http://www.antara.co.id/arc/2007/10/3/cerita-sedih-dari-negeri-petrodolar/

03/10/07 16:53

Cerita Sedih dari Negeri "Petrodolar"
Oleh Adityawarman


"Saya hanya berpuasa 12 hari, karena hampir setiap hari majikan berlaku kasar 
dan sering menyiksa. Saya tak kuat lagi," keluh Imas Kurniati binti Syamsuri 
(25), ketika ditemui ANTARA News di ruang tunggu terminal III Khusus Kedatangan 
TKI di Bandara Internasional Soekanrno-Hatta, Tangerang.

Imas baru saja mendarat di bandara terbesar di Indonesia itu, setelah terbang 
selama lebih dari delapan jam dari Negeri Padang Pasir, Arab Saudi.

Di negeri "petrodolar" itu, Imas Kurniati, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal 
Kampung Sindang Barang RT 01/01 Desa Saranganten, Cianjur, bekerja sebagai 
pembantu rumah tangga.

Namun sayang, pekerjaan itu dilakoninya selama dua bulan saja. Semula ia 
berangan-angan, setelah bekerja di Arab Saudi, nasibnya akan berubah. 

Tetapi cita-citanya membawa "riyal" ke kampung halamannya kandas, karena ia 
lebih memilih pulang ke Tanah Air, sebelum masa kontraknya habis.

Imas sebenarnya sudah berusaha bertahan agar dapat terus bekerja setidaknya 
hingga masa kontraknya habis. Apalagi jika teringat nasib putra semata wayang 
dan suami tercinta, M Taufik. Namun perlakukan kasar majikannya membuat ia tak 
kuat lagi dan memilih kabur dari negeri gurun itu.

Menurut dia, perlakuan kasar telah ia terima pada hari pertama menginjakan kaki 
di rumah majikannya di Anla, kawasan gurun terpencil sekitar empat jam 
perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dari Madinah.

Kian hari siksaan dari majikannya tidak semakin surut, bahkan malah 
menjadi-jadi. Majikan laki-lakinya sering sekali meludahi badan, tangan, dan 
kadang muka, bila berpapasan di seputar rumah tanpa sebab yang jelas. Ia juga 
selalu membentak.

"Hampir tiap hari saya selalu dibentak. Saking seringnya sampai-sampai sudah 
saya anggap sebagai sarapan pagi," ujarnya.

Bukan itu saja wanita berbobot 43 kg dan tinggi 150 cm itu, juga sering 
menerima kekerasan fisik.

"Telapak tangan saya merah-merah karena sering dipukul. Bahkan sampai sekarang 
jempol tangan kiri saya masih biru dan sulit untuk digerakkan," katanya.

Menurut Imas, majikannya sering sekali memelintir jempolnya jika sedang emosi. 
Padahal tak satupun kesalahan dilakukannya.

Tak hanya tangan, (maaf) pantat Imas juga menjadi sasaran. Pantatnya 
bengkak-bengkak karena sering dipukul majikan dari belakang. Ia mengaku sulit 
untuk menghindar, karena tanpa terlihat tiba-tiba majikannya memukulnya.

Saat ini kepala Imas juga masih benjol-benjol, karena selalu dijitak majikan.


Puasa dan Gembala Kambing

Saat Ramadan tiba, Imas berharap siksaan akan mereda, karena katanya 
orang-orang Arab akan menjadi lebih saleh dan banyak berderma pada bulan suci 
ini. Namun, harapan Imas Kurniati tak terwujud, deritanya tak kunjung usai 
meski pekan pertama Ramadan telah dilaluinya.

Selama di Anla, Imas Kurniati juga diperintahkan majikan untuk mengembala 30 
ekor kambing, padahal pekerjaan tersebut biasanya hanya dilakoni pembantu 
laki-laki.

Percakapan terhenti sejenak. Tiba-tiba Imas meneteskan air mata dan berpelukan 
dengan rekannya sesama TKI, Nenah Supratno (43) yang juga mengalami nasib 
serupa.

Selain menggembala, Imas juga harus membersihkan rumah. Setiap hari ibu satu 
putra itu harus menjalani tugas itu, termasuk saat berpuasa. Hal yang tidak 
pernah dilakukannya ketika masih berada di Cianjur.

Jika "hanya" itu, sebenarnya Imas mungkin masih bisa menguatkan diri. Tapi 
pekerjaan berat itu, masih harus ditambah dengan perlakukan kasar majikan, yang 
setiap hari harus diterimanya.

"Itu yang membuat saya terpaksa melarikan diri," ujarnya.

Ketika sebuah taksi yang dikemudikan warga setempat melintas, tanpa pikir 
panjang Imas Kurniati berteriak meminta tolong. Sopir taksi itu kemudian 
mengantarnya ke Riyadh.

