http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=318999

Jumat, 28 Des 2007,


Indonesia Rawan Pangan


SEBUAH publikasi dari Badan PBB untuk Urusan Pangan dan Pertanian (FAO) tak 
banyak memantik perhatian publik. Padahal, laporan resmi itu sangat memiriskan 
hati. Apa itu? Indonesia termasuk salah satu negara yang terancam rawan pangan.

Agak aneh memang, negara agraris yang sejak merdeka memiliki basis sektor 
pertanian yang kuat, ke depan bisa kekurangan pangan. Namun, inilah warning 
bahwa kita sedang menghadapi problem yang sangat serius.

Tentu, tidak perlu lagi diperdebatkan apakah laporan dari badan dunia tersebut 
akurat atau tidak. Sebab, pasti itu merupakan hasil sebuah studi mendalam. Itu 
adalah peringatan dan pemerintah harus mengambil kebijakan-kebijakan strategis 
di bidang pangan dan pertanian.

Laporan FAO tersebut tak hanya membuat kita terbelalak akan sebuah kenyataan 
yang dua dekade lalu tak pernah kita bayangkan bisa terjadi. Laporan itu juga 
sangat memalukan kita sebagai bangsa.

Negara besar ini, negara kepulauan ini, dan negara yang gemah ripah loh jinawi 
ini, rakyatnya terancam kelaparan. Mungkin tidak seekstrem itu karena kita bisa 
mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam. Tapi, sampai berapa lama kemampuan 
impor kita itu ketika sektor-sektor yang lain juga mulai bergantung pada 
pasokan dari luar negeri?

Yang juga memalukan adalah Indonesia sejajar dengan negara-negara miskin 
seperti Timor Leste, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, Haiti, Nikaragua, 
Jamaika, dan Chechnya. Apa yang sudah dilakukan pemerintah selama 62 tahun 
merdeka untuk mengembangkan sektor pertanian?

Indonesia menjadi negara rawan pangan tentu bukan karena keterbatasan alam 
seperti Timor Leste atau Sri Lanka, tapi karena mismanajemen. Ada kesalahan 
kebijakan, strategi, dan iktikad baik untuk mengembangkan sektor strategis 
tersebut. 

Sektor pertanian di Indonesia seperti anak tiri. Petani tidak lagi menjadi 
salah satu pilar dalam pemberdayaan ekonomi. Sektor tersebut mulai ditinggalkan 
karena memang leverage-nya sangat terbatas. Petani kalah oleh tengkulak gabah. 
Jadi, sektor pertanian tak mungkin lagi bisa menjadi penopang ekonomi warga.

Pemerintah memiliki Bulog (Badan Usaha Logistik) yang memiliki tugas untuk 
stabilisasi harga. Namun, langkah-langkah yang diterapkan Bulog sering tidak 
pada momentum yang tepat. Ujung-ujungnya, eksistensi lembaga itu tak pernah 
berpihak kepada petani, tapi justru menguntungkan para tengkulak tersebut.

Menteri Pertanian Anton Apriantono langsung merespons laporan FAO tersebut. Dia 
mengajak departemen pemerintah yang lain untuk siaga dan mengambil langkah 
strategis mengantisipasi warning FAO itu. Hanya, kebijakan-kebijakan tersebut 
pasti tidak fundamental dan hanya bersifat tambal sulam. Indonesia butuh lebih 
dari sekadar respons, juga reformasi struktural dalam bidang pertanian dan 
pangan

Kirim email ke