http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007110100331416
Kamis, 1 November 2007
'Saptapesona' Indonesia!
H.Bambang Eka Wijaya:
"SELAIN Bali, Jawa, Sumbar, Sumut. Sulsel, daerah-daerah lain terkesan
sulit memikat turis asing! Kalaupun ada yang datang, relatif sporadis!" ujar
Umar. "Padahal, untuk promosi pariwisata daerahnya, nyaris semua provinsi,
bahkan kabupaten/kota, membuat festival budaya dibiayai APBD setiap tahun!"
"Mungkin karena saptapesona promosinya sama untuk seluruh daerah, turis
memilih daerah wisata yang direkomendasi teman-temannya yang pernah berkunjung
kemari!" sambut Amir. "Mungkin perlu saptapesona yang lebih khas dan orisinal,
tak hanya soal keindahan alam dam budaya yang kalah menarik dari daerah tujuan
utama yang ada!"
"Para turis itu kan dari negara-negara maju! Kalau hanya fasilitas
seperti yang ada di negerinya kurang memikat!" tegas Umar. "Jadi, apa yang khas
dan orisinal Indonesia jelas akan lebih menarik bagi mereka!"
"Yang khas dan orisinal Indonesia dan bisa ditemukan di semua daerah,
meminjam dari Limas Sutanto (Kompas, 30-10) ada enam hal, yaitu kemiskinan,
pengangguran, ketidakadilan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan (termasuk
korupsi), dan rendahnya kualitas pendidikan!" timpal Amir. "Kelop menjadi
saptapesona Indonesia dengan satu hal lagi, malanutrisi atau gizi
buruk--penyebab rentannya warga terhadap penyakit mematikan, dari diare, demam
berdarah, sampai flu burung!"
"Mereka yang datang dari negara maju jelas ingin tahu bagaimana realitas
kemiskinan, bagaimana pengangguran menghabiskan waktunya, atau penyalahgunaan
kekuasan dan korupsi yang mereka cuma tahu dari televisi!" tukas Umar. "Tentu
ini harus dipaket dalam adventures tourism (wisata petualangan), yang dewasa
ini trennya meningkat dengan backpacker tourist (turis penggendong tas).
Australia misalnya, mengandalkan wisata model ini dengan petualangan di kawasan
sabana Aborigin!"
"Kalau dengan saptapesona versi ini, semua daerah bisa menjadi andalan!"
sambut Amir. "Sekaligus, sebagai tujuan wisata, kaum miskin bisa kecipratan
dolar turis petualang yang menghabiskan masa kunjungannya dengan tinggal di
rumah warga miskin apa adanya! Kondisi apa adanya orang miskin yang diinapi itu
penting karena petualang tak suka polesan, apalagi kepura-puraan!"
"Pengeluaran turis yang jadi jauh lebih murah itu cocok dengan turis
backpacker, yang biasa ingin tinggal lebih lama dengan modal tak terlalu
banyak, umumnya kaum muda yang datang ke daerah tropis untuk menghindar dari
musim dingin di negerinya!" tegas Umar. "Soalnya, kalau daerah kita tak bisa
menarik turis eksekutif kelas bintang lima, memilih segmen kelas murah-meriah
bisa menjadi salah satu alternatif!"
"Lagi pula, dengan merasakan realitas hidup rakyat negeri yang dikunjungi
secara apa adanya, mereka akan mendapat bahan cerita yang banyak saat pulang ke
negerinya!" timpal Amir. "Cerita baru yang menarik itu secara eskalatif akan
membawa turis petualang ramai ke kawasan miskin, sehingga pariwisata pun bisa
membantu kita meningkatkan kesejahteraan warga miskin, masalah yang kita
sendiri kurang berhasil melakukannya selama ini!" ***
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
