http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=46617


Golkar Hapus Aturan Konvensi
(22 Nov 2007, 397 x , Komentar) 

JAKARTA - Penentuan calon presiden dan calon wakil presiden dari Partai Golkar 
dipastikan tidak lagi melalui konvensi. Tapi cukup dengan menggelar rapat 
pimpinan (rapim) khusus yang melibatkan semua DPD I se-Indonesia."Inilah 
desakan yang paling kuat yang diperkirakan akan muncul dalam Rapimnas III 
Partai Golkar yang mulai berlangsung besok (maksudnya hari ini, red). Sebagian 
besar kader berringin menginginkan aturan konvensi ditiadakan," kata Ketua DPP 
Partai Golkar Theo L Sambuaga kepada Fajar, kemarin.

Penegasan Theo ini sejalan dengan pemikiran Ketua Umum DPP Partai Golkar HM 
Jusuf Kalla. Saat menghadiri acara peluncuran buku Fahmi Idris, dua hari lalu, 
JK menyebut, sistem penjaringan capres dan cawapres melalui rapimnas sudah 
menjadi harga mati. 

"Saya tidak ragu soal konvensi. AD/ART partai menyebut rapimnas. Kita jalankan 
itu," kata JK. 

Sekadar diketahui, di internal partai beringin ini memang terpecah soal perlu 
tidaknya aturan konvensi jadi rujukan penentuan capres dan cawapres 2009. 
Kelompok yang mendorong perlunya tetap pada aturan konvensi dimotori oleh faksi 
Akbar Tandjung. 

Para loyalis Akbar berusaha mempertahankan aturan ini untuk masuk dalam agenda 
setting dalam Rapimnas Partai Golkar yang akan digelar di Jakarta, hari ini.

Namun, menurut Theo, desakan mengubah konvensi ke rapim khusus lebih kuat lagi. 
Sehingga bisa dipastikan, konvensi bakal ditinggalkan Golkar. "Rapimnas 
merupakan wadah tertinggi di bawah Musyawarah Nasional (Munas). 

Sehingga wajar jika mereka yang menginginkan aturan konvensi dijalankan dalam 
penentuan capres akan mengemuka dalam rapimnas," kata Theo yang membidangi 
Perhubungan, Telekomunikasi dan Informasi ini.

Terkait tudingan yang menyebut Golkar tidak demokratis jika aturan capres hanya 
melalui rapimnas, ditepis Theo. Menurut politisi berdarah Sulawesi Utara ini, 
penjaringan capres tetap dilakukan melalui rekruitmen yang terbuka. Dalam 
artian, siapa saja yang mau jadi calon dipersilakan mendaftar dan akan dipilih 
secara demokratis.

"Golkar meninggalkan konvensi karena aturan ini terlalu rumit dan membutuhkan 
waktu yang lama," kata Theo.

Teho menyebut, saat pencapresan 2004 lalu, Golkar memulainya dengan konvensi di 
tingkat DPD II. "Sekarang ada sekitar 500-an DPD II. Kalau konvensi itu 
dilakukan, jelas akan memakan waktu yang cukup panjang. Makanya, berkembang 
pemikiran untuk memperbaiki rekruitmen ini," katanya.

Ketua Komisi I DPR ini menjelaskan, Rapim Khusus ini, baru akan dilakukan 
pascapemilu legislatif 2009. Kenapa? Untuk menjaga harmonisasi antara presiden 
dan wapres. Logikanya, Golkar terlebih dulu ingin mengetahui kekuatan dan 
kelemahan berdasarkan hasil pemilu legislatif. 

"Golkar memerlukan satu tolok ukur. Salah satunya pemilu legislatif. Misalnya, 
UU yang berlaku sekarang, parpol yang bisa mencalonkan presiden kalau memiliki 
suara 15 persen. Inilah yang kita tunggu, apa memenuhi target itu?" 

Selain itu, juga harus dipertimbangkan perlu tidaknya koalisi dengan parpol 
lain. "Dan semua ini baru bisa diketahui setelah pemilu legislatif 2009," kata 
Theo.

Apakah tidak terlambat? Theo mengakui, memang banyak kalangan yang berpendapat 
demikian. Namun, bagi Golkar, itu tak masalah. Apalagi kalau mengacu pada 
Pilpres 2004 lalu, pasangan Golkar hanya butuh waktu beberapa bulan saja untuk 
melakukan sosialiasi dan kampanye dan itu dianggap sudah cukup. 

Theo juga membeberkan, selain melalui mekanisme rapim, capres dan cawapres 
Partai Golkar juga sangat ditentukan oleh hasil survei lembaga independen. 

"Ini untuk mengetahui, siapa-siapa capres dan cawapres yang dikehendaki oleh 
rakyat. Hasil survei ini akan menjadi salah satu pertimbangan untuk mengusung 
calon nantinya," ujar Theo. 

Siapkan Strategi

Sebagai parpol pemenang pemilu legislatif 2004 lalu, lewat rapimnas III kali 
ini, Partai Golkar juga akan menyusun rencana strategi pemenangan Pemilu 2009.

Seperti apa strategi itu? Semuanya baru akan dibahas di Rapimnas yang akan 
dimulai hari ini. Tapi informasi yang diperoleh Fajar, salah satu urutan 
prioritasnya adalah Golkar akan menyiapkan program-program unggulan yang akan 
dilakukan satu tahun ke depan. Tujuannya, untuk meraih simpati rakyat. 

Program prioritas tersebut, adalah program yang menyentuh langsung kepentingan 
rakyat atau pro rakyat. 

Mengenai sikap politik? Theo menyatakan, sikap Golkar, jelas mendukung 
pemerintahan SBY-JK sampai masa jabatannya berakhir 2009. Meski begitu, kata 
dia, lewat evaluasi yang dilakukan setiap tahunnya, Golkar selalu menyampaikan 
pikiran dan sikap kritis berdasarkan evaluasi yang dilakukan. 

Belum Pasti Amin Ikut 

Sementara itu, Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel Arfandy Idris mengatakan, 
hingga malam tadi, Ketua DPD I Golkar Sulsel HM Amin Syam belum memastikan 
dirinya untuk ikut pada rapimnas di Jakarta. "Belum ada kepastian Pak Amin. 
Bisa saja beliau (Amin) berangkat langsung besok (hari ini)," ujar Arfandy.

Siapa-siapa pengurus DPD I Partai Golkar Sulsel yang berangkat ikut Rapimnas? 
Arfandy mengatakan, antara lain; Ketua Bappilu HM Roem, Wakil Ketua Ambas Syam, 
Pangerang Rahim, Barlianty Hasan, Kadir Halid dan Arfandy Idris sendiri.

Roem mengatakan, selain mengikuti agenda Rapimnas, DPD I Partai Golkar Sulsel 
juga akan menyampaikan laporan atas kekalahan usungan Partai Golkar HM Amin 
Syam-Mansyur Ramly pada pilkada gubernur dan wakil gubernur di Sulsel belum 
lama ini. 

"Tentu kami tak bisa mengelak, kami akan laporkan bahwa Golkar di Sulsel memang 
kalah," tegas mantan Bupati Sinjai ini.

Apakah itu hasil evaluasi? Roem mengatakan tentu. "Tapi saat ini saya belum 
bisa mengungkapkanya. Ada saatnya DPD I ungkap apa yang menjadi faktor 
kekalahan Asmara," jelasnya.

Kendati Roem enggan mengungkapkan penyebab kekalahan Asmara, namun dari 
internal DPD I Partai Golkar Sulsel menyebutkan bahwa berdasarkan hasil 
evaluasi DPD I, kekalahan itu terjadi karena campur tangan tim keluarga atau 
tim kekerabatan yang tidak bisa bersinergi dengan Tim Kampanye dari Partai 
Golkar.

Saat dikonfirmsi hal itu, Roem terdiam. Tak lama kemudian, ia tertawa besar. 
"Saya no comment," katanya kepada Fajar. (ars-sul-har) 



Kirim email ke