh Eko Setijono Indonesia pernah menjadi negara berkembang yang disegani di kawasan regional. Itu terjadi pada masa-masa setelah kemerdekaan, yaitu saat posisi Indonesia sejajar dengan negara-negara lain yang juga baru merdeka seperti Malaysia pada 1957 dan Singapura pada 1965. Indonesia adalah negara besar, besar karena sumber daya alamnya melimpah, besar karena luas wilayahnya meliputi daratan dan lautan, dan besar karena jumlah penduduknya menempati urutan kelima dunia. Karena kebesarannya itu, tidak heran banyak negara yang memiliki kepentingan terhadap Indonesia, baik kepentingan untuk menguasai sumber daya alam maupun kepentingan untuk menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar yang cukup menjanjikan karena jumlah penduduknya. Melalui kepemimpinan Soekarno dan pertengahan kepemimpinan Soeharto, Indonesia menjadi negara yang cukup dihormati dan disegani negara-negara tetangga. Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung dapat mempersatukan negara-negara Asia Afrika melalui semangat kemerdekaan atas imperalisme, menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok (GNB), dan menjadi bukti kepemimpinan Indonesia dalam kancah internasional. Ketegasan Soekarno dalam politik luar negeri, seperti terhadap Malaysia dengan slogan populernya "ganyang Malaysia" dan kritik pedas terhadap Amerika "ini dadaku mana dadamu!" merupakan rasa percaya diri sebuah bangsa yang baru merdeka. Melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI), Indonesia banyak berperan besar karena merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Peran Indonesia di organisasi itu pernah menjadi ketua Komite 8 OKI, anggota Komite Al-Quds Al Sharif, anggota Commission of Eminent Persons (CEP), dan penggagas International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Demikian juga peran Indonesia di forum APEC dengan memberikan kontribusi disepakatinya komitmen bersama yang lebih dikenal dengan "Tujuan Bogor" (Bogor Goals). Di bidang pertahanan dan keamanan, negara kita pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain. Misalnya, Angkatan Laut kita pernah memiliki 12 kapal selam yang siap mengamankan kedaulatan laut NKRI. KRI Irian memiliki persenjataan lengkap dan mampu menampung 1.000 prajurit siap tempur yang apabila akan melaksanakan operasi, itu dapat menghabiskan hampir seluruh kebutuhan bahan pokok di pasar Surabaya. Angkatan Udara kita juga pernah memiliki pesawat pengebom BO buatan Rusia yang paling canggih pada masa itu, sementara negara-negara lain belum memilikinya. Bandingkan dengan keadaan sekarang? Pada pertengahan kepemimpinan Soeharto, kita juga masih merasakan menjadi bangsa yang diperhitungkan di kawasan regional. Hal ini dapat kita rasakan pada setiap even Sea Games. Posisi kita hampir selalu menjadi nomor satu. Prestasi atlet-atlet bulu tangkis kita sangat merajai even internasional. Bahkan, kepemimpinan Soeharto membuat negara tetangga kita, Australia, berpikir tujuh kali untuk mencampuri urusan politik dalam negeri kita. Pertumbuhan perekonomian Indonesia juga masih berkembang pesat. Sumber daya alam yang melimpah-ruah dan sumber daya manusia dalam jumlah besar membuat investor asing tertarik untuk menanamkan modal di Indonesai. Sebab, Indonesia dianggap akan menjadi raksasa ekonomi Asia. Yang lebih populer disebut memasuki era "tinggal landas". Lalu, kenapa sekarang Malaysia berani mengambil Pulau Sipadan Ligitan? Berani bertindak semena-mena terhadap tenaga kerja kita di sana? Tidak takut memancing persengketaan demi Ambalat? Kenapa Australia berani ikut campur urusan politik dalam negeri kita? Kenapa Singapura berani mencuri pasir kita? Singapura yang hanya sebuah negara kecil berani meremehkan kita melalui perjanjian DCA? Kenapa negara kita mudah sekali dicap sebagai bangsa korup? Negara yang tidak aman, bangsa teroris, serta julukan-julukan lain yang merendahkan kita. Sebenarnya, kita bukanlah bangsa seperti dalam julukan-julukan itu. Tapi, kenyataannya, julukan tersebut memang ada dalam bangsa kita. Lalu, siapakah yang salah? Pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam negeri ini ataukah seluruh rakyat Indonesia yang memang dikenal sebagai bangsa yang lemah, soft nation? Sejak krisis ekonomi 1997 melanda Indonesia yang akhirnya meruntuhkan tirani Orde Baru, Indonesia banyak mengalami kemunduran, terutama dalam bidang ekonomi dan pertahanan keamanan. Padahal, dua bidang itu sangat mendukung diplomasi dan kekuatan politik luar negeri kita. Sebuah negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan pertahanan baik akan memiliki "bargaining power" yang kuat dalam hubungan politik luar negerinya. Misalnya, Singapura, Jepang, dan Tiongkok. Dengan kekuatan ekonominya, mereka menjadi negara yang dihormati negara lain. Begitu juga negara-negara seperti Israel, Iran, atau Korea Utara. Mereka cukup disegani karena kekuatan pertahanan keamanannya. Krisis ekonomi Indonesia yang belum pulih sepenuhnya serta korupsi yang merajalela telah mengakibatkan perekonomian Indonesia berantakan. Tingkat pengangguran meningkat sehingga banyak warga negara kita yang bekerja di negara-negara tetangga. Hal itu memberi kesan bahwa kita adalah bangsa "pembantu" dan mudah diremehkan. Kekuatan pertahanan dan keamanan kita yang lemah akibat kemampuan anggaran negara yang sangat terbatas, kekeliruan dalam membuat konsep pertahanan negara ke depan, dan terlalu meremehkan pentingnya pertahanan negara telah membuat negara-negara tetangga berani mengganggu negeri kita. Karena itu, membangun kekuatan pertahanan dan keamanan yang baik dan profesional sangat bermanfaat demi kelangsungan hidup bangsa, keutuhan wilayah kedaulatan negara, serta tegaknya kedaulatan NKRI. Manfaat lain yang dapat kita raih dengan memiliki kekuatan pertahanan keamanan yang baik adalah pembangunan dapat berjalan lancar, kehidupan berbangsa stabil, dan tentunya negara-negara lain akan berpikir ulang untuk mengganggu Indonesia. Kita tidak cukup hanya memprotes dan menyalahkan Malaysia terhadap tenaga kerja kita yang diperlakukan semena-mena dan tidak adil, telah mengambil alih penguasaan Pulau Sili, atau pencurian pasir laut oleh Singapura. Namun, kita juga harus introspeksi mengapa kita jadi lemah sehingga diremehkan negara tetangga. Bukankah di dunia ini "si kuat" akan selalu menguasai "si lemah"? Karena itu, jika tidak ingin diremehkan negara lain, kita harus meningkatkan perekonomian dan memperkuat sistem pertahanan dan keamanan. Yang tidak kalah penting adalah membangun karakter kita sebagai bangsa yang mandiri, memiliki harga diri, dan semangat membangun yang tinggi. Dengan semangat kerja dan membangun, kita dapat bangkit dari keterpurukan sebagai bangsa yang besar. Indonesia seharusnya menjadi negara yang besar! Eko Setijono, mahasiswa Program Studi Ketahanan Nasional UGM Jogjakarta
