http://www.gatra.com/artikel.php?id=111417


2008, Tahun Sandera Politik SBY


Memasuki tahun 2008, diperkirakan suhu politik nasional semakin panas. Tidak 
berlebihan, dua tahun sisa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf 
Kalla (JK) ini dikategorikan sebagai "tahun politik". Masing-masing elite 
berikut kelompoknya akan semakin sibuk melakukan manuver dalam rangka 
menampilkan diri untuk merebut kursi legislasi, termasuk perebutan kursi 
presiden dan wakil presiden.

Dalam kondisi seperti itu, hubungan SBY dengan JK dan SBY dengan sebagian 
anggota kabinetnya besar kemungkinan akan mengalami pergesekan. Mengapa? 
Pertama, posisi JK dengan gerbongnya yang berasal dari Partai Golkar akan 
semakin berkonsentrasi pada upaya menggalang kekuatan dukungan rakyat untuk 
memenangkan pemilu legislatif pada April 2009.

Pada saat yang sama, para menterinya yang berasal dari parpol yang berbeda 
dengan SBY akan semakin berkonsentrasi dengan agenda konsoliadasi dan perolehan 
dukungan suara legislatif untuk partainya. Di antara anggota kabinet Indonesia 
bersatu (KIB) sekarang ini terdapat dua ketua umum partai, yakni PPP (Menkop 
dan UKM Surya Darma Ali) dan PBB (Menhut MS Kaban), dan sebagian besar menteri 
lainnya berasal dari parpol.

Kesemua menteri, yang merupakan fungsionaris dan atau kader parpol, akan 
tersedot sebagian besar energinya untuk membesarkan parpolnya. Sebab, hanya 
dengan modal parpol itulah mereka kelak bisa survive. Sehingga dengan 
sendirinya sudah pasti pula konsentrasinya terhadap tugas-tugas pokok di 
kementriannya akan terhambat.

Atau, besar kemungkinan, agenda kementerian yang dipimpinnya akan disusupi oleh 
kepentingan parpol, dengan, antara lain, proyek yang diarahkan kepada kader 
atau jaringan partai untuk mengumpulkan dana politik menghadapi 2009. Ini 
artinya, tahun 2008 dan 2009, korupsi politik (political corruption) akan 
semakin menjamur dan dilakukan serta dinikmati secara berjamaah.

Rongrongan dari dalam yang (akan) dilakukan oleh para pembantu presiden itu 
akan semakin merepotkan SBY ketika para figur pesaingnya dalam perebutan kursi 
nomor wahid tahun 2009 nanti sudah mulai bermanuver. Sejumlah figur potensial 
yang mengincar posisi capres saat ini sudah muncul di permukaan, seperti 
Megawati Sukarnoputri, Wiranto, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Sutiyoso.

Kondisi seperti itu tentu tidak menguntungkan SBY, akan menjadikannya serba 
salah dalam bertindak, tersandera oleh kondisi politik yang ada. Mengapa? 
Pertama, dengan membiarkan para menterinya sibuk dengan agenda parpol 
masing-masing akan berimplikasi pada anjloknya kinerja atau prestasi 
kepemimpinan SBY secara keseluruhan.

Sementara itu, menekan, apalagi menghentikan sebagian dari mereka (reshuffle), 
akan menciptakan musuh baru dalam menghadapi 2009, termasuk di dalamnya akan 
dilakukannya pembusukan sistematis terhadap SBY sendiri. Apa boleh buat, sebuah 
risiko dari pilihan politik yang melibatkan para menteri dari parpol.

Kedua, sorotan dari kalangan oposisi akan sulit diredam. Soalnya, konsentrasi 
SBY juga tidak akan terfokus pada perbaikan kinerja, melainkan hanya akan 
meng-counter kritikan secara retorik, tanpa bisa melakukan perubahan konkrik 
secara signifikan. Watak SBY sendiri, yang kompromistis atau tidak tegas, akan 
menjadi komoditas politik yang memungkinkan terus dieksploitasi oleh para lawan 
politiknya.

Ketiga, SBY bukan mustahil akan terjebak dengan manuver politik yang dilakukan 
oleh para pesaingnya. Para pesaing yang akan gencar melakukan kampanye ke 
masyarakat itu bukan mustahil menjadikan SBY ikut terpancing mengikuti irama 
mereka. Kalau SBY terjebak, maka kemungkinan akan mengikuti pola yang sama 
dalam kemasan yang berbeda, dengan cara melakukan kunjungan seremonial di 
masyarakat.

Padahal, kalau itu dilakukan sudah pasti bukan saja tak menjawab permasalahan, 
melainkan sekaligus akan menjadi sasaran kritik karena, antara lain berdampak 
pada pemborosan dengan tingkat ketersedotan anggaran negara dalam berbagai 
acara seremonial itu. Maka, lagi-lagi, kalau ini terjadi, hanya akan menjadikan 
publik yakin dengan agenda kampanye negatif dari para pesaing politiknya.

Lalu apa yang harus dilakukan SBY untuk keluar dari penyanderaan politik itu? 
SBY berada dalam posisi sulit. "Mundur kena, maju pun kena." Namun, kalau masih 
ingin survive dalam pemilihan presiden tahun 2009 nanti, ia harus berani 
melakukan terobosan strategis yang bisa menjadikan publik percaya serta lawan 
dan pengaruh pesaing politiknya pun lemah.

Pertama, SBY perlu mengedepankan agenda kerakyatan, yakni program pembangunan 
yang bisa menyentuh langsung kebutuhan dan kepentingan rakyat yang mendesak. 
Agenda ini harus dikoordinasikan secara langsung dengan penyelenggara 
pemerintahan di daerah, sekaligus melakukan koordinasi intens dengan mereka.

Kedua, SBY perlu memberikan peringatan dini kepada para menterinya dalam rangka 
memperkuat komitmen untuk lebih konsentrasi pada tugas kementerian. Hal ini 
memang sangat tidak mudah, karena setiap anggota kabinet yang politisi pasti 
telah menetapkan agenda sendiri menghadapi 2009.

Ketiga, SBY harus memperkuat pengawasan melekat terhadap para menterinya, dalam 
rangka mengantisipasi atau memperkecil peluang korupsi politik seperti yang 
sudah dijelaskan di atas.

Laode Ida
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI
[Kolom, Gatra Nomor 10 Beredar Kamis, 17 Januari 2008] 

<<27.jpg>>

Kirim email ke