======================================  
  THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
  [ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]  
  =======================================
  [Ec_Q]
   
  BANK KAUM MISKIN
   
  Belajar dari : 
  Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
  Memerangi Kemiskinan
   
  Oleh : Muhammad Yunus
  Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
  Bersama Alan Jolis
   
  08. Jalan Boxirhat No. 20, Chittagong [2]
   
  Tahun 1947, saat usia saya 7 tahun, “Gerakan Kemerdekaan Pakistan” mencapai 
puncaknya. Bagian wilayah India yang berpenduduk mayoritas Muslim berjuang 
untuk menjadi negara Muslim merdeka. Kami tahu bahwa Chittagong akan bergabung 
dengan Pakistan karena mayoritas penduduknya Muslim. Tetapi kami tidak yakin 
mana saja wilayah Muslim Bengala lainnya yang akan bergabung atau bagaimana 
tepatnya garis perbatasan akan ditarik.
   
  Perdebatan mengenai masa depan Pakistan merdeka di antara rekan dan kerabat 
berlangsung terus tiada henti di Jalan Boxirhat 20. Kami semua menyadari 
Pakistan akan menjadi negara paling aneh karena wilayah barat dan timurnya 
terpisah oleh wilayah India yang berjarak 1.600 km lebih. Ayah saya, seorang 
Muslim saleh, punya banyak teman dan kolega beragama Hindu yang datang ke rumah 
kami. Saat masih kecil pun saya sudah merasakan adanya rasa saling curiga di 
antara kedua kelompok agama ini. Di radio saya sering mendengar terjadinya 
kerusuhan ganas antara orang Hindu dan Muslim, tetapi hal itu jarang terjadi di 
Chittagong.
   
  Orang tua kami sangat berkomitmen terhadap rencana pemisahan dengan India. 
Saat adik saya Ibrahim mulai bisa bicara, ia menyebut gula putih yang ia 
senangi sebagai “gula Jinnah” dan gula merah yang tidak disukainya sebagai 
“gula Gandhi.” Mohammed Au Jinnah adalah pemimpin gerakan pemisahan Pakistan 
dan Gandhi, tentunya, ingin seluruh India tetap bersatu. Di malam hari ibu 
menyisipkan Jinnah, Gandhi, dan Lord Louis Mountbatten ke dalam dongeng-dongeng 
sebelum tidur. Meski usianya baru 10 tahun, kakak saya Salam ingin seperti anak 
lelaki tetangga yang lebih tua, membawa-bawa bendera hijau bergambar bulan 
sabit dan bintang putih di jalanan sambil meneriakkan, “Pakistan Zindabad” 
(“Hidup Pakistan”).
   
  Pada malam 14 Agustus 1947, anak benua India yang berada di bawah kuasa 
kolonial Inggris selama hampir dua abad memperoleh kemerdekaannya. Saya ingat 
peristiwa itu seperti baru kemarin terjadi. Seluruh kota berhiaskan bendera dan 
umbul-umbul hijau putih. Di luar saya bisa mendengar gema pidato-pidato politik 
yang seringkali ditingkahi dengan teriakan, “Pakistan Zindabad.” Tengah malam, 
jalanan penuh sesak manusia. Kami nyalakan kembang api dari atap rumah. Saya 
bisa melihat siluet tetangga-tetangga di sekitar kami yang menyaksikan langit 
malam dipenuhi kilatan cahaya kembang api. Seisi kota berdenyut penuh 
kegembiraan.
   
  Menjelang tengah malam, ayah mengajak kami turun ke Jalan Boxirhat. Meski 
bukan aktivis politik, beliau bergabung dengan Garda Nasional Liga Muslim 
sebagai sikap solidernya. Malam itu ayah dengan bangga mengenakan seragam Garda 
lengkap dengan “peci Jinnah” yang khas itu. Bahkan adik kecil saya Ibrahim yang 
berusia 2 tahun dan Tunu yang masih bayi ikut bersama kami malam itu. Tepat 
tengah malam, listrik dimatikan dan seluruh kota diliputi kegelapan. Sesaat 
kemudian, listrik kembali menyala dan kami sudah menjadi negara baru. Gelegar 
slogan diteriakan berulang-ulang dan setiap sudut kota Chittagong: “Pakistan 
Zindabad! – “Hidup Pakistan”!
   
  “Hidup Pakistan” - Pakistan Zindabad! Saya berusia 7 tahun saat itu dan 
inilah suntikan pertama kebangaan nasional yang saya rasakan dalam denyut nadi 
saya. 
   
  Sungguh memabukkan!
   
   
  [ bersambung ]
   
   
  The Flag
  Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
  ERDBEBEN Alarm


    
  SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

  Retno Kintoko Hp. 0818-942644
  Aminta Plaza Lt. 10
  Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
  Ph. 62 21-7511402-3 
   


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke