http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0801/17/daerah/4171326.htm

 
Pascarekonstruksi
200.000 Pekerja Terancam Menganggur 




Yogyakarta, Kompas - Setelah tahap rehabilitasi serta rekonstruksi pascagempa 
di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah selesai, jumlah pengangguran terancam 
meningkat. Tim Teknis Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah 
Pascabencana Gempa Bumi DI Yogyakarta memperkirakan, 200.000 pekerja 
rekonstruksi di Yogyakarta dan Jawa Tengah akan menganggur setelah pembangunan 
rumah korban gempa bumi selesai. 

"Mereka berpotensi kehilangan pekerjaan dan tidak bisa terserap. Total dana Rp 
5,4 triliun dari pemerintah ternyata tidak begitu saja bisa menggerakkan sektor 
ekonomi riil," ujar Sekretaris Tim Teknis Nasional Danang Parikesit, Rabu 
(16/1). 

Ketua Tim Teknis Nasional Soetatwo Hadiwigeno menambahkan, pemulihan di bidang 
ekonomi merupakan masalah yang kompleks. Sektor yang punya kemampuan besar 
menyerap tenaga kerja adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Strategi penanganan 

Danang menjelaskan, jumlah pengangguran tersebut akan terus meningkat dengan 
cepat jika tidak ada strategi penanganan yang tepat. Pemerintah kabupaten dan 
pemerintah kota diimbau terus memberikan perhatian penuh bagi pemulihan UMKM. 
"Upayakan terus pemulihan UMKM," ujarnya. 

Dampak sosial dari gempa yang terjadi pada awal tahun 2006 hingga kini masih 
terus dirasakan. Survei serta pengumpulan data Tim Teknis Nasional menunjukkan, 
37 persen anak yatim piatu akibat gempa kini masih duduk di bangku pendidikan 
dasar, sedangkan 16 persen lainnya masih belum masuk sekolah. Di Bantul, 
teridentifikasi 1.508 penderita cacat. 

Saat ini program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah telah memperoleh kemajuan 
fisik yang cukup baik. Sebanyak 86,7 persen dari sampel rumah telah memenuhi 
kaidah tahan gempa di atas 70 persen. "Masih ada beberapa rumah yang belum 
memenuhi kaidah tahan gempa. Kami berharap perbaikan bisa dilakukan secara 
swadaya oleh masyarakat," kata Danang menambahkan. 

Penyalahgunaan dana rehabilitasi dan rekonstruksi, lanjutnya, juga harus 
ditangani secara transparan. Umumnya, penyalahgunaan terjadi pada tingkat 
kelompok penerima bantuan

Kirim email ke