http://www.tempointeraktif.com/hg/luarnegeri/2008/01/15/brk,20080115-115524,id.html

Suku Malaysia Gugat Penghancuran Gereja
Selasa, 15 Januari 2008 | 20:09 WIB 

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Temiar, satu dari 18 suku pedalaman yang 
disebut Orang Asli di Malaysia, menggugat pemerintah negeri jiran itu atas 
penghancuran gereja mereka, yang mereka klaim dibangun di tanah leluhur mereka 
sendiri.

Menurut pengacara mereka, N. Subramaniyan, pemerintah Negara Bagian Kelantan 
telah merobohkan gereja itu pada Juni tahun lalu, tak lama setelah anggota suku 
Temiar membangunnya di kampung pedalaman mereka.

Kepala kampung dan tiga warga lain menuntut pemerintah setempat, yang dikuasai 
Partai Islam Se-Malaysia (PAS), untuk mengakui bahwa tanah itu milik mereka dan 
penghancuran itu merupakan tindakan melanggar hukum.

Kasus ini seharusnya mulai disidangkan hari ini, tapi pengadilan menundanya 
hingga Mei setelah kedua pihak mengajukan argumen mereka masing-masing secara 
tertulis.

Azlan Abdul Halim, pejabat yang mewakili pemerintah Kelantan, mengatakan gereja 
itu secara ilegal di bangun di tanah nagara dan penduduk kampung mengabaikan 
peringatan untuk menghentikan pembangunan.

"Berdasarkan hukum, setiap bangunan harus mendapat izin pemerintah. Tak peduli 
apakah bangunan itu gereja atau rumah. Ini tak ada kaitannya dengan agama," 
kata Azlan.

Orang Asli, yang jumlahnya kurang dari 1 persen dari total 27 juta penduduk 
Malaysia, tergolong warga termiskin di sana. Kebanyakan dari mereka masih 
menganut animisme dan hidup di dalam atau dekat hutan.

Pastur Moses Soo dan kelompok misionaris Kristennya membantu warga kampung 
Temiar membangun gereja. Dia menuduh pemerintah Kelantan melakukan diskriminasi 
terhadap Kristen.

"Sebelumnya tak ada yang mengunjungi mereka (suku Temiar) sama sekali, tapi di 
saat kami mulai membangun gereja, pejabat jawatan keagamaan datang," katanya.

Pemerintah setempat membangun sebuah balai komunitas untuk menggantikan gereja 
itu. Tapi, "Penduduk tak mau balai itu. Mereka mau gereja," kata Soo.

| AP | IWA

Kirim email ke