http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007122402460416

      Senin, 24 Desember 2007 
     

      BURAS 
     
     
     

Budaya Malu ala Jepang! 


       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "APA kesan terpentingmu tentang Jepang selama berkunjung ke negeri ini?" 
tanya Edi menjelang kepulangan Edo ke Tanah Air.

      "Heran saja!" jawab Edo. "Bagaimana warga sebuah bangsa bisa seragam 
dalam disiplin, sehingga kota-kota dan permukiman mereka di desa serbabersih 
dan rapi, lalu-lintas tertib sekali, tak ada orang kebut-kebutan atau menyalip 
di jalan, hak orang lain sesama pemakai jalan dihormati tanpa kecuali pejalan 
kaki, pengendara sepeda dan orang catat! Untuk semua itu, aku tak pernah 
melihat polisi lalu-lintas di jalan, kecuali polisi biasa berjaga di posnya 
dengan sepeda dinas tercagak di luarnya!"

      "Itu hanya masalah nilai!" jawab Edi. "Ada satu nilai yang tertanam kuat 
pada mereka, yakni budaya malu! Mereka malu kalau dilihat orang menyerobot 
antrean di mesin penjualan karcis kereta api! Mereka malu kalau terlihat kerja 
bermalas-malasan, bahkan para arbeto--pekerja paro waktu--selalu berusaha 
menunjukkan produktivitasnya tak kalah dari para pekerja regular! Mereka malu 
kalau ada orang bergumam 'tak berbudaya' ketika ia membuang sampah di kotak 
yang salah untuk botol, plastik, dan sampah lain-lain!"

      "Apakah di kantor-kantor pemerintah disiplin kerjanya juga begitu?" kejar 
Edo.

      "Itu yang terlewatkan, aku lupa membawamu jalan ke kantor pemerintahan!" 
sambut Edi. "Waktu aku mengurus KTP ke kantor catatan sipil, semua orang 
kulihat sibuk di tempat kerjanya! Tak ada yang santai membaca koran atau 
ngobrol! Begitupun, ketika melihat aku di depan pintu, seorang petugas datang 
berbungkuk di depanku menanya apa yang bisa dibantu dan melayaniku sampai 
selesai!"

      "Mungkin mereka tak suka baca!" sela Edo.

      "Mereka rajin membaca koran, majalah atau buku! Itu dilakukan di rumah 
atau di kereta api! Saat di tempat kerja, konsentrasi mereka sepenuhnya pada 
pekerjaan!" jelas Edi. "Bukti mereka rajin membaca, koran-koran harian 
nasional, Asahi Shimbun, Yomiuri Shimbun, dan Mainichi Shimbun, masing-masing 
oplahnya di atas lima juta eksemplar sehari! Tradisi membacanya bukan hanya di 
kota-kta besar, di kota kecil seperti Gifu punya koran lokal, Gifu Shimbun 
umurnya sudah lebih 130 tahun! Berarti terbit sejak Restorasi Meiji, awal 
industrialisasi Jepang!"

      "Kembali soal budaya malu, apa sih intinya, hingga orang yang malu gagal 
dalam tugas sampai harakiri--bunuh diri?" tanya Edo.

      "Pada lubuk terdalam budayanya, orang Jepang percaya ada hukum 
karma--balasan atas semua perbuatannya di dunia ini juga, yang bisa dialami 
dirinya atau keluarganya!" jelas Edi. "Jadi, selain secara sosial malu berbuat 
tidak pada tempatnya, mereka takut kalau hal-hal buruk yang dia lakukan pada 
orang lain berimbas menimpa keluarganya! Misalnya, kalau dia remehkan hak orang 
cacat, keluarganya bisa cacat lebih buruk dari orang yang dilecehkannya!"

      "Berarti kita tak bisa seperti mereka karena kita tak mengenal hukum 
karma!" tegas Edo. "Yang cenderung terasa malah hukum rimba--survival of the 
fittest--hanya yang terkuat berhak hidup! Dengan hukum seperti itu, 
mengecundangi hak orang lain dianggap bukan hal yang memalukan!" *
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke