http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008012901011917

      Selasa, 29 Januari 2008 
     
      BURAS
     
     
     
     
Sisa-Sisa Obsesi Pak Harto! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:



      "PAK Harto wafat dengan menyisakan sebuah pekerjaan besar--salah satu 
obsesinya, yang ternyata tidak tuntas dia lakukan selama 32 tahun 
berkuasa--penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam bernegara-bangsa dan dalam 
kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia!" ujar Umar. "Tanpa kecuali obsesi itu 
dikukuhkan dalam Tap MPR Tahun 1978 tentang P4-- Pedoman Penghayatan dan 
Pengamalan Pancasila--dan dia menatar langsung di Istana Bogor ribuan orang 
ideolog dengan standar berlabel Manggala!"

      "Obsesi Pak Harto itu berakar pada kenyataan saat ia menyelamatkan negara 
dari kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Gerakan 30 September dipimpin 
Kolonel Untung dan D.N. Aidit!" sambut Amir. "Dari situ terbukti faktor 
ideologi amat penting bagi kelanjutan eksistensi Negara Kesatuan RI. Hal itu 
diperkuat lagi dengan rekomendasi Seminar TNI AD 1966, satu-satunya pilihan 
bagi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaannya adalah melaksanakan 
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen! Sekaligus, itulah legitimasi 
kekuasaan rezim Orde Baru di bawah Pak Harto, terutama dalam membersihkan 
negara dari komunis dan ideologi lain di luar Pancasila!"

      "Namun, semua itu kini tinggal kenangan! Andai pun masih ada 
sisa-sisanya, relatif tidak efektif lagi artinya dalam kehidupan masyarakat 
bangsa!" timpal Umar. "Semangat 37 butir nilai Pancasila yang dimasyarakatkan 
lewat permainan simulasi P4 hingga ke RT/RW, makin kabur tersapu individualisme 
yang terus menguat! UUD 1945 tidak murni lagi karena telah empat kali 
diamendemen, bahkan, TNI yang mengidealkan kemurnian UUD 1945 tersingkir dari 
arena politik praktis!"

      "Semua itu sebenarnya tidak terlepas dari dua 'pilihan berani' rezim Pak 
Harto guna menciptakan kemajuan yang cepat--obsesinya yang lain!" tegas Amir. 
"Pertama, membuat UU Penanaman Modal Asing (UU No. 1/1967). Kedua, memasang 
satelit Palapa (1974) sekaligus menerapkan kebijakan sistem informasi langit 
terbuka--hingga kini, Malaysia dan Singapura belum berani melangkah serupa!"

      "Uni Soviet, belum satu dekade Gorbachev menerapkan glasnost (sistem 
informasi terbuka), pecah jadi belasan negara baru!" timpal Umar.

      "Itu dia! Meski secara struktural rezim Orde Baru menggunakan stelsel 
militer dan segala bentuk kepanjangan tangan kekuasaannya untuk 
mengoperasionalkan Pancasila dan mengekang ideologi lain, modal asing yang 
didatangkan itu membawa perangkat (teknologi dan sistem operasi) yang 
dilatarbelakangi ideologi tertentu--dalam hal ini kapitalisme!" tegas Amir. 
"Demikian pula satelit komunikasi dengan sistem informasi terbuka yang 
difasilitasinya adalah perangkat yang diciptakan ideologi bernama demokrasi 
liberal! Jadi, apa pun yang secara struktural dilakukan rezim Orde Baru di atas 
permukaan, di bawah permukaan atau dalam realitas kehidupan masyarakat, 
invisible hand paduan kapitalisme dan demokrasi liberal justru bekerja lebih 
efektif! Tanpa disadari, meski secara formal di permukaan kekuasaan Orde Baru 
menjalankan sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila, di bawah permukaan yang 
efektif menggelinding justru kapitalisme liberal!"

      "Berarti, sisa-sisa obsesi Pak Harto bukan pada sisi de jure atau formal 
pengamalan Pancasila hasil P4!" timpal Umar. "Tapi pada de facto, kapitalisme 
dan demokrasi liberal yang justru menjadi realitas kekinian kita!" ***
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke