Kompas
Kamis, 06 Desember 2007

Kelapa Sawit Bukan Jawaban untuk Papua 



Nusa Dua, Kompas - Laju deforestasi di Pulau Papua diperkirakan akan semakin 
tidak terkendali apabila rencana pembukaan hutan alam untuk perkebunan kelapa 
sawit benar-benar terealisasi. Tingkat alienasi masyarakat setempat di 
wilayahnya sendiri juga dikhawatirkan akan semakin parah. Pemerintah Provinsi 
Papua dan Papua Barat harus mengkaji rencana itu dari sudut pandang masyarakat 
setempat. 

"Kerusakan hutan dan hilangnya keanekaan hayati di Papua akan tetap berlangsung 
bila kebijakan pemerintah tetap berorientasi pada pembukaan hutan untuk 
perkebunan sawit demi memenuhi permintaan pasar global. Eksploitasi hutan 
selama ini terbukti tidak bermanfaat bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat," 
kata Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif Forum Kerja Sama (Foker) LSM Papua 
di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim, Rabu (5/12). 

Septer menyatakan, eksploitasi hutan di Papua terjadi beriringan dengan 
penghancuran sistem kearifan lokal. Hal itu dilakukan secara sistematis dan 
terstruktur. Negara justru gagal melayani dan meningkatkan taraf hidup 
masyarakat. 

"Sawit boleh ditanam di lahan-lahan kritis di Papua dan bukan di hutan alam. 
Ada tiga juta hektar lahan kritis yang bisa digunakan," kata Septer. 

Luas hutan di Papua 42,2 juta hektar atau 95 persen dari total daratannya. Dari 
jumlah itu, 48 persen adalah hutan lindung dan konservasi, 30 persen hutan 
produksi, dan 22 persen hutan konversi. Hutan di Papua terkenal sangat kaya 
keragaman hayatinya, bahkan diperkirakan terlengkap di kawasan Asia Pasifik. 
Taman Nasional Lorentz, misalnya, adalah tempat hidup flora dan fauna endemis. 

Data LSM lingkungan Greenpeace menunjukkan, hutan Papua berperan besar sebagai 
paru-paru Bumi, yakni dua persen dari total 10 persen hutan yang masih murni di 
dunia. Namun, saat ini sembilan juta hektar hutan di Provinsi Papua dan Papua 
Barat telah diidentifikasi oleh Departemen Kehutanan untuk dikonversi. Menurut 
Septer, ada dua perusahaan yang siap mengonversinya menjadi perkebunan sawit. 

Pengelolaan mandiri 

Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat bertekad mengelola hutan di Tanah 
Papua secara mandiri dan berkelanjutan. Kini tengah dicari formula untuk 
mencegah laju deforestasi yang sekaligus memberdayakan masyarakat. 

Gubernur Papua Barnabas Suebu menyatakan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan 
Papua Barat untuk menyiapkan perangkat pengelolaan hutan. Kebijakan baru itu, 
antara lain, mencakup pengembalian hak atas hutan kepada penduduk asli, 
melarang penjualan kayu gelondongan keluar Papua, dan percepatan pengembangan 
industri kayu rumahan. 

Dia juga melihat kemungkinan mekanisme perdagangan karbon dari hutan di Papua 
sebagai alternatif penghentian deforestasi sekaligus sarana peningkatan taraf 
hidup masyarakat. "Kami akan berdagang karbon. Ketika dana turun, semua akan 
dikelola secara benar untuk menurunkan kemiskinan masyarakat," ujar Suebu. (B

Kirim email ke