HARIAN ANALISA
Edisi Sabtu, 22 Desember 2007 

Deforestasi Hutan Jambi Terjadi Sejak 1970 

Jambi, (Analisa) 

Laju deforestasi atau penyusutan hutan Jambi untuk kepentingan ekonomi seperti 
perkebunan, serta perambahan dan pembalakan liar telah terjadi sejak 1970. 

Padahal sebelum itu hutan Jambi masih amat baik atau berkisar empat juta 
hektar, namun akhir 1970-an tinggal 2,2 juta hektar, kata Gubernur Jambi 
Zulkifli Nurdin pada pembekalan perempuan untuk memberdayakan hutan di Jambi, 
Jumat. 

Hingga pada 2000-an tutupan hutan tinggal seluas 1,6 juta hektar termasuk empat 
taman nasional yang ada di daerah itu yakni TN Kerinci Seblat, TN Berbak, TN 
Bukit Dua Belas, dan TN Bukit Tiga Puluh. 

Dampaknya kini menjadi persoalan baru yang menyentuh seluruh sendi kehidupan, 
baik dalam jangka pendek maupun jangka penjang. 

Meningkatnya jumlah marginalisasi lahan dan lahan kritis juga berdampak 
terhadap kuantitas dan kualitas produksi sejumlah komoditas. 

Masalah sumber daya air dan daerah aliran sungai (DAS) juga muncul seperti 
banjir dan kekeringan yang mengganggu aktivitas sosial ekonomi masyarakat. 

Selain itu diikuti pula kian menurunnya keanekaragaman hayati, berkurangnya 
habitat satwa liar dan ladang perburuan Orang Rimba atau suku anak dalam (SAD). 

Dampak kerusakan hutan tersebut terimbas mewabahnya berbagai penyakit yang 
mengganggu kesehatan masyarakat. 

Untuk mempertahankan hutan Jambi yang masih tersisa itu, Zulkifli mengimbau 
para bupati agar lebih selektif menerbitkan izin pemanfaatan kayu (IPK). 

"Saya minta para bupati agar berhati-hati dan selektif menerbitkan IPK kalau 
tidak ingin berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," ujar

Kirim email ke