Imas Kurniati memang tidak melapor kepada polisi setempat atau ke kantor 
perwakilan Indonesia di Arab Saudi. Ia tidak mau menjadi repot, karena biasanya 
jika melapor akan tertahan dan berurusan dengan banyak pihak. Untuk sementara 
ia lebih memilih diam dan pulang ke Indonesia. 

Dengan uang yang masih tersisa, Imas Kurniati menghubungi agen perjalanan. Ia 
sangat bersyukur masih bisa mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan selamat, 
meski tak membawa banyak "riyal" di kopornya.

Imas mengaku kapok pergi ke Arab Saudi dan mengubur mimpinya untuk mendulang 
riyal dari negeri minyak itu. 

"Saya mesti berpikir berjuta kali untuk kembali lagi ke Arab Saudi," ujarnya.


Kasus Lain

Nasib hampir sama juga dialami Nenah Supratno (43) warga Kelurahan Sukamulya RT 
06/03 Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.

Perlakukan kasar majikan laki-laki membuat dia harus pulang ke Indonesia walau 
kontrak kerja belum berakhir.

"Kalau hanya membentak dan marah-marah, itu saya anggap biasa. Tapi kadang 
memukul badan, hal ini yang membuat saya tidak kuat lagi bekerja pada majikan 
saya," kata Nenah.

Nenah menyebut majikannya dengan inisial Aslk. Rumah Aslk berada di kawasan 
Seregia, Kota Daman, Arab Saudi. Oleh Aslk, Nenah setiap hari harus 
membersihkan semua peralatan, termasuk mobil.

"Selain mencuci mobil, setiap hari saya harus membersihkan rumah dua lantai, 
kemudian menyapu langit-langit, memasak, dan mencuci pakaian," kata janda 
beranak satu itu.

Nenah masih bisa menerima pekerjaan yang sebenarnya telah melampaui batas itu. 
Iapun tetap tekun, menjalani itu semua, termasuk pada saat berpuasa.

Namun, karena majikan terus-menerus bertindak kasar kepadanya, maka ia hengkang 
dan pulang ke Indonesia.

Bekerja di Arab Saudi bagi Nenah, sebenarnya bukan yang pertama kalinya. Ia 
sudah tujuh tahun mendulang riyal di negara Timur Tengah. Ia telah berganti dua 
majikan, namun keduanya memperlakukan secara baik bahkan kadang memberikan 
bonus.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNPTKI), M. Jumhur 
Hidayat prihatin terhadap perlakukan majikan di Arab Saudi yang tidak manusiawi 
itu.

"Kita sering menghimbau kepada TKI, ketika berada di negara penempatan supaya 
menyesuaikan diri dengan majikan. Bila ada perlakuan kasar sebaiknya diingatkan 
dan bila perlu dilaporkan kepada pengerah yang memberangkatkan atau bila perlu 
lapor polisi setempat agar tidak berlarut," katanya. 

Di tempat terpisah, duta buruh migran Indonesia, Franky Sahilatua, prihatin 
dengan nasib para TKI yang mencari kerja di luar negeri karena sering 
mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi oleh majikan mereka.

Belakangan ini, nasib TKI kita diluar negeri sangat memprihatinkan, mereka 
sering diperlakukan kasar diluar batas kemanusian. "Bahkan kadang dipersamakan 
dengan budak yang tidak ada nilainya," ujar Franky yang bersama pedangdut Nini 
Karlina, dipilih sebagai duta buruh migran Oganisasi Buruh Dunia (ILO).

Menurut penyanyi balada itu, buruh migran yang bekerja di Timur Tengah dan 
Malaysia, sering diperlakukan sebagai orang tak berguna oleh majikannya.

"Ini harus dihentikan karena TKI, pembantu rumah tangga, juga manusia yang 
harus diperlakukan secara manusiawi dan dihargai kinerjanya," ujarnya.

Memang TKI tidak selamanya mendapat perlakukan buruk. Banyak juga yang 
mendapatkan perlakuan baik dari majikan, di antaranya Wiwin binti Dahri (35) 
asal Desa Babakan Manjeti RT 03/03 Kecamatan Sukajadi, Majalengka.

"Alhamdulillah, majikan laki-laki, perempuan dan anak-anaknya bersikap baik. 
Mereka memperlakukan saya seperti keluarga mereka sendiri," katanya.

Menjelang Idul Fitri Terminal III Bandara Soekarno-Hatta memang semakin ramai. 
Para "pahlawan devisa" Indonesia, berbondong-bondong mudik ke kampung halaman 
di Tanah Air. Banyak yang sedih, namun tak jarang pula yang bergembira.

"Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di kampung sendiri," kata 
Kurniati mengakhiri percakapan karena sopir bus angkutan sudah menunggu untuk 
berangkat ke Cianjur.(*)

Kirim email ke