Menyikapi Kebohongan
Boleh jadi anda termasuk tipe orang yang perfeksionis untuk hal kepercayaan
dan kejujuran. Lalu apa yang anda lakukan tatkala seseorang telah merusak
kepercayaan kita? Adakah sikap yang lebih dewasa bagai mana cara menghadapi
orang yang telah merusak kepercayaan ini. Semoga tulisan saya bisa membedah
masalah tersebut lebih lanjut.
Langkah pertama, cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri, apa yang membuat
orang tidak mempercayai seseorang? Jawabannya pasti: karena orang itu telah
berbohong, atau pasti kita tidak mengenal orang tersebut. Kalau kita sudah
merasa dibohongi, secara otomatis, kepercayaan kita terhadap orang itu pasti
akan berkurang, bahkan secara lebih lanjut, berubah menjadi benci, karena
merasa dikhianati hingga berpengaruh buruk terhadap hubungan selanjutnya.
Lantas, sikap apa yang harus kita ambil terhadap si perusak kepercayaan itu?
Setidaknya ada 2 sisi sikap untuk menanggapinya.
Untuk yang membohongi
Mungkin kamu berbuat seperti itu ada alasanya, sebaiknya berikan alasan
terbaik kamu untuk menjawab semua itu, dengan kejujuran tentunya, karna disaat
kamu mulai dengan kejujuran setidaknya akan memperbesar hati orang yang telah
kamu bohongi, untuk apa memilih alasan karena aku begini karena aku begitu,
atau karena keadaanya ini karena keadaanya itu.
Ingat, tujuanya disini adalah kalau kamu merasa menyesal dengan perbuatanmu.
Tidak mengapa kalau kamu bilang "aku membohongi kamu karna uang" atau "aku
membohongi kamu karna aku ingin kebebasan" mungkin bisa juga "aku membohongi
kamu karna aku memang pembohong biadab, dan aku melakukanya untuk
kesenanganku", walaupun mungkin dia akan marah besar.
Yang harus kamu lakukan adalah:
Meminta maaf, sudah tentu, karna ini adalah perbuatan yang sportif,
setidaknya dia akan menghargai kejujuran hati kamu, dan kebesaran hati kamu
untuk mengakui kesalahan yang kamu lakukan, baik kmu sadari atau ngga kamu
sadari.
Kepercayaan itu tidak hadir begitu saja di dalam diri seseorang, semuanya
butuh proses, kalau kamu bisa membuat dia percaya kamu dari awal, kenapa tidak
mulai lagi untuk membangun nya, karena kepercayaan itu berasal dari 2 tanganmu
sendiri dan kamu bangun sendiri kepercayaan tersebut di dalam hati orang lain.
Jangan pernah tanya "kamu masih percaya aku" atau "kamu harus percaya sama
aku" karena kata kata itu tak kan berarti apa apa bagi orang yang telah di
bohongi. Kalimat itu hanya akan memberikan kamu 2 pilihan, jadi ini mau
dilanjutkan atau ngga? itu saja.
Orang yang dalam kondisi seperti itu tidak akan peduli dengan apa yang kamu
katakan, kalaupun disaat seperti kamu malah memaksa untuk memilih? Percayalah,
kamu akan menyesal mendengar keputusannya.
Dan kalaupun kamu coba untuk tanyakan itu pasti dia akan jawab ngga tau" ya
karena memang sejujurnya dia nggak tau, apakah dia percaya kamu atau nggak?
satu satunya cara, yakinkan dia, jangan berikan dia pilihan.
Untuk meyakinkan seseorang butuh kesabaran dan kebesaran hati. Jangan ragu
untuk membangun kepercayaan dari awal, walaupun sepertinya dia membenci kita,
ngga ada salahnya kalau kita tetap membangun kepercayaan itu, Caranya gimana ??
