Refleksi: Agaknya Rakyat Lombok mempersiapkan diri untuk hari kemudian, 
bagaimana dengan penduduk kota atau kampung Anda?. Apakah Lombok bisa dijadikan 
contoh baik dengan memiliki begitu banyak mesjid?

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=312032&kat_id=19


Rabu, 31 Oktober 2007

Masjid-masjid Itu Sangat Megah 

Oleh : Asro Kamal Rokan 


Mayoritas penduduk Lombok, Nusa Tenggara Barat, beragama Islam. Perkelahian 
antarkampung, terutama di Mataram, menjadi peristiwa biasa di sini. Hanya 
karena dua anak muda lain kampung bersenggolan, dalam waktu cepat perkelahian 
massal bisa terjadi, yang terkadang juga melibatkan jamaah masjid. 

Masjid indah dan megah sangat mudah ditemui di Pulau Lombok dan Kota Mataram. 
Warga setempat menyebutnya sebagai 'Pulau Seribu Masjid'. Dalam satu gang saja, 
dengan jarak tidak begitu jauh, bisa ada dua masjid. Umumnya, masjid-masjid itu 
bertingkat dengan arsitektur Timur Tengah. Bahkan, di salah satu tempat karena 
masjid berdekatan, shalat Jumat dilakukan bergantian. Jumat ini di masjid yang 
satu, Jumat depan di masjid yang lainnya. 

Di Banyu Mulek, Lombok Barat, tidak jauh dari Kota Mataram, terdapat masjid 
kembar. Dua masjid itu hanya dipisah perempatan jalan. Bangunannya sama, megah 
dan berarsitektur Timur Tengah. Satu sudah mendekati selesai, satu lainnya 
separuh selesai. Dari gambar bangunan, direncanakan kedua masjid ini akan 
disatukan oleh menara besar. Posisi menara tunggal itu di atas perempatan jalan 
raya. 

Indah dan luar biasa. Modal membangun masjid kembar dengan menara tunggal itu 
tentulah miliaran rupiah, mungkin puluhan miliar rupiah. Saya bayangkan, betapa 
makmur masyarakat daerah ini, yang dapat mendirikan masjid megah dengan biaya 
besar. Dan, jamaah pada setiap shalat tentulah melimpah ruah sehingga 
diperlukan dua masjid besar. Apalagi, tidak jauh dari masjid tersebut, sekitar 
300 meter, sudah ada masjid berkubah hijau yang juga besar. 

Seorang sahabat mengatakan kepada saya, masjid-masjid di Lombok dan Mataram ini 
umumnya dibangun atas swadaya masyarakat, tanpa bantuan pemerintah. Secara 
bergiliran, masyarakat di sekeliling masjid --sebagian di antara mereka tinggal 
di rumah sangat sederhana, ada juga masih berlantai tanah-- menaikkan batu, 
mengaduk semen, mengayak pasir, dan memasang keramik. Hari berikutnya, kelompok 
yang lain melakukan hal yang sama. 

Semangat warga mendirikan masjid megah pantas diapresiasi. Namun, ini terasa 
menjadi mewah, di tengah kondisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan umat yang 
rendah. Pada 2005, RSU Mataram merawat bayi usia setahun kekurangan gizi. Bayi 
itu satu di antara 51 orang penderita busung lapar di Kabupaten Lombok Barat, 
Mataram, dan Lombok Timur. 

Pendidikan juga menjadi problem di wilayah ini. NTB menempati posisi sembilan 
besar provinsi dengan angka buta aksara tertinggi. Ini melengkapi nilai buruk 
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB, yang kini di posisi 32 dari 33 provinsi. 
Data Dinas Pendidikan NTB menyebutkan, penyebab anak-anak usia sekolah berhenti 
karena faktor ekonomi, kondisi geografis, dan pola pikir. Orang tua yang miskin 
cenderung memerintahkan anaknya bekerja daripada bersekolah. 

Lombok pulau yang indah. Pantai Senggigi berpasir putih. Hotel-hotel 
berbintang, vila-vila besar berjejer menghadap laut yang terus berdebur. Masjid 
megah berlantai dua sangat mudah ditemui, seperti juga mudah menemukan 
anak-anak menengadahkan tangan di perempatan jalan, dan rumah-rumah berdinding 
tepas, berlantai tanah. 

Suara muadzin mengumandangkan adzan Dzuhur bersahut-sahutan dari pengeras suara 
di masjid-masjid besar yang berdekatan: Mari menunaikan shalat, mari meraih 
kemenangan. Di salah satu masjid, jamaah hanya tujuh orang. Mereka sudah 
berusia lanjut. Masjid besar itu sangat sepi. Saya terpaku di sini: Sepi sekali 
di Pulau Seribu Masjid.

Kirim email ke