Refleksi: Syarat agama yang dianjurkan penulis sebagai obat mujarab perbaikan 
ekonomi, patut dicatat bahwa selama ini sayat agama tidak memberi bukti dapat 
membawa mayasarkat keluar dari kemiskinan dan ketakutan represi pihak berkuasa. 
Silahkan lihat pada keadaan negara-negara yang berazaskan agama bagaimana 
tinkat kehidupan rakyat. Sayarat hanya bisa berlaku pada masyarakat miniatur 
zaman bahula, bukan pada zaman interdependent dan komplex dalam kondisi dunia 
seperti dewasa ini. Negeri-negeri di Europa pada abad sebelem dan abad 
pertengahan berazaskan agama, tetapi tidak membawa perubahan fundamentil pada 
kehidupan rakyat dan oleh karena itu telah lama ditinggalkan.

http://www.banjarmasinpost.co.id/Opini_Publik/Cabut_Subsidi_Minyak_Tanah_=_Kegagalan_Pemerintah.html


      Cabut Subsidi Minyak Tanah = Kegagalan Pemerintah
        
      Kamis, 27-03-2008 | 00:35:15  
      Ketidakberdayaan pemerintah dalam mengayomi rakyatnya, akibat sistem dan 
individu penguasa yang sangat bermasalah.

      Orang miskin dilarang hidup di Negara Indonesia. Pernyataan ini bukan 
tanpa alasan. Lihat kebijaksanaan yang diambil pemerintah, yakni mencabut 
subsidi minyak tanah. Itu yang bakal dihadapi masyarakat.

      Pemerintah sudah menegaskan akan menarik minyak tanah bersubsidi, sekitar 
April atau Mei. Tujuannya, memperlancar program konversi dari minyak tanah ke 
gas dan menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008.

      Alasan pemerintah, harga minyak mentah di pasar dunia yang terus 
melambung sampai menyentuh angka 112 dolar AS per barel. Jika keadaan itu 
dipertahankan, maka jelas membuat angka subsidi di APBN membengkak yakni sampai 
di atas Rp 100 triliun. Pilihan itu diambil setelah pemerintah berjani tidak 
akan menaikkan harga premium (bensin). Mengingat, konsumsi minyak tanah lebih 
besar daripada bahan bakar lainnya. Konsekuensinya, harga minyak tanah di pasar 
berada pada kisaran Rp 8.000 per liter.

      Untuk menutup ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan harga BBM, maka 
digulirkan program konversi minyak tanah ke tabung gas (elpiji) sejak tahun 
2006. Padahal jika pemerintah sedikit arif dalam menyikapi penaikan harga 
minyak dunia, tidak seharusnya mengorbankan subsidi minyak tanah. Efek penaikan 
harga minyak tanah pasti akan mematikan industri rumah tangga, yang menjadikan 
minyak tanah sebagai bahan bakar utama. Jika mereka bertahan, pasti berimbas 
pada penaikan harga sembako.

      Ada apa sebenarnya di balik naiknya harga BBM dunia yang dijadikan 
kambing hitam oleh pemerintah. Menurut Hidayatullah Muttaqin (www. 
Jurnal-ekonomi.org), ada tiga penyebab terjadinya penaikan harga dan kelangkaan 
BBM, yaitu: teknis, spekulatif, politik ekonomi.

      Pertama, faktor teknis. Kelangkaan BBM terjadi karena suplai BBM 
bersubsidi berkurang, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan lokal dan 
nasional. Berkurangnya suplai BBM disebabkan adanya program konversi minyak 
tanah ke gas LPG dan terjadinya goncangan harga minyak dunia.

      Kedua, faktor spekulatif yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. 
Di dalam negeri adanya BBM bersubsidi dan BBM tidak bersubsidi untuk industri, 
menyebabkan disparitas harga. Misalnya berdasarkan harga yang ditetapkan 
Pertamina per 15 Desember 2007 untuk wilayah I, solar bersubsidi Rp 4.300 per 
liter dan nonsubsidi mencapai Rp 8.235 per liter. Perbedaan harga ini 
menyebabkan terjadinya pasar gelap BBM. Akibatnya, sebagian pasokan BBM untuk 
masyarakat pada tahap distribusi diselewengkan ke industri. Apalagi tingkat 
penaikan harga BBM nonsubsidi pada Desember ini lebih 21 persen.

      Dalam pengamatan saya, yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari 
penaikan harga minyak dunia bukan negara eksportir minyak tetapi perusahaan 
pemilik ladang eksplorasi dan industri pengilangan minyak serta broker 
(spekulan).

      Ketiga, faktor politik ekonomi, sangat menentukan penguasaan dan harga 
minyak dunia. Faktor itu pula yang menyebabkan spekulasi lokal dan 
internasional, serta suplai yang tidak berimbang di tingkat nasional. Di 
Indonesia sejak Orde Baru, pemerintah meliberalisasi sektor hulu (upstream) 
migas sehingga hampir 90 persen produksi minyak Indonesia dikuasai asing. 
Pascareformasi, pemerintah dan DPR kebablasan dengan mengeluarkan UU Migas No 
22 Tahun 2001.

      Liberalisasi sektor hilir (downstream) migas itu mendorong pemerintah 
untuk menaikkan harga BBM dengan cara mengurangi subsidi guna menarik investor 
asing. Sangat jelas sekarang, penyebab utama adalah ketidakberdayaan pemerintah 
menghadapi konspirasi asing dan swasta. Ketidakberdayaan pemerintah dalam 
mengayomi rakyatnya, akibat sistem dan individu penguasa yang sangat bermasalah.

      Di tengah krisis ekonomi yang menghimpit masyarakat saat ini, menaikkan 
harga BBM adalah tindakan sangat sewenang-wenang, zalim, dan tidak memedulikan 
kesulitan yang diderita masyarakat. Pemerintah tidak menunjukkan dirinya 
sebagai sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk melindungi dan mengatur 
kesejahteraan rakyatnya.

      Sikap seperti itu sama dengan menelantarkan dan menyengsarakan rakyatnya 
sendiri. Padahal menurut Syariat Islam, minyak beserta turunannya seperti 
bensin, gas juga listrik ditetapkan sebagai milik umum. Berdasarkan sabda 
Rasulullah SAW: Manusia berserikat (punya andil) dalam tiga hal yaitu air, 
padang rumput dan api.

      Negara seharusnya memberikannya cuma-cuma kepada rakyat. Kalaupun 
terpaksa harus memungut harga dari rakyat, maka itu sebatas pengganti biaya 
produksi dan distribusi. Jadi, saatnya mengganti sistem pemerintahan yang telah 
nyata gagal mengurusi rakyat. Sistem itu adalah Syariat Islam yang akan 
mengatur seluruh aspek kehidupan bernegara. Syariat Islam tidak hanya mengatur 
muslim, tapi juga nonmuslim.

      Untuk nonmuslim, perkara ibadah dan makanan mereka tidak akan disentuh 
oleh Syariat Islam. Sungguh Syariat islam adalah rahmat seluruh alam. Indonesia 
akan lebih baik dengan Syariat Islam, Insya Allah. Wallahualam.



      Oleh:
      Muhammad Ahsanul Huda SPd
      HTI Kota Banjarmasin
      e-mail: [EMAIL PROTECTED] Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, 
Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya 
     

Kirim email ke