He he he, pikir sendiri caranya gimana, karna ada beribu cara yang bisa
dilakukan tampa harus berbohong. Seseorang bisa percaya sama kamu itu karna
dari efek sikap kamu terhadap orang itu, kalau kamu semaunya aja, ya orang itu
juga akan mempercayai kamu semaunya dia juga, kalau yang kamu berikan itu belum
cukup, ya karna memang belum cukup membuat dia percaya? ya kan, orang yang kamu
bohongi itu seperti raja, kamu harus menyentuh hatinya agar dia mengizinkan
kamu untuk membangun kembali kepercayaanya terhadap kamu, jadi kalau memang
kamu berniat untuk memperbaiki kesalahan kamu, mulai lah dan lakukanlah.
ingat, kamu ngga bisa menuntut seseorang harus mempercayai kamu, kamu boleh
bilang "kalau tidak percaya ya sudah". Tapi percayalah, itu tidak akan
menyelesaikan permasalahan. Lebih baik bilang sejujurnya "oh iya, aku lupa,
maaf" atau "ah aku terlalu asik bermain sampai lupa hal itu" daripada
menggunakan kalimat ketus yang menyelesaikan masalah dalam waktu singkat namun
berujung tidak baik.
Untuk yang di bohongi
Percayalah, bahwasanya di kolong langit ini nggak ada yang pernah bisa jujur
sepenuhnya. Setiap orang pasti pernah berbohong, kalau tidak dengan orang
lain, setidaknya kepada dirinya sendiri. Menyikapi mereka yang telah membohongi
kita, yang yang harus dilakukan adalah "memberi kesempatan".
Meskipun demikian, memberi kesempatan ini bukanlah sesuatu yang bisa di ukur
berapa kalinya, atau seberapa besarnya, apalagi jika diukur dari seberapa mudah
kita memberi kesempatan itu. Memberi kesempatan disini sangat bergantung
kepada kebesaran hati masing masing, dan kita harus mengetahui dan menyadari,
"bukan kita yang membangun kepercayaan kita terhadap seseorang", namun
"seseorang lah yang membangunnya untuk kita" dan "seseorang juga yang
menghancurkanya untuk kita", jadi sudah sepatutnya kita untuk tidak merasa
sakit hati, ya benar, untuk apa sakit hati? Sakit hati karena di khianati?
Kenapa harus merasa seperti itu? Karena sudah sepatutnya karena perbuatan nya
sendiri, dan sudah jalannya kalau kita jadi tidak mempercayainya.
Jadi yang harus dilakukan ?
Give a Chance
.yup berilah kesempatan, karena memang hanya itu yang bisa kita
lakukan. Tak perlu sakit hati, karena kalau kita fikirkan dalam dalam, yang
membangun kepercayaan siapa? Dia kan! Yang menghancurkanya siapa? dia juga kan!
Jadi, semua ini intinya karena sikap kita adalah efek dari sikap seseorang
terhadap kita, kalau orang itu jujur dengan kita, baik, sehingga efeknya kita
akan percaya terhadap orang itu juga, dan sebaliknya. Ya kan?
Ingatkan, berbohong untuk suatu hal itu biasa, namun ingatkan, jika seseorang
sudah berbohong karna hal yang sama? maka ini yang harus di perhatikan, sebagai
teman, kita harus mengingatkan, dan memberi kesempatan, sampai kapan? Jangan
tanya ukurannya, karena kebesaran hati kita sendirilah yang mampu menjawabnya.
Intinya, semuanya kembali kepada kejujuran. Sebuah hal yg sebenarnya tidak
terlalu sulit kalau kita yakin akan ada suatu hasil yang kita peroleh dari
kejujuran tersebut, . Contohnya kepercayaan
Orang pasti percaya dengan kita,
kalau kita selalu menawarkan kejujuran disetiap langkah yg kita jalanin.
Walaupun bagi orang yg kurang faham arti sebuah kejujuran, pasti akan sulit
sekali untuk berlaku jujur, karena baginya jujur itu seharga nyawanya, sehingga
lebih nyaman untuk selalu hidup dalam gumpalan kebohongan yang lama kelamaan
bakal jadi bola api tuk hidupnya sendiri.
Mencoba untuk jujur..bukan tuk siapa2..tapi untuk diri sendiri. Dijamin tidak
akan rugi, malah akan terasa betapa beruntungnya ketika kejujuran itu sudah
menjadi hal yg istimewa dlm hidup kita, walaupun disaat tertentu kejujuran juga
memiliki rasa yang pahit.
..
KEJUJURAN
Sebagian orang tua mengatakan,
Kami kasihan kepada anak-anak kami, jika kami membebani mereka dengan
kegiatan ini
.karena masih sangat kecil.
Tatkala mendengar kata yg bernada keberatan ini, Syaikh Ibnu Zhafar Al-Makki
berkata, Tatkala telah mampu menghafal ayat :Hai orang yang berselimut
(Muhammad), bangunlah untuk bersembahyang di malam hari, kecuali sedikit
daripadanya (QS.Al-Muzammil [73]:1)
Abu Yazid Thaifur Ibn Isa Al-Basthami berkata kepada ayahnya, Wahai ayahku,
kepada siapakah Allah berkata dalam ayat ini?
Sang Ayah berkata,Kepada Nabi
Sang anak bertanya, Wahai ayahku, mengapa engkau tidak berbuat seperti apa
yg diperbuat Nabi?
Sang Ayah berkata, Wahai anakku, shalat malam hanya dikhususkan bagi Nabi
saw, hanya wajib bagi beliau bukan umatnya.
Sang anak terdiam. Tatkala telah menghafal ayat :Sesungguhnya Tuhanmu
mengetahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua per tiga malam, atau
seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang-orang
yg bersama kamu (QS. Al-Muzammil [73]:20), sang anak berkata kepada ayahnya,
Wahai ayah, aku mendengar bahwa segolongan orang menjalankan shalat malam,
siapakah mereka?
Sang ayah menjawab, mereka adalah para sahabat.
Sang anak bertanya, Wahai ayah, apakah baiknya meninggalkan sesuatu yg
dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya?
Kamu benar, wahai anakku timpal sang ayah. Dan sejak saat itu, sang ayah
mulai terbiasa bangun malam dan menjalankan shalat. Pada suatu malam, Abu Zaid
terbangun dan melihat ayahnya shalat. Ia pun berkata kepada ayahnya,
Wahai ayah, ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat bersamamu!
Wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!
Wahai ayah, jika pada suatu saat manusia keluar dari kubur dalam keadaan
bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka,
maka aku akan berkata kepada Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berkata kepada
ayahku, wahai ayah, ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat
bersamamu! lalu ayah mengabaikan permintaanku, setelah itu ayah berkata,
wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!. Apakah ayah suka jika aku
berkata seperti ini kepada Tuhan?
Maka sang ayahpun berkata, Tidak!! Demi Allah, aku tidak suka engkau berkata
seperti itu kepada Tuhan. Maka sejak saat itu, sang ayah mengajari anaknya
shalat dan setelah itu, sang anak terbiasa shalat bersama ayahnya.
Eemm
hanya sebagai renungan..sudahkah orang tua mengajarkan kepada
anak-anaknya tentang kewajiban untuk taat kepada Tuhannya..?:) Wahai orang
tua
lalaikah engkau..dari memberikan pendidikan yg wajib engkau berikan kepada
anak-anakmu..?
Apakah
orang yg diluar tanggung tanggung jawabmu itu, lebih penting..dari apa
yg sudah Allah amanatkan kepadamu..?jika engkau tidak mampu untuk menjangkau yg
diluar kemampuanmu
jangkau dan selamatkanlah yg ada
dihadapanmu..?janganlah..perhatianmu penuh, pada apa yg diluar tanggung
jawabmu, hingga engkau lalai..pada kewajiban yg ada dihadapanmu..? engkau
lelah,letih mengingatkan kepada semua orang yg jauh dari langkahmu, hingga
engkau lupa untuk mengingatkan buah hatimu sendiri..atau engkau lalai..untuk
mengingatkan dirimu sendiri..-:)
Salam
hana
---------------------------------
.
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.