http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9475
Kamis, 01 Nov 2007, Suka Duka Dokter yang Bertugas di Kawasan Terpencil Papua (1) Kena Ombak Besar, Perahu Sewaan Patah di Pulau Keramat Tak mudah bagi dokter dan tim kesehatan bertugas di Papua. Sulitnya komunikasi, transportasi, serta kondisi alam yang sangat berat menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mereka menyiasati keadaan ini? YONATHAN, Supiori, Papua SUPIORI, kabupaten yang terdiri atas gugusan pulau kecil di atas kepala burung Papua yang menghadap ke Samudera Pasifik, itu telah memikat hati Gerard A. Juswanto. Debur ombak, air laut yang bersih, serta alam yang indah, membuat dia bertekad bulat mengabdikan diri di salah satu pulau terluar di kawasan timur Indonesia itu. "Teman-teman saya yang sama-sama dikontrak di sini dulu memilih pindah," kata dokter Gerard, panggilan akrab alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia (UKI) itu. Saat masih kuliah di UKI, dia tidak pernah tahu di mana posisi Supiori di peta. Namun, panggilan tugas sebagai dokter membuat dia tak menolak saat ditempatkan sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Puskesmas Sabarmeokre, Distrik Supiori Barat. Padahal, kawasan terpencil itu ibarat bumi dan langit dibanding gemerlap kota Jakarta. Kontrak dokter PTT itu sudah berakhir pada 19 Oktober 2007 lalu. Namun, entah mengapa dia merasa pengabdiannya belum selesai sehingga dia tetap ingin tinggal. "Saya masih ingin tetap melayani masyarakat di Distrik Supiori Barat," kata pria yang dilantik sebagai dokter sejak 1998 itu. Tantangan yang dihadapi Gerard di Supiori Barat cukup besar. Selain medan pelayanan yang berada di pesisir pantai, dua desa di antaranya di Kepulauan Mapia dan Pulau Meosbefondi, kawasan pulau terluar yang tidak dijangkau transportasi laut komersial. "Hanya daerah Sabarmeokre yang dapat kita tempuh dengan jalan darat. Daerah lain harus ditempuh lewat jalur laut dengan perahu johnson (sebutan perahu hasil rakitan khas Supiori)," katanya. Agar bisa mengunjungi para pasien di Desa Wapur, Wayori, Rumbori, dan Napisdi, Gerard terpaksa meminjam atau menyewa perahu johnson milik masyarakat. "Sampai saat ini puskesmas kami memang belum memiliki sarana transportasi laut, sehingga untuk sampai ke sana saya harus usaha sendiri," ujarnya. Berhasil mendapatkan perahu sewaan masyarakat kadang tidak otomatis bisa mempermudah tugas. Sebab, tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah kondisi alam. Untuk sampai ke pesisir pantai Pulau Meosbefondi, misalnya, ombak Samudera Pasifik kadang sangat ganas. Untuk tugas ke pesisir pantai yang lain, kata dia, bisa dipaksakan berangkat. Tapi, untuk ke Pulau Meosbefondi -artinya Pulau Keramat- sangat sulit. Pernah, suatu hari, perahu yang digunakannya patah diterjang ombak. "Beruntung saat itu kami sudah berada sekitar 10 meter dari pesisir Pulau Meosbefondi sehingga dapat tiba dengan selamat," ceritanya. Selain Pulau Meosbefondi yang sulit dijangkau saat cuaca buruk, Kepulauan Mapia -salah satu pulau terluar di Indonesia- juga sangat sulit dikunjungi. Walaupun saat ini sudah ada jalur pelayaran perintis ke sana, jadwal kapal sering terkendala cuaca. Kapal perintis ke Mapia, kata dia, tidak rutin menyinggahi Sabarmeokre. Akibatnya, Gerard harus ke Biak dulu. Yang repot, setelah berjam-jam naik kapal, kesempatan bertemu pasien pun sangat terbatas. "Saat tiba di Mapia kita hanya diberi waktu enam jam untuk melakukan pengobatan. Sebelum kapal kembali berlayar, kami juga harus memberikan biaya tambahan," kata pria kelahiran Biak, 22 Oktober 1980. Kendala yang dihadapi Gerard selama bertugas di Puskesmas Sabarmeokre tidak hanya pada faktor alam. Juga masih banyak masyarakat yang memercayai hal-hal mistik. Pengobatan oleh dukun jadi saingan bagi dokter seperti dirinya. Akibatnya, dia tidak bisa memberikan pelayanan lebih optimal kepada pasien. "Masih ada masyarakat yang secara mistik menolak disuntik. Saat kita memberikan beberapa jenis obat, mereka menolak. Katanya takut mati," katanya. Namun, lewat pendekatan tanpa kenal lelah melalui berbagai penyuluhan, saat ini sudah banyak perubahan. "Saya merasa tertantang untuk terus bekerja di sini dan memberikan pelayanan terbaik," kata pria yang menamatkan SD di Biak itu. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Supiori dr Jenggo Suwarko yang ditemui secara terpisah di Sorendiweri, ibu kota Supiori, mengaku sangat terkesan dengan semangat dokter Gerard. Sebab, anak buahnya bisa melaksanakan setiap program kerja pelayanan kesehatan meski medan yang dihadapi sangat berat. "Dia juga sangat kreatif dalam menyusun program-program pelayanan," katanya. Gerard kini semakin mantap mengabdikan diri di Supiori. Sebagai dokter Puskesmas Sabarmeokre dia kini punya pendamping yang tangguh. "Program ke pulau-pulau terluar harus tetap jalan," kata dokter yang baru mempersunting adik tingkat yang kini menjadi dokter PTT di Distrik Supiori Utara. (bersambung)
