http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/04/sh01.html

Kemiskinan Meluas Akibat Bencana 

Oleh
Web Warouw/Yuyuk Sugarman/Chusnun Hadi



Jakarta - Bencana banjir, gelombang pasang, dan tanah longsor yang terjadi 
beberapa minggu terakhir ini di beberapa wilayah Indonesia sangat berpotensi 
menambah angka kemiskinan. Pemerintah perlu memberikan kemudahan untuk 
mendapatkan modal usaha bagi para korban musibah tersebut.
Demikian rangkuman pendapat Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN) Donny 
Pradana dan pakar pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Irham, 
yang dihubungi SH, Jumat (4/1) pagi. 
Sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal 
Bakrie menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjalankan program pengentasan 
kemiskinan. "Kita akan prioritaskan pada daerah paling miskin dan daerah yang 
terkena bencana," kata Aburizal. Donny Pradana mengingatkan bahwa kaum tani dan 
nelayan kehilangan harta benda dan lahan pekerjaan karena lahan pertanian rusak 
dan nelayan tidak bisa melaut karena gelombang pasang. 

Akibatnya, bencana kali ini semakin meluaskan kondisi kemiskinan di desa-desa. 
"Maka pemerintah perlu memberikan bantuan langsung jangka pendek dan 
mempermudah rakyat mendapatkan modal usaha kecil dan menengah dalam jangka 
panjang," kata Donny. 
Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah penduduk miskin 
sebelum bencana alam terakhir sebesar 37,17 juta orang atau 16,58%, diantaranya 
23,61 juta terdapat di pedesaan. Kalau pemerintah lambat mengatasi persoalan 
ini, kaum miskin di pedesaan akan bermigrasi ke kota besar, dan ini dapat 
menambah jumlah pengangguran dan peminta-minta di kota besar, tutur Donny. 


Pendapat ini dibenarkan oleh Ketua Umum Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK) Marlo 
Sitompul yang mengatakan meningkatnya migrasi ke kota akan menambah risiko 
sosial politik. Namun di sisi lain, menurut Marlo, selama ini masyarakat sulit 
memperoleh kredit usaha kecil dan menengah dari bank, sebab syarat untuk 
mendapatkan kredit, calon debitor harus memiliki modal usaha Rp 100 juta. 
Mengenai sulitnya memperoleh pekerjaan di perkotaan juga disoroti oleh Ketua 
Umum Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Dominggus Tobu Kiek. 
Menurut penilaiannya, menjadi buruh di perkotaan tidak mudah sebab sistem buruh 
kontrak dan outsourcing justru melemahkan posisi kaum buruh. "Saat ini, 
industri Indonesia semakin merosot karena pengusaha mematok upah 
serendah-rendahnya agar tetap mendapatkan untung besar," kata Dominggus.

Asuransi Pertanian 
Prof Dr Ir Irham, pakar pertanian UGM yang juga dihubungi SH, menekankan banjir 
bandang jelas-jelas merugikan sektor pertanian. Kerugiannya bukan hanya pada 
production loss tetapi juga merusak lahan, jaringan irigasi, dan jaringan 
distribusi. "Ini pada akhirnya ini akan membawa dampak inflasi karena akan 
timbul kelangkaan pangan. Ini akan menjadikan kemandirian kita di bidang 
pertanian semakin jauh," katanya. 


Irham mengisyaratkan banjir kali ini mengakibatkan production loss lebih dari 
30%. Ia berpendapat ke depan pemerintah harus menerapkan asuransi pertanian 
dimana pemerintah yang menanggung preminya. "Dengan begitu, para petani akan 
menjadi tenang dan mempunyai kepastian bisa bercocok tanam lagi tanpa harus 
pusing memikirkan modal." Pola memberikan asuransi pertanian ini sudah 
dilakukan oleh Iran maupun India dan negara-negara ma-ju. Menurut Irham, banyak 
sekali dana pendampingan yang bisa dipakai untuk asuransi pertanian. Namun, ia 
tidak setuju jika untuk mengatasi kelangkaan pangan pemerintah melakukan impor 
beras secara terus-menerus. 


Senada dengan Irham, staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah 
Yogyakarta (UMY), Gunawan Budianto, juga mengingatkan bahwa pemerintah sering 
terjerumus dalam kebijakan impor beras.  Kebijakan impor beras membawa dampak 
sosial, politik dan ekonomi, serta dapat berakibat fatal dalam jangka panjang. 
Amien Widodo, peneliti bencana dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya 
(ITS), mengatakan bencana banjir akibat luapan Bengawan Solo yang terjadi di 
beberapa daerah di Jawa Timur sebenarnya merupakan bencana tahunan, tetapi 
antisipasi pemerintah terhadap bencana tersebut masih belum maksimal.


Ia menambahkan berbagai peringatan telah diberikan oleh lembaga terkait, 
seperti Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), bahwa dalam beberapa tahun 
terakhir ini curah hujan dan volume air terus meningkat. Meski demikian, 
instansti terkait tidak langsung menyiapkan berbagai keperluan evakuasi seperti 
perahu karet dan perlengkapan pengungsian. "Setelah banjir terjadi, baru 
bingung mencari perahu karet," katanya.


Gubernur Jawa Timur Imam Utomo mengatakan, meski sekitar 24.781 hektare sawah 
di 14 kabupaten terendam banjir, diyakini hasil produksi pertanian di Jatim 
tidak terganggu. Pihaknya memikirkan kerugian petani yang telah bersusah payah 
menanam padi. 
"Areal sawah produksi di Jatim sekitar 1,68 juta hektare, sehingga tidak 
terlalu berpengaruh saat 24.000 hektare lebih sawah terendam banjir. Apalagi 
rata-rata tanaman padi yang terkena banjir baru berumur beberapa minggu, 
sehingga bisa ditanami lagi. Hanya saja kita akan memikirkan kerugian para 
petani," kata Imam Utomo.


Pihaknya yakin pada tahun ini Jawa Timur tetap terjadi surplus beras. Pada 
tahun 2006 lalu, surplus beras di Jatim mencapai 2,43 juta ton dari produksi 
5,87 juta ton. Tahun 2007 lalu, surplus beras lebih dari 3 juta ton dari 
produksi 6,8 juta ton beras

Kirim email ke