Refleksi: Mungkin agama yang dipeluk penduduk menginspirasikan kerakusan bin tamak dan oleh karena itu korupsi merajalela di semua tingkat dan lapangan.
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=146021&actmenu=39 Membangun SDM dengan Kecerdasan Spiritual, Emosional dan Intelektual Oleh : Ary Ginanjar Agustian 17/12/2007 09:38:41 Bangsa ini seolah memasuki terowongan gelap gulita yang tak berujung. Negeri yang mcmiliki sumber daya alam sangat kaya, namun masih tergolong negara miskin. Hampir seluruh penduduk memeluk agama, tapi tergolong negara terkorupsi. Selama puluhan tahun tanpa disadari bangsa ini hanya berorientasi pada intelektualisme seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah dengan nilai akademis, namun kerap mengabaikan nilai-nilai moralitas. Yang terjadi di Indonesia dan dunia, manusia makan manusia, homo homini lopus, karena manusia berorientasi pada Hirarki Maslow dan berkiblat pada materialisme. Mereka menganggap kebutuhan utama dan pertama manusia adalah basic need yaitu sandang, pangan, papan, sedangkan self actualitation atau spintualitas menempati urutan terakhir. Akibatnya manusia berlomba-lomba dalam dimensi basic need dan tidak pernah puas, sehingga mereka tidak pernah naik ke tingkat yang paling atas. Seseorang yang tak menemukan makna hidupnya akan merasakan keresahan yang luar biasa. Ia menjadi manusia yang "terasing" dari dirinya sendiri. Tanpa memahami makna dan nilai kehidupan maka akan muncul berbagai fenomena. Misalnya, tingginya penderita gangguan jiwa, meningkatnya pemakai narkoba, pergaulan bebas kian menggejala, krisis moralitas, membudaya prilaku kecurangan, korupsi merajalela, pelanggaran hukum Apa sesungguhnya yang menyebabkan munculnya problematika di atas? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa potensi alam bangsa Indonesia sangat kaya. Ribuan pulau membentang di sepanjang khatulistiwa, tanah yang subur, potensi kelautan yang sangat kaya, minyak bumi, dan lainnya. Secara kuantitas, penduduk bangsa ini juga sangat besar. Namun mengapa kemiskinan dan pengangguran masih tinggi? Dalam buku Spiritual Capital, Danah Zohar membahas tentang tiga jenis modal yaitu modal materiil/fisik, modal sosial, dan modal spiritual. Modal fisik (Physical Capital) berupa potensi sumber daya alam. Modal sosial (Social Capital) yaitu rasa kebersamaan dan keterikatan emosi, dan modal spiritual (Spiritual Capital) yaitu kemampuan mengenal diri sejati sebagai hamba 'I'uhan. Untuk rnengelola ketiga modal tadi diperlukan 3 jenis kecerdasan. Fungsi IQ adalah "What I think" (apa yang saya pikirkan) untuk mengelola kekayaan fisik atau materi; fungsi EQ adalah "What I feel" (apa yang saya rasakan) untuk mengelola Kekayaan Sosial; dan fungsi SQ adalah "Who am I" (siapa saya) untuk mengelola Kekayaan Spiritual. Bangsa Indonesia sudah memiliki ketiga modal tersebut. Namun belum dikelola secara optimal oleh ketiga fungsi kecerdasan. Hal itulah yang mengakibatkan berbagai permasalahan. Secara garis besar dunia ini dibagi menjadi dua kutub. Pertama kutub Barat yang cenderung rasionalis , berorientasi pada materialisme, tapi sangat miskin nilai spiritual sehingga hidup di alam kekeringan tanpa makna. Kedua, kutub Timur yaitu manusia yang cenderung terlalu spiritualis, banyak melakukan kontemplasi tapi lemah secara intelektual sehingga kalah dalam percaturan sosial dan ekonomi. Dibutuhkan penyatuan kedua kutub itu sehingga menjadi seimbang, itulah yang dinamakan Umalan Wasathon atau umat pertengahan. Karena itu, digagas sebuah metode untuk menggabungkan ketiga potensi dasar manusia sehingga terbentuk SDM tangguh sekaligus memberikan jawaban atas pencarian seluruh manusia di muka bumi ini. Metode tersebut saya namakan The ESQ Way l65 yang merupakan rumusan (mindset) untuk memadukan secara seimbang tiga potensi yaitu soul-mind-body, atau ruhiyah-fikriyah-jasadiah, atau dalam bahasa Yunani ethos-pathos-logos atau dalam bahasa Jawa yaitu sukmo-jiwo-rogo nilai-rasa-logika. The ESQ Way 165 juga terinspirasi oleh konsep trilogi: Ihsan-Iman-Islam, ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Hal ini semoga mampu menjawab pertanyaan besar tentang bagaimana