http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/29/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Cermin Ke-Indonesia-an Sedang Terpecah
[JAKARTA] Cermin ke-Indonesia-an saat ini, sehingga cermin tersebut tidak bisa 
lagi memantulkan suatu refleksi kebangsaan yang benar. Kesenjangan hubungan 
antara pemimpin dan rakyat pun semakin lebar, karena realitasnya pemimpin 
hampir semuanya pada tingkatan seperti berada di menara gading, sedangkan 
rakyat hidup dalam keterasingan bergumul dengan berbagai masalah, termasuk 
untuk mencerdaskan dirinya sendiri. 

"Tidak mengherankan, jika kemudian bangsa Indonesia kerap tergopoh-gopoh dalam 
menata kehidupan berbangsa, bernegara, dan menghadapi dinamika globalisasi yang 
disertai oleh kemajuan iptek maha dahsyat," ujar Guru Besar Universitas Negeri 
Jakarta (UNJ), Prof Dr Conny R Semiawan dalam seminar nasional "Transdisipliner 
dalam Dunia Pendidikan" di Jakarta, Senin (29/10). 

Menurut Conny, terpecahnya cermin ke-Indonesia-an membuat bangsa ini senantiasa 
gagal memperoleh wawasan yang holistik, bahkan suatu saat pendekatan pluralisme 
dan interdisipliner tidak cukup untuk menjawab problematika kebangsaan yang 
semakin kompleks. 

Dikatakan, dalam konteks ke-Indonesia-an dibutuhkan sebuah paradigma dalam 
menghadapi berbagai masalah kehidupan kebangsaan, yaitu orientasi 
transdisipliner melalui interprestasi serta penyatuan rasio, emosi, intuisi, 
karya cipta, dan talenta yang akan melahirkan potensi kreatif guna keluar dari 
krisis multidimensi. 


Ketidakpedulian 

Hal senada diungkapkan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI, Prof Toeti Heraty 
Noerhadi. Dia mengatakan, ke-Indonesia-an tengah mengalami masalah besar. 
Demokratisasi yang lebih menekankan hak dari pada kewajiban, kemandirian yang 
sangat tidak terwujud, karakter bangsa pun tidak dibentuk oleh pendidikan dan 
kaderisasi politik, ditambah sumber daya alam, serta aset-aset lingkungan yang 
semakin dirusak menunjukkan bahwa ke-Indonesia-an kita semakin luntur. 

"Ketidakpedulian struktural yang meluas ini harus segera disikapi. Seluruh 
komponen warga bangsa perlu prihatin dan melakukan sesuatu untuk meretas cermin 
ke-Indonesia-an, sehingga bangsa Indonesia tidak semakin tenggelam," ujar 
Toeti. 

Indonesia menurut Toeti pascakemerdekaan justru gagal melahirkan negarawan dan 
pemimpin-pemimpin yang mampu melahirkan ide-ide cemerlang sehingga memberikan 
rangsangan kepada masyarakat untuk berkreasi dan berinovasi pada bidang- bidang 
kehidupan masing-masing, sehingga karakter bangsa Indonesia semakin humanistic 
dan madani. 

Ketersumbatan itu disumbang pula oleh pendidikan nasional dan kaderisasi 
organisasi yang lebih memuja kepada kepemimpinan yang memiliki modal, dan uang. 
Untuk itu menurut Toeti perlu sebuah formulasi agenda-agenda rekonstruksi ilmu 
pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan etika dan nilai-nilai perubahan 
dalam rangka menjawab tantangan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. 

Harus ada pemetaan dan cetak biru pengembangan kemandirian bangsa melalui ilmu 
pengetahuan. 

Sementara itu, budayawan Mudji Sutrisno mengatakan penghargaan atas 
kebhinekaan, pluralisme, dan keseragaman Indonesia dari identitas asal, 
merupakan sebuah kewajiban untuk membingkai retaknya cermin ke-Indonesia-an. 

"Dengan mengedepankan kekayaan budaya Bhinneka Tunggal Ika, maka tali 
nasionalisme, serta patriotisme kebangsaan sebagai modal dasar bangsa ini 
melangkah ke depan harus segera dibingkai ulang. [E-5] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 29/10/07 

Kirim email ke