http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9917

Minggu, 27 Jan 2008,


Lagi, Pesawat DAS Jatuh di Kaltim 


Tiga Awak Tewas 
SAMARINDA - Kabar duka kembali menyelimuti dunia penerbangan tanah air. 
Kemarin, pesawat Cassa-212 milik PT Dirgantara Air Service (DAS) jatuh di 
kawasan Sungai Barang, sekitar 8 kilometer dari Long Ampung, Malinau, 
Kalimantan Timur (Kaltim). Saat ditemukan, tiga awak pesawat tewas. Mereka 
adalah Kapten Pilot H Sumiskun, Kopilot Clifort Watimena, dan awak kabin bagian 
mekanik, Darsono. 

Sebelum jatuh, pesawat bernomor register PK-VSE dan mengambil rute Tarakan-Long 
Ampung itu sempat kehilangan kontak. 

Manajer PT Dirgantara Air Service (DAS) Area Indonesia Timur Ramly Effendi 
Siregar ketika dikonfirmasi membenarkan terjadinya musibah tersebut. Dia 
menceritakan, pesawat yang mengangkut material untuk proyek pembangunan listrik 
di Long Ampung itu take off pukul 08.10 Wita dari Bandara Juata Tarakan. 

Pukul 09.35 Wita, kata Ramly, seharusnya sudah mendarat di Tarakan. "Namun 
setelah ditunggu cukup lama, ternyata pesawat itu tidak segera mendarat di 
landasan Long Ampung. Setelah itu, kami kehilangan kontak," ujar Ramly. 

Dia menambahkan, sempat ada sinyal tanda bahaya alias emergency lighting 
detector (ELD) dari pesawat tersebut. Sinyal sempat menyala dan tertangkap 
radar Bandara Juata Tarakan. "Posisi sinyal terakhir yang bisa ditangkap adalah 
di sekitar Sungai Barang-Long Ampung. Tepatnya 43 nautical mil (NM/mil laut) 
dari Long Ampung," paparnya. 

Dia mengakui, sebelum penerbangan, cuaca di kawasan tersebut sempat hujan. 
Namun, ketika pesawat itu hendak mendarat di Long Ampung, dilaporkan kondisi 
cuaca cukup baik dengan jarak pandang mencapai 5 kilometer. 

Penerbangan tersebut bukan penerbangan reguler atau penerbangan berjadwal, 
melainkan penerbangan ekstra karena membantu pemerintah mengangkut material 
pembangkit listrik. "Rencananya, ya hanya terbang satu kali itu saja," sebutnya.

Begitu dapat informasi kehilangan kontak, pihak DAS, kata Ramly, langsung 
berkoordinasi dan meminta bantuan kepada misi penerbangan Mission Aviation 
Fellowship (MAF) beserta Badan SAR Tarakan untuk mencari pesawat di lokasi 
terakhir ditemukannya sinyal tanda bahaya. Dua pesawat Cessna milik MAF itu pun 
segera melakukan pencarian sejak pukul 13.00 Wita kemarin. 

Saat ditemukan tim Search and Rescue (SAR), kondisi pesawat sudah hancur total 
dan dinyatakan total lost. Sayap kanan pesawat patah dan terbakar. Pilot dan 
kopilot ditemukan sudah tidak bernyawa, begitu pula mekaniknya. Lokasi jatuhnya 
pesawat adalah di kawasan perbukitan. 

Pesawat yang sudah puluhan tahun, tepatnya sejak 1998, malang melintang di 
udara Kaltim itu dipastikan tidak bisa lagi dievakuasi mengingat sulitnya 
menjangkau lokasi kejadian. 

"Kami anggap ini sebagai cobaan," kata Ramly yang hingga sore kemarin masih 
cemas menunggu kabar terakhir soal pesawat itu. 

DAS kemarin berencana mengirimkan armada tambahan untuk melakukan evakuasi dan 
meneliti sebab-sebab kecelakaan pesawat tersebut. Namun karena cuaca di lokasi 
buruk, maka penerbangan pun dibatalkan dan harus ditunda hari ini. 

Menurut rencana, hari ini, DAS akan mengirimkan satu armada Britten Norman (BN) 
2A dari Samarinda untuk membantu evakuasi. Selain itu, satu pesawat Cassa 212 
milik DAS akan diberangkatkan dari Tarakan untuk membantu proses evakuasi. 

