http://www.suarapembaruan.com/News/2008/03/25/Nasional/nas01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Otsus Papua Dinilai Lamban 

Dino: Data Kongres AS Tidak Akurat

[JAKARTA] Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menyatakan sikap anggota 
Kongres Amerika Serikat (AS) terlalu stereotip dan arogan. Surat sejumlah 
anggota Kongres AS yang dikirim ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait 
masalah Papua dinilai hanya berasal dari sumber sepihak. 

Saat dihubungi SP, Selasa (25/3), Dino mengatakan surat itu terkesan 
dipengaruhi oleh lobi Papua dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing yang 
anti-Indonesia. Mereka selalu memberikan gambaran yang tidak akurat soal Papua. 

"Data-data yang dimiliki LSM itu sudah ketinggalan. Gubernur Barnabas Suebu 
bahkan sudah berkeliling desa untuk membagikan dana terkait otonomi khusus 
(otsus). Dana tersebut pun diolah secara akuntabel. Presiden Yudhoyono pun 
mempunyai langkah percepatan pembangunan Papua, baik itu di bidang pendidikan, 
kesehatan, dan infrastruktur," kata Dino. 

Dikatakan, di dalam Kongres AS pun ada dua kubu, yang pro dan anti-Indonesia. 
Dino juga tidak menerima usulan agar penyelesaian masalah Papua dibantu oleh AS 
dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Perlu diingat bahwa Indonesia adalah 
negara berdaulat. Masalah Papua bukan masalah PBB. Apa iya, masalah dalam 
negeri negara kita harus mereka yang selesaikan?" tanya Dino. 

Sementara itu, Departemen Luar Negeri akan melakukan pendekatan persuasif 
melalui lobi kepada Kongres Amerika Serikat (AS) terkait persoalan di Papua. 
"Semua instansi terkait nanti akan terlibat dalam lobi tersebut," ujar Dirjen 
Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri (Deplu) Eddy Pratomo. 

Nantinya, tambah Eddy, Deplu akan menjawab dan memberikan penjelasan kepada Eni 
FH Faleomavaega, Ketua Subkomite Asia, Pasifik, dan Lingkungan Global, Kongres 
AS, terkait masalah otsus Papua itu. Eni memang mengakui kalau Papua masuk 
dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. 


Kecewa 

Surat Kongres AS yang dikirim ke Presiden Yudhoyono dan salinannya diterima SP 
beberapa hari lalu ditandatangani oleh Eni dan Donald M Payne, Ketua Subkomite 
Afrika dan Kesehatan Global, Kongres AS. Dalam surat tertanggal 5 Maret 2008 
itu, sejumlah anggota Kongres mengungkapkan kekecewaan terhadap Pemerintah 
Indonesia atas lambannya implementasi otsus Papua. 

Mereka juga kembali mendesak Pemerintah Indonesia untuk menjalin kerja sama 
dengan Kongres AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar otsus Papua bisa 
berjalan dengan baik. 

Persoalan lain yang disoroti Kongres AS adalah pelanggaran HAM di Papua. 
Kongres AS mempersoalkan keberadaan aparat keamanan di sana. Bahkan, mereka 
juga mengirimkan kopi rekaman video pengalaman anggota Kongres AS dengan 
anggota TNI. Rekaman video itu juga dikirim ke Menteri Pertahanan AS Robert 
Gates, Menlu AS Condoleezza Rice, dan Kaukus Hitam Kongres AS. 

"Papua sama dengan kalian (warga negara lainnya). Mereka butuh pendekatan 
dengan hati tulus, butuh pendidikan, serta menginginkan kehidupan yang bebas 
dan menyenangkan. Mereka tak ingin diperlakukan seperti binatang, dikelilingi 
barikade kekuatan polisi dan diselimuti ketakutan akan adanya penembak 
terselubung," ujar Eni dalam surat itu. 

Sementara itu, anggota Komisi I DPR Yoris Raweyai menilai dalam surat tersebut 
ada indikasi provokatif. Untuk itu dia meminta pemerintah menanggapinya, karena 
surat itu dapat berimplikasi politik luas. 

Menurut Yoris, pernyataan surat Kongres AS bahwa pemerintah masih memperlakukan 
warga Papua seperti binatang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. 

"Tapi, surat itu harus dilihat juga sebagai ajang di mana komitmen Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono harus jelas terkait masalah di Papua," ujarnya. 
[ASR/O-1] 


Last modified: 25/3/08 

Kirim email ke