Refleksi: Mungkin bantuan sudah dikirim, tetapi salah dialamatkanm atau juga 
lupa dikasi dan sudah dimakan tikus.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0709/18/sh03.html

Bantuan Gempa Solok, 6 Maret, Pun Belum Cair

Padang - "Pak Presiden, bantuan gempa 6 Maret dulu belum juga sampai ke kami," 
kata Juniwar dari balik rumah bambunya di Solok, Sumatera Barat. 


"Saya akan bilang begitu kalau nanti Pak Presiden datang kemari," lanjutnya. Ia 
sudah mendengar kedatangan orang nomor satu di Republik Indonesia ini ke Sumbar 
untuk mengunjungi korban gempa.


Sayangnya, pernyataan Juniwar hanya diungkapkan kepada para wartawan yang 
menemuinya, Senin (17/9). Karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak 
berkunjung ke Solok melainkan ke Pesisir Selatan setelah dari Provinsi 
Bengkulu. Padahal Juniwar sudah berangan-angan kalau Presiden datang ke Solok, 
persoalan bantuan itu akan ditanyakan langsung.


Sebenarnya Juniwar tidak sendirian. Masih banyak korban lain yang juga menunggu 
bantuan gempa yang tidak kunjung datang. Setidaknya di Solok sebanyak 2.831 
unit hancur akibat gempa berkekuatan 5,8 Skala Richter pada 6 Maret 2007 lalu 
dan 23 warga meninggal. 


Warga di Jorong Ranah itu juga masih ingat janji-janji pemerintah dulu yang 
disampaikan oleh Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, dimana setiap keluarga 
korban mendapat bantuan rehabilitasi rumah Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. "Tapi 
sudah enam bulan berlalu, uang sesen pun tidak juga tampak. Entah kemana pula 
menginapnya uang bantuan kami itu," kata Juniwar. 


Sekarang warga membetulkan rumah masing-masing; yang dahulu terbuat dari tembok 
diganti dengan bambu beratapkan plastik. Namun rata-rata satu tenda dihuni oleh 
tiga keluarga dengan setiap keluarga beranggotakan lima orang. Belum lagi hujan 
yang masih terus mengguyur Sumbar. 


Soal bantuan belum cair, diakui oleh sejumlah bupati. Penyebabnya, petunjuk 
teknis tidak kunjung turun dari pemerintah pusat. Di Tanah Datar, bantuan dana 
yang seharusnya dicairkan Rp 109 miliar, tahap pertama Rp 41 miliar dan 
selanjutnya Rp 109 miliar. "Bantuan itu masih terkatung-katung di Bukittinggi," 
kata Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadigue.


Untuk Kabupaten Agam bantuan Rp 90 miliar, sedangkan Solok Rp 52 miliar dimana 
Rp18 miliar untuk rumah dan Rp 34 miliar untuk pembangunan sekolah, jalan dll. 
Para kepala daerah takut mencairkan uang tersebut tanpa petunjuk teknis, karena 
takut disangka menyalahgunakan uang negara.

Gempa 12 September
Sementara itu gempa yang mengguncang Sumatera Barat 12 September 2007 lalu 
merusakkan 17.212 rumah dan menewaskan delapan warga. Daerah terparah terkena 
dampak gempa adalah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Mentawai. Di 
Pesisir Selatan rumah yang rusak 9.789 unit sedangkan di Mentawai 4.652 unit.

Beberapa pengungsi yang tinggal di tenda di Kecamatan Lunang Silaut kini 
mengeluhkan penyakit gatal-gatal yang mulai menghinggapi. Seperti kata warga 
bernama Jamilus, yang mengaku badannya mulai pegal-pegal dan gatal karena tidak 
ada air untuk mandi. "Yang kami butuhkan sekarang adalah bantuan untuk 
membangun kembali rumah," katanya.
Saat ini bantuan logistik terus mengalir ke lokasi gempa yang diangkut dengan 
pesawat Hercules dan seterusnya dibawa ke Lapangan Udara TNI AU di Tabing. 
Komandan Lanud TNI AU Kol (Pnb) Sugiharto mengungkapkan sejumlah bantuan 
termasuk dari Presiden sudah didrop ke daerah terkena bencana.


Saat kunjungan ke lokasi bencana, Yudhoyono mengakui ada kekurangan selama 
pelaksanaan tanggap darurat. Ia menyatakan cukup maklum, sebab secanggih apapun 
sistem dan teknologi dalam penanganan bencana selalu ada kekurangan. "Laporkan 
yang benar jumlah kerusakan akibat gempa," katanya saat berada di Pesisir 
Selatan.


"Bencana seringkali terjadi. Seharusnya itu menjadi pelajaran bagi kepala 
daerah dalam melakukan penanganan, misalnya upaya penyelamatan dan 
sosialisasi," pesan Presiden. Yudhoyono memberi bantuan Rp 1 miliar, sedangkan 
total kerugian di Sumbar mencapai Rp 768 miliar.
Bupati Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Nasrul Abit, menjelaskan Sumbar kini 
butuh 5.000 tenda, selimut, obat-obatan dan makanan bayi. Menurutnya, saat ini 
18.000 KK tidur di tenda-tenda. (purwandi

Kirim email ke