REPUBLIKA
Senin, 29 Oktober 2007

Pemanasan Ekonomi Global 

Oleh : Iman Sugema 


Overheating atau pemanasan ekonomi kembali menjadi kosa kata yang sangat 
populer diucapkan para ekonom di seluruh dunia. Kata tersebut sempat menjadi 
sangat popular di awal tahun 1990-an untuk mendeskripsikan situasi perekonomian 
di negara-negara yang disebut Macan Asia, yang kala itu tumbuh dengan sangat 
pesat di atas tujuh persen. 

Kini Asia, membuat masalah yang sama, dengan skala yang lebih besar. Kalau 
dulu, Macan Asia yang bangkit adalah kumpulan sejumlah negara yang relatif 
berpenduduk sedikit seperti Korea, Taiwan, Thailand, Malaysia, Hongkong, dan 
Singapura. Sekarang yang sedang berlari kencang adalah terutama yang 
berpenduduk besar seperti Cina dan India. Ekonomi berpenduduk sedang seperti 
Pakistan dan Bangladesh juga sedang mengalami akselerasi, walau kecepatan 
pertumbuhannya masih di bawah Cina. 

Berlawanan dengan conventional wisdom pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi 
tidak selalu berasosiasi dengan hal-hal yang positif. Konsep overheating 
menekankan pertumbuhan di atas kapasitas normal bisa membawa dampak negatif dan 
bahkan bisa menjerumuskan dunia ke jurang krisis. Untuk itu yang kita 
diskusikan sisi positif maupun negatifnya.

Sisi positif dari perkembangan ekonomi di Cina dan India terutama tercermin 
dalam perbaikan tingkat kehidupan masyarakat di kedua negara. Dalam 10 tahun 
terakhir, tingkat pendapatan perkapita meningkat dua kali lipat, yang tentunya 
memiliki implikasi terhadap permintaan agregat atas barang dan jasa di kedua 
negeri tersebut. Kota-kota baru dengan gedung pencakar langit bermunculan 
sebagai sebuah fenomena yang belum pernah tertandingi oleh peradaban manapun. 

Permintaan bahan baku, energi, dan barang konsumsi telah memicu pertumbuhan 
secara berantai di negara-negara lainnya di seluruh dunia. Pembengkakan ekspor 
batubara, bijih besi, timah dan uranium telah mengakibatkan ekonomi Australia 
dan negara-negara yang berbasis sumber daya alam lainnya menikmati pertumbuhan 
yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Negara-negara industri berlomba melakukan investasi di berbagai bidang mulai 
dari pengolahan minyak nabati sampai komputer, mobil, motor, dan kebutuhan 
elektronik rumah tangga. Akibatnya investasi dalam bidang industri konsumsi 
meningkat tajam di kedua negara dengan antisipasi bahwa permintaan atas barang 
dan jasa meningkat terus-menerus.

Pertumbuhan yang sedemikian dasyat telah menjadikan Cina dan India sebagai 
lokomotif baru pertumbuhan ekonomi dunia setelah melambatnya pertumbuhan di 
Jepang dan negara-negara macan Asia. Harga berbagai komoditi, telah merangkak 
secara konsisten sejak 2001, mengikuti harga energi. Indonesia dan beberapa 
negara berkembang lainnya menikmati surplus perdagangan yang semakin menguat. 
Tapi itu bukan tanpa persoalan.

Salah satu yang menjadi korban adalah AS yang kebanjiran produk-produk murah 
dari Cina. Dipadukan dengan kebijakan fiskal yang ekstra ekspansif semasa 
pemerintahan Bush junior, defisit perdagangan negeri Paman Sam semakin tak 
tertahankan. Untuk membiayai defisit tersebut harus ada aliran modal yang 
masuk. Karena itu, suku bunga mulai dikerek naik sejak 2002.

Dengan naiknya suku bunga, defisit perdagangan dan fiskal bisa ditambal. Tapi 
itu menimbulkan persoalan baru. Beban bunga untuk pembayaran kredit konsumsi 
terutama kredit perumahan menjadi tidak sustainable. Akibatnya, terjadi krisis 
subprime mortgage yang mengancam dua juta rumah tangga di AS menjadi 
gelandangan tanpa rumah. Imbasnya juga terasa ke negara-negara lainnya dalam 
bentuk gonjang-ganjing pasar finansial dan kerugian lembaga keuangan yang 
diperkirakan mencapai 200 miliar dolar AS. 

Australia yang menikmati pertumbuhan yang menguat juga menghadapi masalah 
dilematis. Akibat permintaan bahan tambang dari Cina dan India, nilai tukar 
dolar Australia mengalami peningkatan yang sangat tajam dan persisten. 
Akibatnya bisa diduga, yaitu terjadi the Dutch desease, di mana daya saing 
barang-barang lain menjadi melemah akibat tekanan upah buruh dan memanasnya 
sektor non-tradeable. Sektor-sektor domestik mengalami bubble yang setiap saat 
bisa meletus.

Indonesia juga bukan tanpa masalah. Akibat kenaikan harga energi, kita harus 
menelan pil pahit dengan kenaikan harga BBM domestik. Kelangkaan energi terjadi 
secara bergiliran dari satu daerah ke daerah lainnya. Kenaikan harga komoditas 
ekspor telah menyebabkan harga di dalam negeri terkerek naik. Ujung-ujungnya 
yang menjadi korban adalah mereka yang berpendapatan rendah. 

Akibat terjadinya surplus perdagangan dan mandeknya investasi di sektor riil, 
pasar finansial mengalami gelembung terutama di pasar modal. Pasar modal telah 
menjadi kontra produktif terhadap sektor riil karena praktis return di pasar 
finansial tidak dapat diimbangi sektor riil. Sektor riil tumbuh di bawah 
perumbuhan potensialnya. Ini hampir mirip dengan the Dutch desease.

Perkembangan serupa juga terjadi di berbagai negara berkembang di belahan dunia 
lainnya. Pemanasan ekonomi global telah menjadi bahaya laten timbulnya krisis 
global yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Apakah kita telah siap 
menghadapinya? Mudah-mudahan.

Kirim email ke