menjaga keseimbangan SQ-EQ-IQ yang menggabungkan sufisme-filosofi-sains secara ilmiah-elaboratif dan sarat sentuhan spiritual-transendental. Untuk menjelaskan hal tersebut menggunakan ESQ Model yang menggambarkan suatu keteraturan sistem bahwa hidup harus sesuai dengan aturan alam baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Sebagai contoh dalam interaksi sosial harus sesuai dengan gerak tata surya dan gerak elektron mengelilingi inti atom. Semuanya bergerak selaras tidak menentang hukum alam. Dengan kata lain dimensi fisik harus sesuai dengan hukum alam yang tertulis dalam nurani manusia. Begitu pula di dalam ESQ model, God Spot sebagai pusat orbit dikelilingi dan dilindungi oleh 6 prinsip membangun mental dan dikelilingi oleh 5 langkah aksi, yang kesemuanya selalu dalam prinsip keteraturan dan membentuk suatu sistem keseimbangan (spiritual kosmos). Langkah untuk membangun ketiga kecerdasan manusia secara sistematis dan integral yang dinamakan The ESQ Way 165. Makna dari 165 adalah 1 hati, 6 prinsip, 5 langkah. Meskipun dalam merumuskan konsep The ESQ Way 165 terinspirasi oleh ajaran inti agama Islam yaitu Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam, namun sesungguhnya 165 adalah metode universal untuk membangun SDM. Tidak mungkin pribadi, organisasi, lembaga, maupun negara berjalan tanpa nilai. Tidak mungkin perusahaan dibangun tanpa visi dan misi tanpa karakter, tanpa pengendalian, tanpa sinergi dan aksi nyata. Ini adalah model yang dapat digunakan oleh siapapun dari berbagai golongan maupun agama apapun untuk membangun sebuah sistem baik dalam organisasi, lembaga, perusahaan, maupun negara. 165 juga bermakna nasionalisme yang berarti berlandaskan dasar negara Pancasila yang lahir pada tanggal 1 bulan 6 tahun 45. The ESQ Way 165 adalah penggabungan antara Spiritualisme dan Nasionalisme sehingga mampu melahirkan pribadi yang senantiasa cinta illahi dan tanah air. Enam tahun sudah ESQ melangkah. Pada awalnya, memperkenalkan konsep The ESQ Way 165 ini dengan melakukan peluncuran buku "ESQ:Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual" pada tahun 2001. Bedah buku dan ceramah dari tempat ke tempat, dengan bantuan sound system dan multimedia yang sederhana, saya paparkan konsep ESQ. Kami terus berkeliling menyebarkan konsep ini secara cuma-cuma. Namun dengan cara seperti ini banyak menemui kendala. Dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, peserta selalu berganti, sehingga tidak pernah bisa menuntaskan materi yang terdiri dari 12 modul. Penyampaiannya pun dirasakan kurang efektif, karena peserta hanya paham materi namun belum mampu menemukan esensinya. Mereka paham dalam tataran logika tapi belum mampu merasakan dengan hati. Karena itu akhirnya merombak metode penyampaian yang tadinya ceramah menjadi training selama tiga hari penuh. Ruangan yang kami gunakan dihiasi bintang-bintang, sound system 30.000 watt dan multimedia ruang angkasa, agar peserta dapat merasakan sebuah pengalaman spiritual. Ada kisah menarik dari Dr Sheikh Muszaphar angkasawan Malaysia, satu-satunya orang Melayu yang pergi ke angkasa. la terpilih dari 11000 orang. Ketika turun ia tersenyum bahagia dan berkata, "Di angkasa saya menemukan jati diri saya. Selama ini saya mencarinya dengan pergi ke Kamboja, Afghanistan, untuk kegiatan kemanusiaan, namun saya selalu merasakan kekosongan yang tidak saya mengerti. Di Angkasa saya melihat keindahan ciptaan Tuhan hingga menyentuh saya secara spiritual. Saat ini saya tidak lagi melihat hal kecil dalam kehidupan, saya bicara kemiskinan, kemelaratan, perdamaian dan persoalan dunia yang kini menjadi rumah saya." Itulah efek yang ditimbulkan dalam training ESQ, sehingga peserta dapat merasakan sebuah pengalaman spiritual (spiritual experience) melalui perjalanan ruang angkasa, dengan demikian manusia tidak lagi berpikir hal-hal kecil namun menjadi rahmat bagi semesta (Rahnmtan lilAlamin). Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali lmran 190-192). q - s. *) Ary Ginanjar Agustian, Pendiri ESQ Leadership Center Jakarta dan Pencetus Training Model ESQ. Tulisan ini Ringkasan Pidato Penganugerahan Doktor HC di UNY
<<pixel.gif>>
