reflekis:........." pemerintah Indonesia tidak akan mengevakuasi WNI yang ada 
di Myanmar. "Nanti kita dicap sebagai bangsa penakut," ujar Wapres di kantornya 
Jumat (28/9). Benarkah masalahnya terlekak antara penakut dan pemberani?

http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=UTAMA&id=229618

Minggu, 30 September 2007


Kelaparan Mengancam, WNI Aman



 YANGOON - Gejolak berkepanjangan di dua kota terbesar, Yangoon dan Mandalay, 
mulai menciptakan bencana baru bagi Myanmar. Negara yang buminya banyak 
mengandung hasil alam itu kini terancam kelaparan. 
Badan Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) menyatakan, kerusuhan yang 
berlangsung hampir satu bulan itu membuat distribusi makanan ke beberapa kota 
mulai terhambat. Salah satu yang dikhawatirkan adalah jatuhnya korban dari 
anak-anak. 

"Persediaan pangan di beberapa daerah mulai menipis. Kami minta kepada otoritas 
setempat agar diberi akses ke semua bagian di negeri itu," kata Direktur 
Eksekutif WFP Josette Sheeran di markas PBB, New York, AS, kemarin. 

Distribusi pangan terhenti dalam tiga hari terakhir, saat aksi unjuk rasa 
berubah menjadi kerusuhan akibat kekerasan junta militer terhadap demonstran 
yang dipimpin biksu. 

WFP mengungkapkan, Myanmar telah menghentikan semua distribusi makanan dari 
Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar. Kerusuhan Myanmar juga memperlambat 
upaya distribusi makanan di Sittwe, 560 km barat Yangoon. 

"Kami harus melindungi orang-orang yang rentan diserang. Mereka yang lapar 
kebanyakan anak-anak kecil. Begitu juga penderita HIV/AIDS dan TBC," kata 
Sheeran. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah 
menempatkan Myanmar sebagai negara kedua terburuk soal sistem kesehatan setelah 
Sierra Leone. 

Selain itu, Myanmar tercatat sebagai negara dengan penderita TBC cukup tinggi, 
yakni 97 ribu kasus per tahun. Begitu juga malaria yang bisa menyebabkan 
kematian. 

Rentetan gelombang demonstrasi dan ancaman kelaparan itu sejauh ini belum 
mengancam warga negara Indonesia (WNI) di Myanmar. Menteri Konsuler Bidang 
Politik Konsulat Besar Republik Indonesia (KBRI) Myanmar Philemon Arobaya 
mengungkapkan, demonstrasi di Yangoon dan kota lain berangsur-angsur mengecil 
kemarin. 

Ketika dihubungi tadi malam, Philemon mengatakan, KBRI belum mendapat perintah 
dari Jakarta untuk mengevakuasi warga dari Myanmar. "Kami masih menunggu 
perkembangan situasi di sini. Tapi, Jumat kemarin, KBRI sudah mengadakan rapat 
koordinasi dengan perwakilan WNI di Myanmar jika kondisi semakin memburuk," 
tambahnya. 

Dia mengungkapkan, 250 WNI yang tersebar di kota-kota di Myanmar telah diberi 
tahu skenario terburuk jika gelombang demo semakin besar dan disertai 
kerusuhan. "Pihak KBRI sudah memberi tahu di titik-titik mana saja mereka bisa 
mengamankan diri dan kapan mereka harus segera mengungsi," ujarnya. 

Lebih jauh Philemon menjelaskan, WNI di Myanmar, selain diplomat KBRI dan 
keluarganya, berprofesi sebagai pengusaha atau pekerja di pabrik garmen, minyak 
bumi, dan perkapalan. "Syukurlah hingga kini tidak ada satu pun WNI yang jadi 
korban aparat keamanan," katanya. 

Dalam pembicaraan lewat sambungan telepon, Philemon mengakui, untuk meredakan 
gelombang demo masyarakat Myanmar, sambungan internet diputus dan telepon 
dibatasi. "Kami di kantor perwakilan kesulitan mengirimkan faks dan e-mail ke 
Jakarta serta sekadar menelepon Deplu untuk melaporkan kondisi terakhir di 
Yangoon," tuturnya. 

Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelumnya menegaskan, pemerintah Indonesia tidak 
akan mengevakuasi WNI yang ada di Myanmar. "Nanti kita dicap sebagai bangsa 
penakut," ujar Wapres di kantornya Jumat (28/9). 

<<Lapar-30092.jpg>>

Kirim email ke