Rencananya, hari ini seluruh korban dievakuasi ke Balikpapan. "Dari Long 
Ampung, akan dikirim ke Balikpapan," katanya. Jenazah pilot dan kopilot akan 
dikirim ke Jakarta karena keduanya memang berasal dari Jakarta. Sedangkan 
jenazah Darsono, mekanik DAS, akan dikirimkan ke Tarakan, daerah asalnya. 

Kecelakaan Didominasi Penerbangan Perintis 

Dalam tujuh tahun terakhir, kecelakaan pesawat di Kalimantan Timur (Kaltim) 
lebih banyak menimpa pesawat untuk rute penerbangan perintis. Khusus pesawat 
milik Dirgantara Air Service (DAS), kecelakaan sudah beberapa kali terjadi. 

Pertengahan 2000, pesawat BN-2A milik Pemprov Kaltim mendarat darurat di Desa 
Data Dawai, Kutai Barat. Semua penumpang pesawat berkapasitas 8 tempat duduk 
tapi diisi 16 orang itu selamat. Pesawat tersebut "mampu" menampung 16 orang 
karena penumpang tidak lagi menggunakan bangku, tetapi duduk lesehan. 

Pada Juli 2002, pesawat milik Pemprov Kaltim yang dioperasikan PT Borneo Air 
Transport (BAT) jatuh dalam penerbangan dari Tarakan ke Long Bawan, Kecamatan 
Krayan, Nunukan. Dalam musibah itu, sembilan orang tewas dan satu orang luka 
ringan. 

Pada 7 November 2002, pesawat jenis dan tipe yang sama juga jatuh di sekitar 
Bandara Juata Tarakan yang menewaskan 7 orang. 

Kemudian, pada 9 September 2005, pesawat DAS juga jatuh di Lapangan Sofbol GOR 
Segiri Samarinda. Untungnya, awak pesawat saat itu masih bisa tertolong meski 
mengalami luka berat. 

Di pengujung 2006, awan hitam juga menyelimuti dunia penerbangan di Kaltim. Dua 
kali berturut-turut, kecelakaan menimpa pesawat terbang perintis di lokasi yang 
sama yakni lapangan terbang Long Layu, Nunukan. 

Pesawat Airvan GA 8 milik Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) dengan registrasi 
PK-VMD mengalami kecelakaan di lapangan terbang Long Layu Nunukan, Selasa, 26 
Desember 2006. 

Kecelakaan yang sama menimpa pesawat Britten Norman Islander (BN) 2A dengan 
registrasi PK - VIN, milik PT Dirgantara Air Service (DAS), yang tergelincir 
Sabtu, 30 Desember 2006 lalu. 

Manajer DAS Area Kaltim Ramly Effendi Siregar menyebutkan, khusus untuk pesawat 
Cassa 212, baru kali ini terjadi kecelakaan. Yang lebih sering adalah pesawat 
BN 2A. Disinggung mengenai kondisi pesawat yang dioperasikan DAS di Kaltim, 
menurut Ramly, saat ini terdapat 5 pesawat Cassa dan 3 pesawat BN, termasuk 
yang hilang kemarin. Seluruh pesawat itu menjalani perawatan berkala setiap 100 
jam dan 3.600 jam. "Setiap 100 jam terbang, pesawat harus istirahat 3 hari 
untuk menjalani perawatan. Sementara untuk perawatan 3.600 jam, pesawat harus 
istirahat total selama 2 bulan," katanya. 

Menyusul kecelakaan yang terjadi kemarin, diakuinya kontrol keselamatan untuk 
tiap pesawat lebih diperketat. Disinggung mengenai usia pesawat, menurut Ramly, 
rata-rata pesawat Cassa yang dimiliki sudah berusia 10 tahun lebih karena sudah 
beroperasi di Kaltim sejak 1993. Bahkan, pesawat BN-2A usianya jauh lebih tua, 
yakni 20 tahun. "Tapi dengan perawatan berkala, kondisi pesawat seluruhnya 
masih laik jalan," imbuhnya. Khusus pesawat Cassa yang hilang kemarin, sudah 
beroperasi di Kaltim sejak 1998. 

Dia menyebutkan, jadwal itu tidak akan mengganggu penerbangan lainnya. Karena 
akan didatangkan pesawat Cassa 212 dari Banjarmasin untuk memperkuat armada di 
Kaltim.(eff/jpnn

Kirim email ke